Nama T. Luckman Sinar, S.H sudah terpaut dengan buku sejarah Adat Melayu di Sumatera Utara. Ini dibuktikan beberapa kajian literasi Melayu telah diterbitkan dalam buku, jumal majalah dan surat-surat kabar di Sumatera Utara, Jakarta termasuk Asia Tenggara (Malaysia, Brunei, Thailand dan Singapura). Buku karya beliau dapat dipandang sebagai sumber rujukan dan daftar bacaan bagi penulis yang berminat mengkaji adat budaya Melayu Sumatera Utara. Buku Sari Sejarah Serdang dapat dijadikan sebagai pintu pertama bila orang ingin mengenal dan memahami sejarah adat budaya Melayu dalam konteks bermasyarakat dan bernegeri.
Salah satu warisan budaya yang penting untuk keberlangsungan dan pembentukan identitas bangsa adalah tradisi baik lisan maupun tertulis. Tradisi telah menyimpan sistem kognitif masyarakat, sumber identitas masyarakat, sebuah khazanah budaya, semacam. ensklopedis sebuah etnis. Di dalamnya. terkandung adat-istiadat, sejarah lokal tennasuk juga hal-hal yang menyangkut kesenian (Pudentia, 2001).
Dalam buku Sari Sejarah Serdang, beliau mencatat hal-hal mustahak yang cukup penting dalam pembinaan identitas kultur berbangsa. Dari penanaman modal asing kolonial sampai pembudidayaan. lebah dan turun ke sawah dibentangkan secara panjang lebar dan mencengangkan.
Sumbungan informasi buku karangan beliau sangat membantu masyarakat etnik yang ada di Sumatera Utara. Betapa tidak, dengan gaya bertutur dan berkisah T. Lukman Sinar menulis tentang identitas etnik dalam lintas kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Ia tidak hanya berbicara tentang Melayu, dan Aceh (Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu Sumatera Timur, 2006) tetapi juga India, China, Karo dan Simalungun (Forkala, 2008, 2009, 2010).
T. Lukman Sinar dalam berkelana dengan wacana sejarah sangat tertarik dengan detil-detil kecil. Terkadang ia mengutip gambaran kebencian rakyat Melayu terhadap Portugis. Pada cerita Melayu dalam lakon sandiwara “Cempaka Bim” ada diceritakan tentang tokoh Raja Bedurai Putih yang lengannya memiliki cap ukir (tatto) tujuh berhala. Gerahamnya empat serumpun Segantang makan daging dua cupak lekat di gigi. melambangkan kerakusan orang Portugis (Sari. Sejarah Serdang: 27).
Gaya penulisan beliau tak ubah seperti kata pepatah, ikan biar dapat, serampang jangan pukah Tidak mengherankan semuatebaran jaring beliau terkumpul dalam sejumlah aneka informasi dalam bentuk ‘berserabutan’ Artinya sistematika urutan. penyajian tidak seberapa dihiraukan. Tugas pembaca sesudahnya yang diharapkan untuk memilih dan memilah. sesuai dengan kajikan bidang yang akan digarap dan ditelaah.
Ketika beliau memungut informasi ten tang Pulau Berhala ia tak lupa. menceritakan Syair Tunggal Serdang dan sejarah Panglima Gurap dan Panglima Bangsat yang bertikai dengan Gubernur Belanda untuk memperebutkan penguasaan atas pulau ini.
Defenisi Melayu
Setelah pusat inperium Melayu berada di Malaka (abad 14 M) dan Parameshwara dislamkan di Pasai, sejak itu terbentuklah suatu wadah bam bagi orang Islan yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Penyebaran melalui jalur dagang ini diikuti perkawinan dengan purti raja setempat. Hal itu menyebabkan terbentuknya budaya Melayu yang berbasis agama Islam. Kemudian diikuti pembentukan kerajaan kerajaan di sepanjang kuala di pesisir timur Sumatera, Kalimantan Jayakarya (Banten) dan Indonesia Timur serta Thailand Selatan (Patani).
