“Bo, Menyalaklah…” Karya Fedli Azis

SEORANG lelaki tua duduk mencangkung di depan puing-puing gubuk reyotnya. Di sekelilingnya, asap tebal masih mengepul perlahan, sisa dari kebakaran yang melahap rimba dan sepetak kebun karet yang menjadi satu-satunya tumpuan hidupnya. Di kejauhan, suara riak air sungai terdengar pilu, seolah turut menangis melihat bangkai-bangkai hewan yang mati terperangkap dalam ganasnya si jago merah.

TAK henti-henti, suara raungan mesin alat berat memecah kesunyian, bergema dari pagi hingga pagi lagi. Diselingi teriakan-teriakan kasar, perintah-perintah singkat yang menimpali bunyi besi yang menebas, menggerus, dan meratakan semak belukar hingga tanah gundul tak bersisa.

LELAKI tua itu berkeliling menelusuri sisa-sisa hangus dan memanggil dengan lirih. Ia memanggil sahabat setianya, anjing kesayangan penjaga kebunnya, yang sejak tiga hari lalu tak jua kembali pulang.

“Boooo… Booooo… Di mana kau, Nak? Pulanglah… Jangan pergi sekarang. Aku masih membutuhkanmu, aku masih butuh teman bicara. Booooo… di mana kau…”

IA menghela napas panjang, dadanya naik turun menahan sesak.

“Ah, malang benar nasib kita, malang pula nasib warga kampung di bawah sana! Tragis sekali takdir yang Tuhan timpakan pada kita semua… Booooo… pulanglah… Tolong menyalaklah sekadar untuk memberi tanda kau masih ada.”

IA bangkit, berdiri dengan susah payah, menatap hamparan luas yang kini hanya tinggal tunggul-tunggul pohon dan abu yang beterbangan dihembus angin kering. Tatapannya kosong, hilang di antara kabut asap yang kelabu.

“Bo, jangan tinggalkan tuan tua yang sudah renta ini sendirian di sini. Jangan kau pergi, apalagi mati sebelum aku. Kembalilah… Aku tak sanggup menanggung siksaan ini sendirian di tengah tanah yang mati ini. Menyalaklah dengan kencang, Bo… Menyalaklah, walau hanya sekali saja untukku…” (suara bergetar, tertahan isak tangis)

IA menatap jauh ke dalam kegelapan sisa hutan, berharap melihat bayangan sahabatnya. Namun, yang ada hanya kesunyian yang mencekam. Dengan tekad yang menggebu namun tubuhnya lemah, ia masuk ke dalam gubuk, lalu keluar kembali membawa parang tua dan sebatang tombak kayu. Belum sempat ia melangkah jauh, kakinya tersandung akar hangus, dan ia terjatuh. Ia berusaha bangkit, namun tenaganya seolah tersedot habis oleh tanah itu sendiri.

“Baiklah, Bo… Aku akan mencarimu. Di mana pun kau berada, menyalaklah… Menyalaklah, dalam kondisi apa pun kau sekarang. Kita akan kembali bersama, seperti hari-hari indah sebelum api itu datang melenyapkan segalanya.”

IA mencoba mengangkat tubuhnya lagi, namun gagal. Ia meringis kesakitan, menyadari betapa lemah dirinya.

“Sungguh… aku tak punya tenaga lagi, Bo. Tubuh renta ini sulit sekali diajak berjalan menyusuri bekas kebun dan hutan yang terbakar ini. Kau tahu sendiri, kan? Api itu memang tak terlihat lagi di permukaan, tapi ia masih hidup di sana… menjalar ke dalam, melahap rawa gambut hingga jauh ke perut bumi. Aku takut, Bo… Jika aku terperosok ke dalam tanah yang panas itu, tamatlah riwayatku sebelum sempat menemuimu. (menangis pilu) Maafkan aku… Maafkan aku, sahabatku. Aku hanya bisa menunggumu di sini, di tempat kita biasa duduk bersama.”

LELAKI tua itu diam sejenak. Matanya menerawang jauh, masuk ke dalam kenangan masa lalu. Wajahnya yang sedih perlahan berubah lembut, seolah imajinasinya menembus ruang dan waktu. Ia tersenyum, menggerakkan tangan seolah sedang membelai seekor hewan di sisinya. (Terdengar suara gonggong anjing berkali-kali, riang dan setia).

“Kau ingat, Bo? Kau dan aku tak pernah terpisahkan sedetik pun. Kau sangat setia padaku. Bukan karena aku memberimu makan, bukan karena aku mengikatmu… tapi karena hati kita saling terpaut, mengerti satu sama lain. Kau bahkan sering kali yang mencarikan makan untuk kita, bukan aku. Kau lincah, kau tangguh… mampu menangkap pelanduk, rusa kecil, atau apa saja yang lewat di depan hidungmu. Hari-hari kita begitu manis, damai, dan penuh makna. Bagiku, kau bukan sekadar hewan peliharaan, tapi satu-satunya makhluk di dunia ini yang mencintaiku tanpa pamrih, tanpa kepentingan. Aku takkan sanggup hidup jika harus kehilanganmu…”

TIBA-TIBA, senyumnya lenyap. Wajahnya berubah cemas, gelisah. Ia mendengar suara-suara percakapan orang yang kasar, terdengar mendekat lalu menjauh. Ia menoleh ke kiri dan kanan, namun tak ada siapa-siapa, hanya suara yang menggema. Setelah suara itu hilang ditelan angin, ia kembali bercerita, kali ini dengan nada yang lebih serius dan dalam.

