Matahari Pekanbaru belum sepenuhnya terbit, tetapi udara sudah terasa lengket dan menyengat. Di balik dinding papan bergaris-garis retak pada sebuah kontrakan sempit di gang kecil kawasan Panam tak jauh dari riuh Jalan Garuda Sakti. Rian terbangun oleh derit baling-baling kipas angin tua. Kipas itu berputar enggan, meraung pelan seperti napas penderita asma, hanya sanggup memindahkan udara panas dari satu sudut ruangan ke sudut ruangan lainnya.
Rian menyapu wajahnya yang lembap oleh keringat dingin. Di atas kasur kapok tipis yang kian melesak menghantam lantai semen tebal, ia telentang menatap langit-langit bergelombang bekas bocoran air hujan musim lalu. Bau semen basah, minyak tanah tua, dan aroma mie instan kuah yang tersisa di mangkuk semalam berkelindan padat.
Di kota ini, di tanah Riau yang ditakdirkan berdiri di atas samudera minyak bumi. Bumi tempat pompa-pompa nodding donkey merayap membentur perut bumi tanpa henti. Solar justru menjadi barang mistis. Sesuatu yang dicari bagai emas hitam, diratapi di pinggir jalan, dan diperebutkan hingga memicu darah.
“Rian… belum bangun kau, Le?” suara Mak Piah, pemilik kontrakan tua, terdengar melengking dari balik pintu seng berkarat. “Token listrik tempat kau dah menjerit dari semalam tu. Kalau tak kau isi sore ni, mati lampu kau nanti malam!”
“Iya, Mak. Sebentar lagi Rian keluar. Ini mau siap-siap shift pagi,” sahut Rian dengan suara serak, mencuci dahinya yang basah dengan ujung kaos yang sudah menguning di bagian leher.
Rian meraih dompet kulitnya yang tipis di atas meja kayu lapuk. Di dalamnya tersisa dua lembar uang dua puluh ribuan yang lusuh dan beberapa koin lima ratusan. Cukup untuk membeli nasi bungkus murah dari kedai kopi Bang Jon di persimpangan gang, ditambah dua bungkus mie instan untuk makan malam nanti.
Sebagai seorang operator di SPBU Jalan SM Amin, gaji bulanan Rian kerap habis di minggu kedua untuk membayar sewa kamar, mengirim sedikit uang untuk ibunya di kampung, serta menutup utang beras. Hidupnya adalah presisi matematik yang membunuh: tiap rupiah harus diperhitungkan dengan cermat, seolah satu kesalahan kecil sanggup melemparkannya ke jurang kelaparan.
Namun, di tengah keterdesakan ekonomi yang menjepit dada, ada satu hal yang tidak pernah ditawar Rian: kejujuran. Ayahnya, seorang mantan buruh tebang kayu yang mati ditimpa batang kayu tua, pernah berpesan sebelum napas terakhirnya: “Kalau kau tak punya harta, Rian, simpan baik-baik harga dirimu. Makanan yang dibeli dari uang haram cuma akan jadi api yang membakar ususmu sendiri.”
Pesan itu menancap dalam. Menjadi pasak bumi dalam dada Rian, bahkan ketika godaan di tempat kerjanya datang melambaikan lembaran-lembaran uang ratusan ribu rupiah setiap hari.
Ia memakai seragam merah-putih kebanggaannya yang mulai pudar warnanya. Logo di dadanya sudah sedikit terkelupas, tetapi Rian selalu menyetrikanya hingga rapi setiap malam. Setelah meneguk sisisa air putih dingin dari termos, ia melangkah keluar menembus kabut tipis berselimut debu jalanan Panam yang mulai riuh oleh deru mesin kendaraan.