Sejak itu terbentuklah defenisi jatidiri Melayu. T. Lukman Sinar (1994) menulis, “Melayu yang baru tidak lagi terikat kepada faktor genealogis (hubungan darah) tetapi dipersatukan oleh faktor kultural (budaya) yang sama, yaitu kesamaan agama Islam, bahasa Melayu, dan adat-istiadat Melayu, Setiap bumiputera, juga orang pendatang seperti Jawa, Banjar, Mandailing, bahkan Cina totok, yang memeluk agama Islam, atau secara singkat, semua orang itu yang dianggap sudah berbaur dengan penduduk Melayu dan oleh karenanya sudah merupakan sebahagian dari mereka memperoleh hak milik tanah bumiputera.
Watak Melayu
Dalam buku Jati Diri Melayu (1994), T. Luckman menjelaskan, secara ‘emik’ sikap dan watak Melayu, la mengutip J C Van & Eerde (1919): orang Melayu sangat energik dan penuh keinginan kuat. Pada masal sekarang? Tidak ada lagi energik atau keinginan utuk maju di Pesisir Timur Sumatera dan mereka mengalami keadaan makin terkebelakang dan sangat sedikit mengalami kemajuan ekonomi. Sumatera Timur, wilayah paling maju karena adanya perkebunan Eropa, ternyata orang Melayu tidak meningkat. Mereka hidup sekedarmencukup kebutuhan sendiri saja. Mereka tidak mau bekerja sebagai buruh perkebunan Eropa karena malu pada cakap orang lain. Sikap mereka disebabkan tindakan despotis dari para raja, kepada mereka sehingga mereka apatis. Namun, dalam beberapa hal sifat Melayu yang dibanggakan adalah jujur dalam berdagang, berani mengarungi lautan, jarang terlibat kriminal dan taat hukum T. Luckman Sinar pernah mengutip pantun:
Tanam padi di Jawa bendang
Menanti masak bilangan tahun
Jika pandai menjadi orang
Rezeki secupak makan setahun
Daun sirih bercampur kapur
Di dalam tepak disembahkan
Kalau menunggu gelombang tidur
Sampai kiamat tak ke lautan
Pantun di atas selalu menjadi perbincangan beliau dengan penulis. ketika sudah berbicara tentang Melayu. Sikap Melayu yang progresif yang ingin maju menjadi garda depan serta mengutamakan aksi daripada wacana. Begitu ada program yang dirancang dan hal itu harus dilaksanakan. Beliau tidak mau menunggu publik di tengah jalan oleh karena jurus pemikiran harus diselaraskan dengan jurus tindakan. Sikap T. Luckman ibarat ungkapan’ jangan berbuat dengan perkataan tetapi berkatalah dengan perbuatan.
Pada makalah T. Luckman Sinar (Budaya Melayu Menghadapi Pluralisme dan Tantangan Modemitas, 2001). Beliau memaparkan pentingnya peta budaya dan adat-istiadat untuk menyelaraskan konsep konsep perencana pembangunan dengan adat-istiadat masyarakat. Hal ini menjadikan hubungan yang resiprokal yaitu proses tarik-menarik dan saling mempengaruhi untuk kesejahteraan masyarakat.
Menurut T. Luckman Sinar adal beberapa bal yang dianggap penting dalam meningkatkan partisipasi masyarakat.
1. Masyarakat Sumatera Utara sedang mengalami proses transisi dari bermasyarakat agraris menuju masyarakat era industri, Konsentrasi pembangunan daerah terpusat pada bidang pertanian, perkebunan, industri dan pariwisata.
2. Masyarakat agraris dicirikan dengan: Keterikatan kepada rotasi musim dan waktu
– Pengetahuan terhadap kekuatan supranatural
– Pola ikatan yang kuat berdasarkan solidaritas etnisitas
– Hubungan yang seimbang antara manusia dan kosmos.
3. Proses transsi ke arab modernisasi industrialisasi melahirkan sikap masyarakat
– Reaktif dalam memandang perubahan dan melihat sesuatu dengan cara pandang fanatisme etnis yang kaku dan memandang kelompok lain dengan tendensi negatif (streotipe)
– Sikap alienasi budaya, yaitu lunturnya kesadaran terhadap etnisitas dengan melarutkan diri dalam budaya kosmopolitan, sehingga ciri-ciri kebangsaan di pandang dengan sudut relativitas.