“Kau tahu, Bo? Tempat kita berdiri ini dulunya adalah jantung hutan belantara. Orang kampung menyebutnya Hutan Larangan. Tempat keramat. Jarang sekali orang berani masuk ke sini, dan jika pun mereka mau, harus didahului dengan doa dan ritual penghormatan. Perkampungan penduduk pun cukup jauh, sulit ditembus karena rute yang berliku dan lebatnya pepohonan. Di sini dulu rumah bagi harimau, beruang, ular, dan ribuan jenis burung. Dulu… aku dan hutan ini hidup damai. Jauh dari hiruk-pikuk dunia yang katanya modern itu, jauh dari keramaian, jauh dari kepalsuan dan intrik jahat manusia. Aku memilih hidup menyatu dengan alam, karena bagiku menjaga alam adalah tugas luhur, tugas yang mulia. Aku bahagia menjadi bagian dari rimba keramat ini, aku bersyukur sekali…”

TIBA-TIBA, tubuh lelaki tua itu menegang. Matanya membelalak lebar, nyalang dan penuh ketakutan. Tubuhnya meregang kaku, mulutnya ternganga seolah tak percaya pada apa yang baru saja dilihat oleh ingatannya. Ia berteriak-teriak, persis seperti orang yang sedang menyaksikan kedatangan bencana dahsyat yang tak terelakkan.

API… API ITU DATANG!!! Lihatlah… berkobar ganas, meliuk-liuk menjilat apa saja yang ada di hadapannya! Ya Allah… Suara-suara itu… suara hewan-hewan itu… menyayat hati sekali. Beruk-beruk berteriak panik, jatuh dari pohon yang jadi abu. Burung-burung terbang ke langit yang penuh asap. Harimau mengaum penuh kepedihan. Aku lihat orang utan yang hangus, ular-ular terpanggang hidup-hidup, serangga mati tak bersisa… Akulah saksi dari semua bencana maut itu! (semakin gelisah, tangannya mencengkeram dada) Booooo… Bo….. Di mana kau? Booo… Kemarilah… Jangan pergi ke sana… Boooo… Malang sekali kau, anakku…”

DENGAN sisa tenaga yang ada, ia berlari kecil menjauh ke arah kampung, ingin memastikan keselamatan sesama warga, namun apa yang ia temui semakin meremukkan hatinya.

“Aku harus pergi ke kampung, Bo… Maafkan aku harus meninggalkanmu sebentar. Aku harus tahu nasib warga. Asapnya tebal sekali, aku hampir tak bisa bernapas. Kakiku melepuh karena menginjak bara yang tersembunyi di balik tanah. Di kejauhan… di kejauhan sana, kampung itu sunyi senyap. Seperti kuburan, tak ada tanda kehidupan. Kebun-kebun sawit mereka yang dulu hijau, kini hanya tunggul-tunggul yang masih dijilati api. Asap menutupi matahari. Kampung itu kosong, Kosong melompong. Semua warga lari menyelamatkan diri, ketakutan oleh bencana yang entah datang dari mana itu…”

LELAKI tua itu kembali ambruk ke tanah. Air matanya jatuh membasahi debu yang kering. Ia merasa hilang segalanya: rumah, hutan, masa depan, dan sahabatnya. Hening sejenak.

LALU, terdengar suara gemuruh mesin kendaraan besar, dan suara orang-orang yang berjalan terburu-buru, berbicara dengan nada puas dan gembira. Lelaki tua itu mengangkat kepalanya, melihat rombongan orang-orang asing berpakaian rapi yang tak pernah ia kenal seumur hidupnya. Mereka berhenti sejenak, mengamati tanah yang gundul itu, lalu bersiap pergi. Salah satu dari mereka berbicara lantang.

(Suara orang asing):

“Sudah, semuanya beres. Kampung sudah kosong, hutan pun ludes tak bersisa. Tinggal tanah lapang yang luas ini. Tugas kita selesai. Mari kita kembali ke kota dan rayakan kemenangan besar ini!”

DISAMBUT tawa riang dan sorak-sorai mereka.

MENDENGAR itu, kemarahan lelaki tua itu meledak. Ia bangkit dengan sisa tenaga terakhirnya, wajahnya merah padam menahan amarah yang mendidih. Ia menghadang mereka, berteriak sekuat paru-parunya.

BERHENTI!!! Hentikan tawa kalian, manusia-manusia biadab! Siapa kalian? Apa dosa kami pada kalian? Hari ini kalian memanggang kehidupan kami, kalian membakar harapan kami jadi abu, dan kalian tertawa bahagia karenanya?! Bersoraklah hari ini… tapi ingatlah! Kami yang menderita ini bersumpah, bahwa kehancuran kalian pun akan datang suatu hari nanti. Tuhan mendengar doa orang-orang yang teraniaya!”

UCAPAN berapi itu hanya dijawab dengan tawa mengejek dan hinaan dari orang-orang asing itu. Lalu… DOR! Terdengar suara letusan senjata.

LELAKI tua itu tersungkur kembali ke tanah, tangan kanannya menekan dada yang terluka. Darah mulai menetes. Namun, di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, terdengar suara gonggongan… gonggongan pendek namun jelas, mendekat, dan terdengar penuh rindu. Mata lelaki tua itu melebar, bibirnya tersenyum bahagia, berusaha merangkak sedikit demi sedikit ke arah suara itu.

“Booooo…. Boooo…. Akhirnya kau datang juga… Kau selamat… Kau selamat, anjing pintarku… Kau tak meninggalkanku… (napas makin berat, suara makin lirih) Selamat tinggal, Boooo… kesayanganku…”

TANGAN lelaki tua itu jatuh lemas ke tanah. Tubuhnya perlahan miring, dan ia menghembuskan napas terakhirnya dengan senyum di bibir. Suara gonggongan anjing itu makin mendekat, lalu melemah… melemah… hingga akhirnya hening kembali menyelimuti tanah yang gundul itu.*

Comments (0)
Add Comment