Jalan SM Amin pagi itu adalah arena penderitaan sepanjang dua kilometer. Barisan truk Fuso, truk tronton pengangkut sawit, tangki CPO, hingga bus antarprovinsi mengular kaku sejauh mata memandang. Kendaraan-kendaraan raksasa itu berhenti membatu di bahu jalan, memakan dua dari tiga jalur utama, menciptakan kemacetan parah yang menyesakkan dada.
Aroma gas buang diesel yang pekat bersenyawa dengan debu tanah kuning Riau yang beterbangan disapu angin kering. Bunyi klakson bersahut-sahutan seperti jeritan binatang terluka. Di bawah naungan kanopi SPBU yang luas, Rian berdiri bersama tiga rekannya, Bang Agus, Budi, dan Rina.
Krisis Bio Solar di Pekanbaru bukan sekadar persoalan bahan bakar habis. Ini adalah buah dari kerumitan sistemik. Kebijakan price ceiling atau penetapan harga eceran tertinggi untuk Bio Solar bersubsidi menciptakan selisih harga yang teramat tajam dibanding solar non-subsidi industri. Jurang harga yang menganga ini menjadi gula-gula manis bagi para mafia dan spekulan.
Di sisi lain, kuota kaku yang ditetapkan BPH Migas untuk wilayah Riau sama sekali tidak relevan dengan kebutuhan riil lapangan. Pekanbaru adalah urat nadi logistik Sumatra dan pusat pergerakan hasil perkebunan kelapa sawit. Ketika musim panen raya tiba, kebutuhan armada truk melonjak drastis, sementara pasokan solar yang diturunkan dari depot Pertamina tetap dibatasi ketat. Hasilnya adalah kelumpuhan total: sopir truk harus mengorbankan waktu kerja 6 hingga 10 jam hanya untuk mengantre beberapa puluh liter solar.
“Satu shift lagi kita bakal kena amuk, Yan,” gumam Budi, operator muda yang baru tiga bulan bekerja. Wajahnya pucat, jemarinya tremor saat memegang nozzle pengisian. “Tengoklah orang tu. Matanya dah merah semua. Dari kemarin petang ada yang belum makan cuma gara-gara nunggu pasokan tangki datang.”
“Tenang kau, Bud. Pegang nozel tu elok-elok. Jangan tampak kau gentar,” sahut Bang Agus tenang, meski matanya yang sembap membocorkan kelelahan luar biasa. Bang Agus adalah senior mereka, pria empat puluh tahunan dengan garis wajah tegas yang telah bekerja di SPBU itu selama lebih dari satu dekade. “Kalau kita melayani sesuai aturan, tak ada yang perlu ditakutkan. Yang bikin kacau tu kalau ada main belakang.”
Rina, petugas kasir yang mengurus verifikasi barcode QR System dan surat rekomendasi dinas, menghela napas panjang dari dalam stan kaca. Rambutnya dililit jilbab hitam yang sedikit miring.
“Rekomendasi dari dinas pertanian banyak yang aneh hari ni, Bang,” ujar Rina lirih sambil menggeser selembar kertas lusuh ke arah Rian. “Tengok ni. Cap stempelnya kabur, nama kelompok taninya tak terdaftar di sistem. Tapi pembawanya ngancam nak memecahkan kaca loket kalau tak dikasih kuota seratus liter.”
Rian mengambil kertas itu, mengamatinya sejenak. “Ini kertas rekayasa, Rin. Tulisannya pakai printer rumahan, stempelnya diedit. Jangan diterima. Kalau kita loloskan, kuota untuk sopir-sopir logistik kecil di belakang tu yang habis.”
“Tapi awak takut, Yan… Orang tu bawa kawan-kawan ramai di luar,” bisik Rina prihatin.
“Tak usah takut. Awak sama Bang Agus ada di sini,” tegas Rian.
Di luar kanopi, matahari terus merambat naik. Panas terik memantul dari permukaan aspal SM Amin yang kehitaman, menciptakan fatamorgana gelombang panas di udara. Bau keringat manusia, besi panas, dan asap knalpot mengepung pompa nomor tiga tempat Rian bertugas.
