Imah tahu, sejak dua bulan lalu, ketika kabar tentang perahu Kakek Parman dihantam badai sampai ke warung-warung ikan. Kabar itu tidak dibawa oleh orang, melainkan oleh papan kayu yang terdampar dan masih bisa dikenali: tulisan Sinar Harapan, warna biru tua yang ia cat sendiri. Orang-orang bilang, “Sudah, Nduk, ikhlaskan.” Tapi Imah tidak mempercayai sebelum melihat jasad kekeknya . Ia menagih janji kepada laut. Setiap senja ia duduk di atas batang kelapa tua yang roboh bersama kulit yang sudah mengelupas dimakan air garam dan lumut. Dari sana ia melihat garis yang sama setiap hari: langit yang meleleh perlahan, air yang berkilau seperti madu tumpah, dan perahu-perahu yang pulang tanpa membawa kabar.
Dulu, di tempat itu, Kakek Parman pernah memanggilnya.
“Nduk, sini.” Dua gelas es kelapa muda di tangan kakek yang keriput. Ritual kecil mereka sebelum kakek melaut, yang tidak pernah absen sejak Imah berusia tujuh tahun. Imah masih ingat betul rasa manisnya di lidah, dinginnya yang menusuk gigi, dan bagaimana ia memeluk kakek terlalu erat sampai kakek terbatuk-batuk tapi tetap tertawa. Kakek Parman memang bukan kakek kandung.Ia menemukannya di pasar, menangis karena tersesat lima belas tahun silam. Seorang gadis mungil merengek meminta makanan kepada penjual. Sejak itu, Imah adalah satu-satunya harta yang dijaga kakek melebihi jaring dan perahunya sendiri.
“Kakek pasti pulang,” kata Imah suatu sore kepada Bu Lastri yang lewat membawa bakul ikan. Bu Lastri berhenti sejenak. Menatap rambut Imah yang sudah jarang disisir dengan warna pakaian yang mulai pudar. “Untuk apa kau tunggu, Mah? Beritanya sudah kau dengar sendiri. Laut sudah mengambil bagiannya,” kata Bu Lastri, suaranya setengah berbisik, setengah kasihan. “Laut berjanji akan membawanya pulang. Saya sudah berbicara dengan laut. Kakek bilang, kalau saya tunggu di sini, dia akan tahu jalan pulang,” jawab Imah.
Bu Lastri menggeleng pelan, lalu pergi. Tidak ada makian. Di pesisir, orang lebih kejam dengan diamnya. Mereka tidak lagi menganggap Imah sedih, mereka menganggap bukan seperti Imah yang mereka kenal. Julukan itu pelan-pelan tumbuh: gadis penunggu laut. Keesokan harinya Imah datang lebih pagi. Ia membawa botol kaca bekas sirup Marjan. Di dalamnya ada gulungan kertas kecil yang ia sobek dari buku tulis bekas. Tulisannya miring, seperti tulisan anak SD yang baru belajar menulis tegak bersambung: Kek, pulang ya. Es kelapanya sudah Imah siapkan. Jangan lama-lama. Ia melempar botol itu sejauh yang ia bisa. Tenaganya tidak seberapa. Botol itu mengapung sebentar, mengangguk-angguk di atas ombak seperti kepala orang yang mengantuk, lalu hilang ditelan buih. Ia percaya laut akan mengantarkan pesan itu. Laut adalah teman terbaiknya, satu-satunya yang tidak pernah menyuruhnya pulang. Minggu berganti minggu. Botol itu tidak pernah kembali. Kakek pun tidak. Yang kembali hanya bau amis dari TPI dan kabar angin yang setia menemani.
Tubuh Imah mulai menyusut. Matanya cekung. Tulang pipinya mulai menonjol. Anak-anak kecil yang dulu memanggilnya Kak Imah kini memanggilnya dari jauh, “Gadis penunggu laut! Gila!” sambil tertawa dan melempar pasir. Mereka tidak tahu bahwa menunggu adalah satu-satunya cara Imah untuk tetap menjadi cucu seseorang. Kalau ia berhenti menunggu, siapa lagi dia?
Sore itu angin bertiup lebih kencang. Gerombolan anak itu datang lagi, lebih banyak. Gendis, yang paling keras suaranya dan paling dibanggakan ibunya karena pintar mengaji, menarik ujung pakaian Imah.
