Cerpen : Sri

“Assalamu’alaikum, Bu Sri,” ucap pasienku.

“Wa’alaikumsalam,” jawabku penuh kerendahan hati.

“Aku minta tolong Bu Sri, bisa bantu pijat malam ini? tanya pasienku.

“Maaf dengan siapa ini ya?” tanyaku karena nomor telepon yang menghubungi termasuk nomor baru atau belum tersimpan.

“Aku Andri, rumahnya di Lorong Cemara,” jelas pasien yang bernama Andri.

“Baik, mas Andri. Lima belas menit ibu sampai di rumah, tunggu ya,” ucapku.

“Siap, Bu,” jawab Andri.

Aku bersiap diri untuk berangkat kerja sebagai tukang pijat panggilan dari rumah ke rumah. Profesi ini aku jalani setelah suami diberhentikan oleh perusahaannya. Tidak bermaksud untuk hal-hal yang negatif, semua aku niatkan untuk menolong orang lain. Aku berpamitan dengan suami yang sedang duduk di teras rumah sambil minum kopi dan mengepulkan asap rokoknya.

“Bapak, ibu berangkat kerja ya,” ucapku sambil mencium tangannya.

“Ya, ibu. Hati-hati di jalan,” jawab suamiku.

Aku mengenakan pakaian muslimah dengan jilbab yang menutup aurat dan gamis yang tidak ketat. Aku berangkat mengendarai sepeda motor pribadi. Kunyalakan dan stir stang sepeda motor. Lima belas menit berlalu, aku sampai di rumah pasien yang bernama Andri.

Andri telah menungguku di depan rumahnya, kelihatan pintu rumah sudah terbuka lebar. Aku memarkirkan sepeda motor, lalu masuk ke dalam rumah.

“Assalamu’alaikum, Pak Andri,” ucapku.

“Wa’alaikumsalam, Bu Sri. Silakan masuk,” jawab Bu Darmi istri Pak Andri.

“Sebentar ya, aku panggilkan suami yang mau pijat.” Darmi memanggil suaminya keluar dari kamar.

Tak menunggu lama, dua menit berlalu Pak Andri sudah keluar dari kamar hanya mengenakan sarung saja. Aku mengizinkan Pak Andri untuk berbaring di tikar yang sudah disiapkan tuan rumah. Sebelum memijat, aku izin terlebih dahulu kepada istrinya.

“Maaf, ya Bu Darmi. Izin memijat Pak Andri biar lekas sembuh,” ucapku.

“Silakan, Bu,” jawab Bu Darmi.

Memijat sambil bercerita Bu Darmi memulai topik obrolannya terlebih dahulu.

“Omong-omong, Bu Sri sejak kapan jadi tukang pijat keliling,” tanya Bu Darmi.

“Sejak suamiku dipecat, Bu. Aku memberanikan diri buka jasa pijat urut keliling dari rumah ke rumah,” jawabku.

Sebenarnya pertanyaan ini yang sering ditanyakan pasien baru. Aku bosan menjawabnya, tapi tak apalah selagi itu bisa kujawab walaupun membosankan tetap aku jawab dengan sejujurnya dan apa adanya. Lalu, Bu Darmi melanjutkan pertanyaannya.

“Aku dapat nomor ibu dari kakak ipar. Namanya Haji Herman, katanya pijatan Bu Sri enak dan membuat badannya yang mulanya pegal-pegal jadi enteng setelah dipijat,” kata Bu Sri.

“MasyaAllah, terima kasih banyak Bu Darmi. Sampaikan salam dan terima kasih kepada Haji Herman sudah merekomendasikan jasa pijat urut,” jawabku sambil mengelus dada.

Satu setengah jam berlalu, aku selesai mengerjakan tugas pijat urut pasien. Seperti biasa tanpa diminta pasien selalu menyuguhkan minuman air putih dingin. Aku meneguk segelas air putih sebagai pelepas dahaga. Ibu Darmi menyerahkan sejumlah uang lima puluh ribu untukku sebagai balas jasa pijat urut.

“Silakan diterima Bu Sri uang dari kami,” ujar Bu Darmi.

“Terima kasih banyak, Bu Darmi. Semoga panjang umur, sehat selalu, dan lancar rezekinya,” ucapku seperti biasa setiap orang memberikan rezeki kepadaku selalu aku doakan yang baik-baik.

Selesai membantu pijat urut pasien, aku pulang ke rumah. Perjalanan selama lima belas menit aku tempuh dari lorong cemara ke rumahku di simpang bukit. Sesampainya di rumah, suami belum tidur masih duduk-duduk di teras – sambil main gaple dan mengepulkan asap rokok bersama teman-temannya. Aku masuk ke dalam rumah, setelah mencium tangan suamiku. Sebagai istri tetaplah aku taat kepada suami yang merupakan kepala keluarga.

