Syair Lukisan Purnama
Dengan menyebut nama Allah
Maha Pengasih Maha Pemurah
Lentik jemari meminta hidayah
Supaya berkah dalam melangkah
Ketika bumi berdentum petir
Ilham datang menulis syair
Terbuka luang khayalan pikir
Mengajak kelana lancar mengalir
Mendekap malam terpana bintang
Pendar kerlip serata awang
Cerah melabuh hasrat sepasang
Purnama singgah ajak berdendang
Sungguh hati berkecamuk rindu
Tatap wajah melebur sendu
Kepada purnama hasrat mengadu
Bersimpuh terbuai alunan syahdu
Teringat kekasih entah di mana
Puas mencari serata buana
Jejak keliling berakhir merana
Batang hidung raib sirna
Mungkinkah cinta lukisan purnama
Hanya pandang menunggu lama
Hadir sekejap menempah nama
Sembunyi gelap awan umpama
Mengapa harus pergi menjauh
Sedang hati tersadai kayuh
Hendak gapai tangan menyentuh
Sayang malah kecewa luruh
Mata melamun mendongak pandang
Bertongkat dagu seiring bimbang
Tanpa berkedip memicing senang
Semakin susah melupa kenang
Sebalik purnama terlukis kisah
Tentang penantian bergayut resah
Entah kemana hendak diarah
Buntu pikir bertambah parah
Sampai kapan bertahan sabar
Jika ternyata berujung gusar
Tentang debar tanpa gelepar
Karena tiada tempat bersandar
Wahai purnama sampaikan pesan
Menanggung rindu tidak tertahan
Kepada kekasih bertaut pujaan
Harap bertemu sanding di peraduan
Teramat jemu menunggu pasti
Apalagi soal perkara hati
Janji terucap segera tepati
Sekarang hingga menuju mati
Lekaslah purnama tabir tersingkap
Biar jelas dapat mengungkap
Setiap malam tangisan ratap
Sedang gelora menunggu dekap
Lukisan purnama seperti mendera
Sakit menusuk berujung sengsara
Datanglah kekasih ramuan segera
Rindu mencekam menggumpal bara
Selesai syair irama bermadah
Bersama puji syukur alhamdulillah
Malam larut kantuk mendesah
Selimut tebal menutup kisah
Kelapapati, 20 Syawal 1442 H
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com