Ketika John Rawls Kebingungan: oleh Jasmiko

Aku masih ingat betul ketika berpikir untuk menjadi tukang parkir yang bertugas di depan Kopi Kenanga, tempatku bekerja. Dengan ijazah S1 yang telah telah aku perjuangkan setidaknya selama 3,5 tahun, aku mempunyai beberapa ide agar dunia perparkiran lebih maju setidaknya bukan hanya membantu memasukkan dan mengeluarkan motor. Jika menjadi tukang parkir, aku tidak ingin seperti itu, aku tidak ingin menjadi tukang parkir yang hanya melambai-lambai lalu menerima rupiah.

Ah, lupakan saja tukang parkir itu. Sekarang setidaknya aku sudah nyaman bekerja di sini – melihat mahasiswa keluar masuk dengan tugasnya, para ibu yang berusaha menenangkan anaknya agar tidak menganggu mahasiswa yang beli satu kopi tapi seharian penuh di sana, agar tidak menganggu freelance yang melamar kerjaan lain sembari mengerjakan pekerjaan sekarang. Indah nian lingkunganku bekerja, hingga pada suatu saat orang tua itu menjabat di posisi terpenting negeri ini. Maka ketika sudah demikian, aku sering melihat wajah-wajah kusam yang masuk ke outlite tempatku bekerja – para ibu membiarkan anaknya berkeliaran sembari mereka sendiri berbincang dengan rekanannya, mahasiswa yang bukan hanya seharin di dalam outlite, akan tetapi sembari membawa stop kontak yang panjangnya tidak kira-kira, dan kini ditambah anak sekolahan yang mulai masuk mengerjakan tugas kelompoknya, dengan hanya 1 dari tujuh di antara mereka yang membeli.

Khawatir kalian akan bosan dengan ceritaku di tempat kerja, aku ingin bercerita tentang keluargaku. Ah, tapi sebentar dulu. Lihatlah! Dua perempuan itu masuk, dan sepertinya akan segera membuat pesanan. Tunggu dulu, aku akan melanjutkan ceritaku setelah selesai menyiapkan pesananan dua perempuan itu.

“Selamat datang di kopi kenanga,” ujarnya menyambut mereka dengan senyum cerah. Sepagi ini udara Ciputat lumayan dingin, pasalnya beberapa sampai sekarang matahari tidak menampakkan diri, awan hitam selalu berada di atas Ciputat.

“Americano dua, Ka,” ujar salah satunya.

Nah, aku sangat bersyukur mereka memesan americano, setidaknya cepat disajikan dan aku segera menceritakan kisahku.

Tapi, lamat-lamat aku mendengar dua cerita perempuan itu yang tidak langsung mencari tempat duduk. Mungkin mereka tahu bahwa americano tidak lama akan segera selesai disajikan, maka mereka menunggu sembari berdiri daripada nanti kembali lagi ke sini.

“Maba yang kemarin sudah berhasil dikader?” tanya perempuan dengan kemeja biru muda, aku tahu sebenarnya mereka bukan pendukung rezim, tapi aku hanya tidak suka dengan warna itu. Ada sebuah afek buruk di pikiranku ketika aku melihat warna itu, kemudian sangat bisa berpengaruh pada moodku.

“Sudah, aman,” sahut perempuan satunya, ia mengenakan almamater universitas, biru pula.

“Omong-omong, kamu setuju, Ra, dengan kebijakan kampus?” tanya kemeja biru muda. Tolong, jangan joged gemoy sekarang. Itu, akan mengingatkanku pada seseorang yang susah diberikan nasihat, yang bahkan untuk dinasihati saja dia membutuhkan puluhan orang. Padahal, nasihat terbaik adalah ingat akan datangnya kematian.

“Kebijakan yang mana?” sahut perempuan beralmamater biru.

“Perihal parkir. Kampus kita, kan, lagi mengusung konsep green campus, yang kendaraan bermotor tidak boleh masuk kampus.”

“Lah, kata siapa tidak boleh masuk?”

“Kan, ada tulisannya di sana. Mahasiswa parkir di luar, di parkiran belakang SMK itu.”

“Oh, iya, lupa. Kenapa memangnya?”

“Kamu setuju atau tidak?”

“Setujua aja, sih. Kan, bagus. Kampus menjadi hijau dan nyaman buat belajar,” jawab perempuan beralmamater dengan tidak melepaskan menatap handphonnya.

“Masalahnya, hanya motor mahasiswa yang tidak boleh masuk. Dosen dan sejenisnya, boleh-boleh saja masuk. Kan, tidak adil. Kenapa hanya mahasiswa yang tidak boleh? Kalau meminjam gagasan John Rawls tentang keadilan distributif, fasilitas dan hak semestinya didistribusikan secara setara bagi setiap orang yang berbagi ruang yang sama, bukan malah memangkas hak kelompok tertentu demi mengistimewakan status sosial di atas kertas.”

“Mau bagaimana lagi. Kita hidup di bangsa yang bahkan tidak menulis kata ‘izin’ saja ketika chat ke dosen banyak yang marah dari mereka.”

“Intinya? Kamu setuju atau tidak?”

“Setuju saja, karena bisa mengurangi kebisingan di dalam kampus. Aku ingin mengambil dari sisi positifnya, jadi tidak semua kendaraan menjadi satu di dalam kampus. Cukup hanya kendaraan dosen yang di dalam, mahasiswa di luar. Dan, menurutku tidak masalah.”

Kemeja biru muda merasa tidak sejalan dengan perempuan beralmamater. “Ih, keadilan itu tetap harus dijunjung,” ujar kemeja biru muda.

“Lah, mau parkir di mana? Emangnya kampus ente punya lahan di mana lagi? Di madrasah yang kemarin dikirimin preman? Emangnya kalau parkir di belakang SMK semua akan muat? Kan, tidak. Nah, kalau aku ingin mengambil dari dampak baiknya saja, jadi tidak semua kendaraan bisa masuk ke dalam kampus.”

“Tapi, pemikiran seperti ini akan membuat ketimpangan. Sebab…”

“Americano,” teriakku. Aku sudah tidak penasaran dengan perdebatan mereka. Sedari tadi, sebenarnya americano mereka sudah siap, akan tetapi aku masih cukup penasaran dengan kisah mereka. Akan tetapi semakin ke sini, aku menjadi ingat, aku juga pernah mendebat masalah yang demikian ketika masih menjadi mahasiswa, pun di kampus yang sama dengan mereka. Teori-teori agung tentang bagaimana hak dan beban didistribusikan secara proporsional itu rupanya sering kali luruh seketika di hadapan pos satpam kampus. Keadilan distributif John Rawls barangkali hanya hidup subur di dalam lembar-lembar bab perpustakaan yang sejuk, sementara di luar sana, aturan tebang pilih tetap dipelihara demi kenyamanan mereka yang memegang kuasa. Memang demikian, sebab ada beberapa hal lain yang musti diperhatikan.

27 Oktober 2026, Tangerang Selatan

 

Comments (0)
Add Comment