Seorang sopir truk engkel berkaos oblong lusuh melangkah mendekati Rian. Mukanya kusam, matanya bertahi lalat dan mengantuk berat.
“Bang… tolonglah, Bang,” ratap sopir itu dengan dialek Ocu yang kental. “Awak dari jam tiga subuh nunggu di sini. Sayur sawi sama cabai di bak belakang dah layu semua ni, Bang. Kalau tak sampai di pasar siang ni, membusuk barang tu. Rugi jutaan awak, Bang. Tolong tembakkan lima puluh liter saja…”
Rian memandang mata sopir itu. mata seorang ayah yang desperate membayangkan dapur rumahnya tidak ngebul jika muatannya busuk di jalan. Hati Rian tercekat.
“Sabar ya, Bang. Abang ada QR code-nya? Biar saya scan dulu,” ucap Rian lembut.
“Ada, Bang… tapi kuota harian awak tinggal dua puluh liter di sistem. Boleh tak ditambahi sikit? Nanti awak kasih uang rokok lima puluh ribu untuk Abang…” sopir itu merogoh saku celananya, menyodorkan uang kertas lecek.
Rian tersenyum tipis, lalu menolak halus tangan sopir tersebut, mengembalikan uang kertas itu ke telapak tangannya.
“Uang rokok tak usah, Bang. Simpan saja untuk beli nasi Abang. Tapi untuk solar, saya cuma bisa isi sesuai yang tertera di barcode sistem, dua puluh liter. Kalau saya lebihkan, saya melanggar hukum, dan sopir lain di belakang Abang tak akan dapat bagian. Kasihan orang tu juga, Bang.”
Sopir itu menatap Rian lama, ada rasa kecewa berat namun terselip rasa hormat di matanya. Ia akhirnya mengangguk pelan. “Iya pulo lah, Bang. Makasih ya… Biarlah dua puluh liter ni awak cukup-cukupkan sampai pasar.”
Saat nozzle dimasukkan ke tangki truk engkel tersebut dan angka di mesin digital mulai berputar cepat, sebuah raungan mesin diesel berkapasitas besar menggelegar dari arah jalan raya, memotong barisan antrean secara kasar.
Sebuah truk Fuso tua berwarna hijau tua dengan sasis tinggi meluncur tajam, mengabaikan deretan panjang kendaraan yang telah mengantre berjam-jam. Truk itu langsung memotong jalur tepat di depan pompa nomor tiga. Asap hitam pekat menyembur dari knalpot tingginya, menampar wajah para sopir yang sedang berdiri lesu di pinggir jalan.
“Woy! Sialan! Antre di belakang! Kami dah dari semalam di sini!” jerit seorang sopir truk tronton dari barisan antrean.
“Otak kau di mana, hah?! Kami berjemur dari subuh, kau main potong saja!” teriak sopir lainnya sambil memukul pintu truknya.
Pintu Fuso hijau itu terbuka kasar. Dua orang pria bertubuh kekar melompat turun. Pria pertama memakai kaos ketat hitam yang memperlihatkan tato naga di lengan kanan, wajahnya brewokan dengan bekas luka gores di pipi kiri. Pria kedua berkaca mata hitam, memegang tas selempang kulit yang menggembung tebal.
Seketika, suasana di sekitar pompa menjadi sangat tegang. Para sopir yang tadinya berteriak histeris perlahan membisu, mundur beberapa langkah. Mereka mengenali wajah-wajah itu. Itu adalah kelompok pelangsir. Oknum mafia solar yang menyuplai minyak bersubsidi ke pasar gelap industri perkebunan dan tambang ilegal dengan keuntungan berlipat ganda.
“Diam kalian semua! Jangan banyak bacot! Kalau tak mau truk kalian pecah kacanya, tutup mulut!” gertak si pria bertato sambil memutar-mutar sebuah besi kunci roda di tangannya.
