Satu Dasawarsa
Satu dasawarsa:
menghias kantung mata
Dahulu kita tersesat,
pada taman kata-kata
Dalam lagu-lagu:
yang tak tersenandungkan
Lewat gairah-gairah:
yang tak terlampiaskan
Setelahnya kita merampas dingin,
dari tirai malam
Menyoal manuskrip lidah,
yang membungkam
“Cinta kita seperti mercusuar,
tanpa jendela,”
katamu dahulu
Langit gelap pun menyapa
laron dan kunang-kunang
Pada sejarah merah jambu,
masih ada setetes gamang
Hatimu; bagaikan peta buta,
yang tak bisa aku baca
Fantasimu; seperti misteri,
yang tak pernah terduga
Kita terus mencampakkanya,
di aliran selokan
Dan dua mata kita,
tak berhenti berbicara
Menantang siang;
menggigit serpihan beton
Pemulung dan bocah koran,
cuma menonton
Aku ingin menyelam,
di samudera hatimu
Mencoba merawat
sepotong garam darinya
Sayup takdir:
mengintai dari jendela waktu
Memutus urat nafas:
dasawarsa berikutnya
Pekanbaru, 6 Juni 2021
- Puisi ini juga dimuat dalam buku Antologi Puisi “Tanah Air Puisi di Atas Purnama”, Penerbit Jendela Sastra Indonesia, Gresik, Juli 2021
Firdaus Herliansyah, seorang peminat dunia literasi yang saat ini berdomisili di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Penulis berprofesi sebagai ASN dan beberapa karyanya telah dimuat dalam beberapa buku antologi bersama. Penulis dapat dihubungi melalui Instagram: @firdausherliansyah dan Surel: firdaus.herliansyah@gmail.com Blog penulis: firdausherliansyah.wordpress.com
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com