Sejuta kenangan itu telah sirna
Jejak telah menjadi pudar dan hirap
Pada kelukaan menjadi nestapa
Biarkan saja aku menatap
Kemarin sudah sepakat
Kita akan bersama hingga akhir hayat
Namun kenapa kamu berkhianat
Setelah aku banyak berbuat
Apakah kamu memilih dia
Sedangkan aku hanya sebagai pelarian saja
Mungkin itu alasannya
Mengapa kamu memilih pergi bersamanya
Aku pun hanya bisa melihat realita
Membuat aku sakit dan luka
Biarkan saja bebas bersamanya
Aku takkan melarangnya lagi
Pemikiran dia memang untuk kesenangan semata
Bukan untuk ibadah sepanjang masa
Hanya menginginkan maksudnya
Memang aku tak seperti pria itu
Yang kau kusukai
Hobinya jalan-jalan dan berfoya-foya
Tak memikirkan masa depan nanti
Sungguh sangat-sangat tidak pantas dipertahankan
Bahkan layak ditinggalkan
Susah diatur dan berani melawan
Biarkan aku memutuskan untuk perpisahan
Memang dia itu memandang fisik dan materi saja
Cewek seperti itu tak layak dijadikan istri
Karena terlalu menyakitkan hati
Mungkin dia takkan pernah bertaubat hingga mati
Entah, aku hanya bisa mengelus dada
Dan melawan arus
Aku tetap jalan lurus
Pada kehidupan penuh fatamorgana
Aku menyelesuri sunyi
Merenungi nasib ini
Tak ada kesempatan lagi
Untuk melawan realita dan drama
Termenung di awal kesendirian
Adalah hal yang paling epik
Meski kadang banyak omongan
Membuat aku dianggap tak baik
Ada-ada saja omongan orang-orang
Padahal tak mengetahui dan merasakan apa yang aku rasakan
Hingga mereka nekat berbicara seperti itu
Aku hanya terdiam dan mendengarkan saja
Menanggapi pun takkan pernah percaya
Lebih baik dengarkan saja
Lalu aku pergi meninggalkannya
Ah, entahlah
Brebes, 22 November 2024
Muhammad Thohir/Tahir (Mas Tair) yang dikenal dengan nama pena Kang Thohir, kelahiran Brebes, Jawa Tengah. Dari dusun/desa Kupu, kecamatan Wanasari. Dari anak seorang petani dan tinggal dari kehidupan sehari-hari bertani, berkebun, menanam bawang merah, padi, kacang, pare, cabai dan sayur-sayuran di ladang sawahnya. Kini, aku sedang menggeluti dunia tulis menulis atau literasi, khususnya sastra Indonesia. Suka menulis sejak duduk di bangku kelas empat SD dan sampai masuk ke Pondok Pesantren. Aku masih tetap aktif menulis dan semakin semangat ‘tuk menulis baik puisi maupun cerpen dan lain sebagainya yang aku tulis. Selain menulis aku juga suka membaca buku agar bisa bermanfaat untuk menambah wawasan (pengetahuan).