Tasbih Muhasabah: Puisi Imas Mulyati

Demi mentari pada subuh berselimut kabut
dan sinarnya redakan murka;
ada ratap sendu pada jiwa-jiwa, bertakhta.
Pagi ini, nurani tegarku t’lah ampuni diri nan renta
berbalut carut.

Demi langit Ramadan dengan gelimang berjuta pahala
dan bintangnya redupkan nafsu;
ada rintih merdu pada sukma-sukma, bergumul.
Malam ini, sanubari suciku t’lah luluskan raga nan lusuh
berkalang nista.

Demi alur mengalun pada nadi A bermarkah
dan alirnya sebarkan merah menagak muara jantung;
ada sesal pilu menembus atma-atma tersandung.
Hari ini, hati sabarku t’lah relakan jasad nan lancung
dalam tasbih muhasabah

Bekasi, 3 April 2025

Imas Mulyati. Kelahiran Garut, 25 Mei 1971 adalah seorang Pengawas SMA pada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Karya tunggalnya adalah Untukmu Negeriku, Catatan Cinta Rakyat Jelata (kumpulan esai pendidikan); 2025; Gejolak Rasa, ISBN: 978-623-7837-75-6; 2024; Amorphophallus ISBN: 978-623-7837-81-7; 2024; dan Fenomena Bahasa Indonesia: Permasalahan, Pembelajaran, Penilaian, dan Pendeteksian Kecurangan dalam Ujian, ISBN: 978-602-60391-9-4; 2017. 

Comments (0)
Add Comment