Matahari belum sepenuhnya terbit di atas Ponpes Al Muawwanah, namun gema tadarus ribuan santri sudah menggetarkan dinding-dinding pesantren. Di tengah riak suara itu, Kyai Ahmad Syafawi duduk bertafakur di mihrab masjid. Beliau adalah sosok yang dihormati bukan hanya karena keluasan ilmunya, melainkan karena maqam kerohaniannya yang telah melampaui dimensi duniawi.
Bila Kyai Ahmad Syafawi telah mengenakan pakaian kebesarannya seperti jubah putih yang menjuntai, tasbih kayu zaitun di jemari, dan sorban putih yang melingkar rapi di kepalanya, pandangannya seolah mampu menembus tirai gaib. Beliau dapat membaca isyarat alam, menatap guratan takdir, dan memprediksi konsekuensi dari setiap perbuatan manusia. Anehnya, tak satu pun firasat atau prediksi sang kyai yang pernah meleset. Segala bentuk kemungkaran dan kebatilan yang hendak masuk ke wilayah pesantren selalu berhasil beliau cegah sebelum sempat berakar.
Di antara ribuan santri yang menimba ilmu, ada satu nama yang paling menonjol Mustofa. Pemuda itu cerdas, tekun, dan memiliki daya tangkap yang luar biasa terhadap kitab-kitab kuning yang rumit. Dalam pandangan batin Kyai Ahmad Syafawi, derajat keilmuan Mustofa telah melampaui batas seorang santri biasa. Mustofa dinilai telah matang untuk diangkat menjadi seorang ulama.
Dengan penuh rasa bangga dan rasa syukur, Kyai Ahmad Syafawi menggelar majelis penganugerahan. Di hadapan seluruh santri dan ulama sepuh, Mustofa resmi disematkan gelar Kyai Muda Mustofa.
Sebagai puncak dari pengakuan itu, Kyai Ahmad Syafawi melakukan sebuah tindakan yang mengejutkan banyak pihak. Beliau melepas sorban putih kebanggaannya sebagai dari simbol ma’rifat, kepemimpinan, dan kewibawaan spiritual yang telah puluhan tahun melegenda, lalu melingkarkannya secara langsung ke kepala Kyai Muda Mustofa.
“Sorban ini adalah amanah, Mustofa,” bisik Kyai Ahmad Syafawi dengan suara bergetar penuh keharusan. “Ia bukan sekadar kain, melainkan pemelihara kesucian hati.”
“Dawuh, Yai. Insyaallah, amanah berat ini akan hamba jaga dengan seluruh jiwa dan kebenaran ilmu,” sahut Mustofa seraya menundukkan kepala dalam-dalam, merapatkan kedua telapak tangannya di dada.
Pada mulanya, segalanya tampak berjalan indah. Kyai Muda Mustofa tampil memukau dengan sorban putih melingkar di kepalanya. Kharismanya meningkat tajam, wawasannya dipuji, dan pengaruhnya meluas hingga ke luar dinding pagar pesantren. Namun, apa yang tidak disadari oleh Kyai Ahmad Syafawi adalah perbedaan mendasar dalam tanah tempat ilmu itu tertanam. Di kepala sang guru, sorban itu adalah penunduk nafsu, sementara di kepala sang murid, sorban itu perlahan berubah menjadi mahkota kekuasaan.
Pergeseran itu terjadi secara halus namun mematikan. Bisikan-bisikan pengaguman dari para pengikut dan pejabat lokal mulai meracuni pikiran Mustofa. Ia mulai menyadari betapa besarnya rasa hormat yang diberikan orang-orang kepadanya hanya karena kain putih yang bertengger di kepalanya. Ilmu ghaib seperti prediksi-prediksi intuitif yang dulu diajarkan sang guru mulai dipelintir untuk kepentingan pribadi.
Kyai Muda Mustofa mulai memanfaatkan posisinya untuk memuaskan hawa nafsu dan ambisi materialistis. Ia menggunakan dalih “kehendak langit” dan “penerawangan gaib” untuk mengeruk keuntungan. Warga desa yang ketakutan akan nasib buruk dengan mudah menyerahkan tanah dan harta mereka setelah Mustofa memperingatkan adanya bahaya gaib yang sebenarnya hanya rekaan belaka.
“Kalian tidak paham takdir yang terhampar di balik langit!” seru Kyai Muda Mustofa di hadapan warga desa yang bersimpuh pasrah. “Tanah di lereng timur itu telah dipayungi isyarat buruk. Jika tidak segera diserahkan untuk kelanjutan pembangunan pondok dan dibersihkan secara spiritual, marabahaya besar akan menggulung seluruh desa ini!”
Warga terperanjat, saling pandang dengan wajah pucat pasi. “Lalu… apa yang harus kami lakukan, Kyai Muda? Kami takut musibah menimpa anak cucu kami,” cemas salah seorang tokoh warga.
Mustofa membetulkan letak sorban putihnya, menegakkan dada dengan tatapan dingin penuh wibawa buatan. “Serahkan sertifikat dan hak pengelolaannya padaku. Hanya melalui sorban dan doa di tangan ulama yang dipilih langit, bahaya itu bisa diredam. Jangan membantah jika tidak ingin kuwalat!”
Tindakan sewenang-wenang mulai bermunculan. Siapa saja santri atau pengurus pesantren yang mempertanyakan keputusannya akan langsung dituduh suul khatimah atau durhaka kepada ulama.
“Kau berani mempertanyakan ke mana arah dana santri dialokasikan?” potong Mustofa dengan nada tajam ketika seorang pengurus senior mencoba mengonfirmasi transparansi keuangan. “Ingat posisi kalian! Kedudukan dan sorban ini adalah bukti legalitas tertingggi dari Sang Guru. Menolak keputusanku sama saja kalian melukai marwah ulama dan mengundang murka langit!”
Mustofa berlindung di balik doktrin bahwa puncak kekuasaan dan kebenaran di pesantren berada sepenuhnya di tangannya. Karena posisinya yang dianggap “suci” dan terbebas dari cela, tidak ada hukum duniawi maupun aturan pondok yang mampu menyentuhnya. Hukum menjadi tumpul di hadapan sorban putihnya.
Kehidupan Kyai Muda Mustofa berbelok semakin jauh menuju kesesatan. Rumahnya mulai dipenuhi barang-barang mewah hasil dari “kemudahan” yang ia jual atas nama agama. Sorban yang dulu menjadi lambang ketundukan kepada Sang Pencipta kini menjelma menjadi alat intimidasi dan pemuas syahwat kekuasaan.
Di sudut kamar yang sunyi, Kyai Ahmad Syafawi menangis dalam sujud yang panjang. Sang guru akhirnya menyadari kesalahannya. Ia menyerahkan simbol kesucian kepada jiwa yang belum selesai menaklukan dunianya. Ketinggian ilmu tanpa kedalaman pembersihan jiwa hanya akan melahirkan kesesatan yang dibungkus dalam pakaian kebenaran.
Bengkalis, 08 September 2026
Hendrizon, Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024 resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024-2026). Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021.