Baru sampai rumah lima menit, belum sempat aku duduk. Sudah ada lagi panggilan dari pasien sepertinya nomor baru lagi.

“Assalamu’alaikum, denganku Bu Sri. Aku bicara dengan siapa ya dan ada yang bisa dibantu?” tanyaku.

“Wa’alaikumsalam, Bu Sri. Aku Mario ingin minta tolong jasa pijat urut badan meriang,” jawab Mario.

Aku melihat jam di dinding telah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Aku menawarkan jadwal pijat urut besok pagi.

“Maaf mas Mario, berhubung waktu sudah malam. Bagaimana pijat urutnya besok pagi aja pukul 10.00 WIB? tanyaku.

“ Baik, Bu Sri terima kasih,” jawab Mario.

Suami mendengus dari belakang, ia bertanya sedang telepon dengan siapa.

“Teleponan dengan siapa, Bu?” tanya suamiku.

“Lagi teleponan dengan pasien, Pak,” jawabku.

“Yang benar aja, awas kalau kau macam-macam main dengan lelaki lain. Aku kincang-kincang tubuhmu. Kulihat akhir-akhir ini banyak sekali pasien lelakimu. Kau jasa pijat urut atau sekalian terima plus-plus?” tanya suamiku.

“Astaghfirullah, Pak. Istighfar, berhenti berburuk sangka dengan istri. Aku bekerja sebagai jasa pijat urut dengan niat tulus menolong orang lain dan membantu ekonomi keluarga kita, Pak. Nggak ada maksud yang lain,” jelasku.

Daripada aku mendengar ocehan suami yang menuduh aneh-aneh. Aku ke bilik mengistirahatkan badan untuk aktivitas besok pagi. Tak lupa aku berdoa sebelum tidur. Disusul oleh bapak yang juga tidur di sampingku. Aku terlelap dalam tidur panjangku, tiba-tiba bapak ingin aku melayaninya malam ini.

“Bu, bapak ingin itu lo. Main yuk kita,” ajak Bapak.

“Ayo, Pak.” Aku menerima permintaan bapak untuk mengajak berhubungan intim malam ini. Aku membuka pakaian, tanpa sehelai benang yang menempel di tubuhku. Begitu pula dengan bapak yang tanpa kain di tubuhnya. Aku mulai dengan kecupan mesra di bibir bapak. Sedangkan bapak yang meremas-remas payudaraku. Kami berdua menikmati permainan ini dengan suka cita. Walaupun aku sebenarnya tubuhku ini sedang capek ingin istirahat. Demi memuaskan suami aku bersedia melayaninya dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Tiga puluh menit berlalu, permainan selesai bapak puas dan langsung tertidur pulas. Begitu juga denganku yang ikut tertidur di dadanya yang bidang penuh bulu-bulu yang menggelikan.

Pukul 04.00 pagi aku terbangun dari tidur panjang yang pulas. Aku langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi aku memakai mukenah untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Sedangkan bapak dan anak lelakiku sudah berangkat lebih dahulu ke masjid. Aku sebagai perempuan sholat subuh di rumah.

Sesudah sholat subuh, berdzikir dan berdoa. Aku ke dapur memasak untuk sarapan bapak dan anak-anakku. Menu sarapan pagi ini segelas susu hangat, singkong goreng, serta untuk menu makanan beratnya tumis cah kangkung dan sambal ikan asin. Apa pun sayur dan lauk sederhana yang ada di kulkas aku masak. Bapak dan anak-anak tidak pernah protes soal menu makanan rumah. Apa saja menu yang dimasak semua dilahap. Selesai beberes rumah seperti biasa aku bersiap diri untuk berangkat kerja.

Pukul 10.00 pagi aku sampai di rumah Pak Mario. Pasien baru yang menghubungiku malam kemarin. Aku masuk ke dalam rumahnya. Kembali disambut oleh Bu Ratna istri Pak Mario. Tanpa basa basi dan banyak omong aku mulai mengerjakan tugasku sebagai jasa pijat urut.

Selama satu setengah jam aku memijat Pak Mario bos tambang. Sepuluh panggilan tak terjawab, tujuh nomor baru dan tiga nomor pasien yang sudah berlangganan. Sampai mereka meninggalkan pesan singkat yang inti pesannya ingin minta tolong jasa pijat urut. Aku mengelus dada, bersyukur dengan niat baik menolong orang lain. Tuhan membukakan pintu rezeki yang begitu luas. Dari mulut ke mulut jasa pijat urut ramai pasiennya.

Comments (0)
Add Comment