Penulis memiliki pengalaman yang menarik dengan T. Luckman Sinar. Barangkali sebuah pantun di bawah ini dapat mewakili sosok kepemimpinan sang bangsawan Serdang ini:
Mangkuk penuh, pinggan berisi
Periuk terjerang belanga berapi
Tahu unjuk, tabu memberi
Tahu bahasa, tabu berbudi
Pantun Melayu di atas (Hadi, Harlan Analisa, 2005) sangat bermakna ten tang ciri kepemimpinan. T. Luckman sebagai Pemangku Adat Kesultanan Serdang. Seorang pemimpin hendaklah memiliki harta sehingga dia tidak perlu mengusik harta orang lain. Pinggan sudah berisi dan tidak perlu mengaut isi pinggan orang lain.
Kemudian penuh berisi artinya ia mampu menyediakan dirinya dan waktunya untuk melayani orang yang dipimpinnya serta senantiasa belanganya berapi yang maksudnya rezeki dan pendapatnya tetap stabil sehinga ia dapat melaksanakan dan mengelola amanat dan tugas dengan adil dan bijaksana.
Ketika penulis bersama beliau. menghadiri forum diskusi Curah Hati Tentang Pancasila di Jakarta (DKI, 2009) Kami berdebat dengan peserta lain tentang RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi.
Bangsawan Serdang ini dengan tegas dalam Pancasila ada dua asas yang masih mengalami pergulatan sem, yakni sila Persatuan ketika masih dirobek-robek oleh pepecahan dan konflik berkepanjangan. Kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, ketika kita masih mempersoalkan HAM (Hak Asasi Manusia) dan adab. Daerah Sumatera Utara yang terkenal dalam wawasan Dunia Melayu Islam secara tegas menolak pertunjukan pomoaksi, tersebut. Dengan gaya humor T. Luckman Sinar mengajak hadirin untuk mewaspadai, ‘budaya pantang silap, yang menjurus kepada sikap dan tindakan berbau erotis, pornoaksi dan pornografi Budaya penting silap adalah sebuah pencurian kaidah -kaidah norma-norma agama dan adat kepada budaya westernisasi yang tak sesuai dengan budaya Melayu Islam. Demikian pernyataan T. Luckman Sinar.
Dari cuplikan pemikiran beliau di atas sangat releven dengan masyarakat Madani (masyarakat yang mengekspresikan idealisme yang bertamadun abad ke-21). Dengan bersumber dari semangat tersebut masyarakat madani (Al-Madinat yang mengisyaratkan tamadun perkotaan yang disinari petunjuk Illahi), dapat dibebaskan. dari sekularisme yang menjadi ciri civil society yang bebas, demokrasi, dan menjamin hak serta martabat kemanusian (Fadhil, 2002).
Tun Sri Lanang Serdang
Tokoh T. Luckman Sinar sebagai penulis tentang sejarah dan adat budaya/Melayu telah menghasilkan 108 catatan penting tentang narasi Kemelayuan dalam. Konteks Keindonesiaan sebagai penulis, pemerhati, pengamat narasumber, dan pelaku sejarah. Kemudian ada lebih kurang 40 judul buku dan 215 makalah yang dibentangkannya dalam berbagai forum diskusi, simposium, seminar dan sarasehan budaya.
Penulisan buku dan berbagai makalah itu secara tersirat dan tersurat. mempunyai tujuan sebagaimana kata beliau “guna mewariskan dan melestarikan adat budaya Melayu kepada anak cucu agar adat budaya itu tidak hilang dicuri orang asing” (2007) Ketekunan dan kegigihannya untuk melestarikan dan menulis berbagai ragam wacana Kemelayuan itu tak ubah seperti tokoh Tun Sri Lanang (bendahara Raja Melaka) di masa dahulu yang menulis. Kitab Sejarah Melayu. (1612) Meskipun berbagai polemik muncul (Iskandar, 1996) yang melibatkan peneliti asing seperti Winstedt, Wilkinson, Liau Yock Fang yang meragukan Tun Sri Lanang sebagai pengarang asli Sejarah Melayu. Namun, dalam konteks makalah ini wajar kiranya T. Luckman Sinar ditabalkan sebagai “Tun Sri Lanang dari Serdang” yang sikap dan tanggungjawab serta literasi adat dan budayanya mengingatkan orang kepada penulis legendaris Melayu Tun Sri Lanang.
Penulis Ketua Satupena Sumatra Utara