Pria berkacamata hitam melangkah santai mendekati Rian. Ia menepuk bak belakang truk Fuso hijau itu. Di dalam bak kayu yang tertutup terpal kain tebal, Rian tahu betul apa yang tersimpan di sana: sebuah tangki raksasa rakitan besi. Tangki modifikasi berkapasitas puluhan ribu liter yang tersambung langsung dengan pompa mesin penyedot rahasia di dalam kabin. Di dunia hitam pelangsiran, kendaraan ini dijuluki “Truk Helikopter” karena kemampuannya menghisap solar hingga kering dari SPBU ke SPBU.
“Isi penuh. Seribu liter,” kata pria berkacamata hitam itu dingin, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia mengeluarkan sekumpulan kartu QR Code dari tasnya puluhan barcode atas nama orang yang berbeda-beda dan meletakkannya di atas mesin pompa.
Rian berdiri tegak. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan hawa panas menggelegak di dalam dadanya. Ia memandang barcode-barcode rekayasa itu, lalu menatap lurus mata pria di depannya.
“Tak bisa, Bang,” jawab Rian tegas, suaranya tenang namun bergema keras di tengah deru mesin. “Satu kendaraan cuma boleh isi maksimal dua ratus liter sesuai aturan BBM Subsidi. Dan semua barcode ni harus sesuai dengan STNK dan plat nomor kendaraan yang masuk.”
Pria berkacamata hitam itu terkekeh sinis. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Rian, merogoh tas selempangnya, lalu menyelipkan seikat uang kertas seratus ribuan ke dalam saku kemeja seragam Rian.
“Usah banyak gaya kau, Budak. Ini uang rokok lima ratus ribu untuk kau. Tak usah banyak tanya, tekan saja tombol manual di mesin tu, isi sampai tangki atas penuh. Sisanya urusan kami sama bos kau,” bisiknya penuh intimidasi.
Rian tidak berkedip. Tanpa ragu sedikit pun, ia merogoh saku kemejanya, mengambil sekumpulan uang kertas merah itu, dan melemparnya kembali ke atas kap mesin Fuso hijau.
“Saya bilang tak bisa, ya tak bisa, Bang,” ujar Rian dengan nada lebih tinggi. “Uang Abang ni tak bisa beli kejujuran saya. Sopir-sopir di belakang ni dah nunggu dari semalam. Mereka butuh solar untuk cari makan anak bini mereka. Kalau Abang sedot seribu liter, kasihan orang tu!”
“Kurang ajar kau ya!” teriak pria bertato. Ia melangkah maju, mendorong dada Rian hingga Rian terjerembap membentur tiang besi pompa. “Kau budak kecil tak usah ngajar-ngajari kami! Kau tahu siapa yang punya armada ni, hah?!”
Budi yang melihat Rian didorong, langsung berlari ketakutan dari balik tiang. “Mas Rian! Jangan lawan, Mas! Berbahaya!”
Namun Bang Agus tidak tinggal diam. Pria senior itu melangkah maju, berdiri membusungkan dada di samping Rian, mengacungkan tangannya ke wajah si preman bertato.
“Jangan main fisik kau di sini! Ini tempat kami kerja! Kau mau merampok atau mau beli solar?!” bentak Bang Agus garang.
“Agus! Rian! Ada apa ni riuh-riuh?!”
Sesosok pria berbadan gemuk dengan kemeja batik rapi dan perut buncit keluar tergesa-gesa dari ruang kantor SPBU yang ber-AC. Dialah Pak Darmawan, Manajer SPBU SM Amin. Di belakangnya mengikut dua orang pria berjaket kulit hitam yang tersenyum cengengesan.
Pak Darmawan menyapu pandangannya ke arena konfrontasi. Matanya tertuju pada uang ratusan ribu yang berserakan di kap truk, lalu beralih pada pria berkacamata hitam. Bukannya membela anak buahnya yang diintimidasi, wajah Pak Darmawan justru mengulas senyum ramah yang dibuat-buat.
