Merujuk pada teori ekologi sastra, yakni sebuah cara pandang memahami persoalan lingkungan hidup dalam perspektif sastra. Atau sebaliknya, bagaimana memahami kesastraan dalam perspektif lingkungan hidup. Alam dijadikan sebagai suatu jembatan bagi pengarang dan penulis karya sastra, alam tidak sekedar sebagai latar, dapat pula dijadikan ide pokok atau tema dalam karya sastra. Sastrawan memanfaatkan alam untuk dijadikan sebuah karya sastra yang indah, terlihat misalnya pada pemilihan diksi sungai, laut, air, langit, pepohonan, akar, dan diksi lain yang berkaitan dengan alam.
Serimbun Puisi Hijau yang menceritakan tentang alam “Membaca Laut Pada Kampung yang Hilang” ini menceritakan keresahan hati seseorang tentang kondisi alam dan lingkungan yang sedang tidak baik-baik saja. Di ramu dalam kekayaan diksi bahasa lokal masyarakat Melayu mendekatkan pembaca pada kondisi alam yang coba diceritakan dalam untaian baris puisi yang kaya akan dimensi waktu. Menceritakan nostalgia masa lalu, keadaan saat ini dalam pergolakan rasa pedih, sedih, pilu, muak, gejolak amarah sampai semangat perlawanan, hal ini terdapat pada larik
Bersama riak kecilnya yang melendir
pada kayu penyanggahnya
Rapuh!
(menunjukkan sikap sedih dan kecewa)
Puisi “Di Pelatar Tua” halaman 12
Pun dikobarkan penyair sebagai bentuk merawat harapan terhadap sebuah impian masa depan akan kondisi alam yang lebih baik. Terdapat dalam larik puisi “Doa Sesayat Ranting” halaman 14
Pada benih kecil merekah bahagia
Aku rindu hijaumu …
Lirihku pada sepenggal kisah panjang
Tentang perjalanan akar
Menyembullah …
Tumbuhlah …
Muncullah …
Menunjukkan harapan penulis agar alam kembali asri seperti sebelumnya.
Dalam kajian ekologi sastra, buku serimbun puisi “Membaca Laut Pada Kampung yang Hilang” sepenuhnya berbicara tentang lingkungan dan alam, terkhusus kondisi alam yang tidak lagi seimbang. Diksi dan majas yang digunakan pun sederhana dan cukup mudah dipahami oleh pembaca karena banyak mengunakan kata-kata sederhana yang sering digunakan dalam keseharian.
Penulis mencoba mengajak pembaca untuk merenungi ketidakseimbangan yang terjadi pada alam. Memberi celah pada pemikiran pembaca untuk merawat bumi dari hal-hal kecil dan sederhana.
10 November 2023