“Dasar gila! Kakekmu sudah dimakan ikan hiu! Makanya jangan jadi anak pungut!” Kata terakhir itu yang meledak di kepala Imah. Anak pungut. Imah menutup telinga dengan kedua tangan. Ia berlari ke karang yang licin, yang biasanya dihindari karena banyak bulu babi. “Gila! Gila! Anak pungut gila!” Gendis mengejar. Napas anak itu terengah-engah karena senang. Imah mendorong. Tidak keras. Hanya ingin kata anak pungut berhenti menggema.
Gendis terjatuh. Kepalanya membentur karang yang runcing. Suaranya hilang seketika, berganti isakan yang melengking. Darah mengalir tipis, merah pekat, tercampur dengan air laut yang bening. Warga datang berlarian. Tidak ada yang mendengarkan penjelasan Imah yang terbata-bata. Tidak ada yang peduli bahwa Imah hanya mendorong seujung jari. Tangan-tangan kasar menyeretnya dari karang. Seorang bapak menarik rambutnya. “Bawa ke gudang saja! Biar tidak bikin susah lagi!”
Mereka menguncinya di gudang jaring belakang balai desa, tempat jerami disusun tinggi dan bau solar menyengat. Cahaya hanya masuk dari celah genting sebesar telapak tangan. Kedua tangannya tidak dipasung, tapi pintu gudang dikunci dari luar dengan rantai besi yang berkarat.
Di dalam gelap, untuk pertama kalinya dalam dua bulan, Imah tidak mendengar deburan ombak. Yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri dan tetesan air dari genting yang bocor. Ia menangis tanpa suara. Bukan karena takut gelap, tapi karena ia tidak bisa lagi melihat garis laut. Jika ia tidak melihat laut, bagaimana kakek tahu ia masih menunggu? Entah berapa lama. Mungkin sejam, mungkin seharian. Sampai langkah kaki mendekat. Langkah itu tidak tergesa seperti Bu Lastri. Tidak berat seperti bapak-bapak nelayan. Langkah itu pelan, diseret sedikit, seperti kaki yang terbiasa menginjak pasir basah. Langkah yang ia hafal di luar kepala. Suara pintu berderit pelan, rantai itu dilepas seseorang.
Cahaya senja masuk, kuning kemerahan, persis seperti sore-sore dulu.
Di ambang pintu, berdiri seseorang yang ia tunggu sangat lama, wajah keriput yang tersenyum sepia. Baju koko putihnya masih basah. Di tangannya, dua gelas es kelapa muda. Esnya sudah mencair, tapi uap dinginnya masih mengepul, aneh, di udara senja yang panas.
“Nduk, kok tidur di sini? Ayo, mataharinya keburu habis. Nanti esnya tidak enak,” kata kakek, dengan suara yang sama, seperti dua bulan lalu. Imah mencoba berdiri namun kakinya lemas. Ia hanya menatap es kelapa di tangan kakeknya yang menetes, tapi tetesannya bukan air kelapa. Tetesannya adalah air laut, asin dan berwarna bening. Ia mengerti. Laut akhirnya menjawab. Bukan dengan mengembalikan, tapi dengan menjemput. Laut memang selalu menepati janji, hanya saja caranya berbeda dari yang dibayangkan manusia.
“Imah sayang kakek,” bisik Imah, suaranya habis. Kakek Parman mengulurkan satu gelas. “Kakek lebih sayang kamu, Nduk”
Di luar gudang, ombak berdebur seperti biasa, setia, tidak pernah ingkar janji. Dan untuk pertama kalinya, debur itu tidak terdengar seperti nyanyian, melainkan seperti panggilan pulang.
Lusi Hanasari, seorang ibu rumah tangga yang jatuh cinta pada hujan dan setia merawat kenangan. Dikepalanya ada tulisan-tulisan yang ingin menari, ditangannya ada kamera yang merekam jejak dan rindu. Ia tidak ingin menjadi matahari yang menyilaukan cukup menjadi bintang kecil yang bersinar dengan cahayanya sendiri. Jejak cahayanya bisa ditemukan di Facebook Galeri Lusihanasari, sedang jejak tulisannya pernah dimuat di Riau sastra, IB Times, IDN Times, dan Tiras Times. Ia juga mengikuti komunitas menulis seperti COMPETER dan Tiras Times, dan mengikuti komunitas fotografi seperti IPF JATIM dan IPF JATENG. Ia dapat dihubungi melalui kontak gmail lusihanasari@gmail.com.