Pekanbaru-Tirastimes: Yayasan Universitas Abdurrab meresmikan Rumah Adat Riau Abdurrab Malay Heritage Gedung Raja Ahmad Tengku Haji Tua Bin Raja Haji Fisabilillah.
Peresmian rumah adat bermotif Melayu ini ditandai dengan penguntingan pita oleh Pembina Yayasan Abdurrab Dr dr Susiana Tabrani MPd dan Ketua Yayasan Abdurab dr Irvan Tabrani MKes didampingi Rektor Universitas Abdurrab Prof Susi Endriani SSi, Sabtu (27/8/2022).
Rumah Adat Riau Abdurrab Malay Haritage Gedung Raja Ahmad Engku Haji Tua Bin Raja Haji Fisabilillah terletak di Komplek Kampus 2 Kedokteran Universitas Abdurrab, Jalan Bakti Pekanbaru. Berdiri dua tingkat dengan luas bangunan 18m x 22 meter (396 meter persegi)
Turut hadir Gubernur Riau yang diwaliki Kepala Dinas Kebudayaan Riau, Raja Yoserizal Zein, tokoh masyarakat, Ok Nizami Jamil, para Wakil Rektor Universitas Abdurrab, Dekan, Ketua Prodi di lingkungan Universitas Abdurrab dan kepala sekolah di bawah naungan Yayasan Abdurrab serta tamu lainnya.
“Ayah kami berpesan, bantulah Riau. Bantulah orang Melayu. Orang Melayu itu sangat perlu dibantu. Mereka miskin-miskin di daerahnya sendiri.”
Ungkapan ini disampaikan dr Susiana Tabrani, M Pd, menirukan ucapan ayahandanya, Prof dr Tabrani Rab, pada acara peresmian Riau Abdurrab Malay Heritage dan Rumah Adat Raja Ahmad Engku Haji Tua bin Raja Haji Fiilsabilillah di lingkungan Kampus-2 Unirab di Jalan Bakti, Pekanbaru, Sabtu (27/8).
Untuk membantu Riau dan orang Mrlayu, kata Pembina Yayasan Abdurrab ini, ayahnya menyekolahkan semua anaknya jadi dokter, kemudian mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. “Dengan cara inilah membantu orang Melayu. Lewat pendidikan dan kesehatan. Melahirkan orang-orang berpendidikan, cerdas dan kuat.”
Lalu mengapa dengan kebudayaan dan rumah adat? Menurut Susiana, itulah juga bagian dari ayahnya yang suka seni dan sangat kukuh dengan kebudayaannya.
Menurut Susiana, dia ingin membangun kawasan Unirab Kampus-2 ini sesuai dengan keinginan ayahnya, Tabrani Rab, yang meninggal 14 Agustus lalu, dan dimakamkan di samping Masjid At Tabrani, masih di kawasan kampus-2.
Apa yang diinginkan ayahandanya? Inilah Kata Susi, memadukan sains (pendidikan), agama dan budaya menyatu dan berkembang dalam satu wadah. “Jadi jangan heran bila kawasan ini dibangun rumah adat Melayu sebab ini adalah salah satu media untuk pembentukan karakter manusianya,” kata Susi.
Dalam membangun Rumah Adat Melayu ini, menurut Susi, dia sudah melakukan kunjungan ke Kampung Gelam Singapura, di kawasan Warisan Budaya Melayu, menyaksikan Masjid Sultan dan peninggalan Kerajaan Melayu Johor-Riau lainnya di sana. “Dari sinilah muncul keinginan membentuk Riau Abdurrab Malay Heritage itu,” ujarnya.
Balik dari Singapura, kata Susiana, dia singgah ke Pulau Penyengat, ziarah ke makam ulama dan pujangga besar Melayu Raja Ali Haji. “Rumah adat yang dibangun ini pun akhirnya menyerupai Rumah Adat Melayu yang ada di Pulau Penyengat.”
Rumah adat ini diberi nama Rumah Adat Melayu Engku Haji Tua bin Raja Haji Fiisabilillah. Nama yang diambil dari orang tua Raja Ali Haji, atau putranya Raja Haji Fiisabilillah, pahlawan nasional yang gugur di Teluk Ketapang, Melaka, ketika menghalau penjajah.
Tabrani Rab, selain berpraktek sebagai dokter dan mendirikan sejumlah lembaga pendidikan, juga pernah menulis dan menerbitkan buku puisi, menerjenahkan naskah sandiwara, serta sangat peduli pada sanggar-sanggar dan kegiatan seni kebudayaan.
Tabrani Rab juga telah memberangkatkan Sanggar Seni PLT Laksemana Pekanbaru, mewakili Indonesia mengikuti Festival Folklor Sedunia yang diselenggarakan Association Culturelle E’changes Intenationaux di Perancis dan Spanyol 1995 dan 1996.
OK Nizami Djamil Terkejut
Sementara itu tokoh budaya Melayu OK Nizami Djamil menyatakan keterkejutannya dan terharu ketika dr Susi menunjukkan keinginannya membangun Rumah Adat Melayu di lingkungan kampus Unirab.
“Susi bertanya, apakah betul rumah adat Melayu itu serupa ini, Pak OK. Ya, saya jawab. Betul. Ini namanya Rumah Adat Melayu Atap Kajang atau pandan berlipat,” lanjut tokoh adat Melayu yang sudah berumur 85 tahun ini.
Menurut OK Nizami, masih ada dua bentuk lagi Rumah Adat Melayu Ria, yaitu, rumah beratap limas yang bentuknya dipengaruhi adat Melayu daerah lain, serta Rumah Adat Melayu beratap lontik yang terdapat Kampar.
Tokoh adat Melayu Riau ini menyatakan, dia sangat mendukung apa yang telah dibuat Susiana Tabrani. “Abdurrab,” OK Nizami menyebut datuknya Susiaba, “itu kawan di atas saya. Tabrani Rab dulu sekolah di SMA 1, saya guru menggambarnya. Memang mereka orang-orang hebat. Teguh dan sangat cinta kepada Melayu dan Riau,” katanya.
Drs Yoserizal Zen, Kepada Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, mewakili Gubernur Riau, menyatakan apreasiasi dan dukungan atas dibangunnya Rumah Adat Melayu dan hadirnya Riau Abdurrab Malay Heritage di lingkungan perguruan tinggi Unirab.
Menurut Yoserizal, dengan dibangunnya Rumah Adat Melayu dan hadirnya Riau Abdurrab Malay Heritage bermakna Yayasan Abdurrab juga ikut berkontribusi merawat khazanah kebudayaan Melayu Riau.*(wd)