UIR Kembangkan Teknologi Tepat Guna Paludikultur Endemik Lokal bagi Kelompok Tani Sungai Apit Kabupaten Siak

SUNGAI APIT- TIRASTIMES: Provinsi Riau dikenal memiliki kawasan lambut cukup luas mencapai 5,09 juta hektar. Lahan seluas ini pada prinsipnya dapat dimanfaatkan tanpa menganggu fungsi ekosistem gambut tersebut dengan penerapan teknologi tepat guna. Salah satu teknologi tersebut adalah Paludikultur Endemik    lokal.

Atas dasar potensi lahan gambut yang luas itulah maka Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Islam Riau (UIR) melakukan kegiatan lanjutan Bimbingan Teknis Penerapan Teknologi Tepat Guna Paludikultur Endemik Lokal yang ditujukan bagi Kelompok Tani Tunas Jaya Desa Parit II Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak, 18 Oktober 2022. Kegiatan ini dibiayai melalui Hibah PKM Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Tahun 2022. Tim PKM diketuai Dr. Elfis dengan anggota Dr. Prima Wahyu Titisari dan Dr. Syarifah Faraddinna. Kegiatan ini dilaksanakan sejak bulan Juli hingga Desember 2022. Kegiatan pengabdian ini dibuka oleh Ketua Kelompok Usaha Bersama Berembang Asri Kecamatan Sungai Apit, Hanifa Sidik, S.Pd.

Ketua Tim PKM, Elfis menjelaskan,
Dalam kegiatan ini, Kelompok Tani Tunas Jaya (KTTJ) yang menjadi sasaran kegiatan pengabdian ini bermukim di Desa Parit I/II Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak yang bergerak di bidang tanaman sawit dan karet di hamparan lahan gambut. Dalam hal ini Tim PKM UIR mengajak kelompok tani tersebut untuk mengkombinasikan tanaman sawit dan karet  dengan subtitusi tumbuhan paludikultur yang mempunyai nilai ekonomi dan konservasi tinggi yaitu jenis kayu Punak, Blangeran, Pulai, Nyatoh, Jelutung, Mahoni, Sengon serta tanaman budidaya Pinang, Pisang dan Sukun.

“Sistem Paludikultur yaitu budidaya tanaman pertanian maupun perkebunan dengan menggunakan jenis-jenis tanaman rawa atau tanaman lahan basah yang tidak memerlukan adanya drainase air gambut,” kata Elfis.

Sementara anggota Tim PKM, Prima Wahyu Titisari menyatakan pemulihan ekosistem gambut meliputi teknik/tata cara restorasi tata air (rewetting) serta teknik rehabilitasi vegetasi baik pada daerah-daerah dengan fungsi lindung maupun fungsi budidaya. Beberapa cara yang sesuai dan direkomendasikan seperti pengembangan budidaya tanaman yang tidak memerlukan drainase adalah

Selanjutnya Prima Wahyu menambahkan, sistem Paludikultur dapat memanfaatkan lahan rawa gambut secara produktif dengan cara-cara yang melindungi gambut. Paludikultur merupakan alternatif pengelolaan lahan gambut yang bertanggungjawab. Produk-produk paludikultur dapat menyediakan komoditas yang meliputi pangan, pakan, serat dan bahan bakar, serta bahan baku industri.

Pada kesempatan yang sama, Syarifah Farradinna menyatakan metode yang digunakan dalam kegiatan ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu Tahap sosialisasi; bertujuan untuk mengenalkan program pengmas kepada mitra. Pada sosialisasi akan dijelaskan mengenai tujuan pelaksanaan pengmas, keuntungan bagi mitra, tata cara pelaksanaan dan bentuk kerjasama yang ditawarkan. Tahapan pemberian bantuan; pada tahapan ini tim pengabdian akan memberikan bantuan berupa pembuatan penyekatan saluran serta pembuatan demplot serta bibit tumbuhan dan tanaman paludikultur endemik lokal. Tahapan penyuluhan dan Pelatihan; pada tahapan ini tim pengabdian memberikan penyuluhan berupa pembuatan penyekatan saluran, pembuatan demplot paludikultur tumbuhan dan tanaman paludikultur endemik lokal.

Ketua Kelompok Tani Tunas Jaya, Bambang yang menjadi mitra kegiatan ini  menyatakan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini telah mampu memberi perubahan anggota kelompok tani baik jangka pendek maupun jangka panjang tentang manfaat penerapan teknologi tepat guna paludikultur endemik  lokal untuk subtitusi kebun sawit dan karet agar bisa mendapatkan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi sambal menjaga hamparan gambut tetap baik. (Nas/Wid)

Uir
Comments (0)
Add Comment