“Eh, Bang Jaka… Ada apa ni? Kok sampai tegang begini?” tanya Pak Darmawan halus sambil menjabat tangan pria berkacamata hitam itu.
“Ini nah, Darmawan! Anak buah kau ni tak tahu aturan main!” bentak pria berkacamata hitam yang dipanggil Jaka itu. “Kami mau isi barang sikit saja, malah dipersulit! Pakai lempar-lempar uang segala! Tak diajari kau rupanya budak-budak ni cara melayani tamu?!”
Pak Darmawan berpaling ke arah Rian. Matanya memancarkan kemarahan yang tertahan.
“Rian! Apa-apaan kamu ini?! Kenapa uang orang ditaruh di situ? Isi saja apa yang diminta Bang Jaka ni! Usah sok jagoan kamu!” tegur Pak Darmawan keras.
Rian menatap manajernya dengan pandangan tak percaya. Dada Rian bergemuruh hebat.
“Pak! Truk ni pakai tangki modifikasi di bak belakangnya! Mereka minta isi seribu liter pakai belasan barcode palsu! Kalau kita kasih, stok Bio Solar kita langsung habis untuk hari ni! Bagaimana nasib belasan truk logistik dan bus umum yang dah antre berjam-jam di luar tu, Pak?! Itu melanggar aturan Pertamina dan BPH Migas!” ceplos Rian membela diri.
“Dengar ya, Rian!” potong Pak Darmawan dengan nada mengancam, melangkah mendekati Rian hingga aroma parfum murahnya tercium menyengat. “Tugas kamu di sini cuma memegang nozel dan menekan tombol mesin! Bukan jadi polisi atau hakim! Masalah aturan dan kuota itu urusan saya sebagai manajer! Bang Jaka ini sudah ada ‘kesepakatan’ khusus dengan manajemen kita!”
Kesepakatan khusus. Rian tahu betul apa arti frase busuk itu. Itu adalah eufemisme dari fee pelangsiran. Komisi gelap sebesar lima ratus hingga satu ribu rupiah per liter yang masuk secara licin ke kantong pribadi manajer dan oknum tertentu dari setiap liter solar bersubsidi yang berhasil disedot oleh mafia pelangsir. Sebuah kejahatan berjemaah yang merampok hak rakyat kecil demi memperkaya segelintir lintah darat.
“Saya tak sudi jadi bagian dari kejahatan ni, Pak!” jawab Rian lantang, membuat para sopir di antrean mulai berbisik-bisik dan mendekat. “Kalau Bapak mau jual solar subsidi ni ke pelangsir, silakan Bapak isi sendiri! Saya tak akan gerakkan nozel ni satu mililiter pun untuk tangki siluman ni!”
Suasana makin memanas. Para sopir truk di belakang mulai bersorak mendukung Rian.
“Betul kata petugas tu! Jangan kasih pelangsir!”
“Kami dah mau mati di jalan ni! Kipas truk mati, minyak habis, barang busuk!”
“Usir truk helikopter tu! Usir!”
Sopir-sopir yang semula takut mulai bergerak maju, mengepung Fuso hijau tersebut. Pria bertato memegang kunci rodanya erat-erat, sementara rekannya menatap liar ke arah kerumunan massa yang mulai tersulut emosi.
Pak Darmawan panik. Wajahnya yang tadinya merah padam kini memucat menyaksikan potensi kerusuhan massa di area SPBU-nya. Ia memandang Rian dengan tatapan benci luar biasa.
“Rian! Agus! Budi! Masuk kantor kalian semua sekarang! Biar shift ini digantikan yang lain!” teriak Pak Darmawan histeris mencoba mengendalikan situasi. “Bang Jaka, tolong mundurkan truknya dulu. Kita selesaikan di dalam!”
Di dalam ruang istirahat karyawan yang berukuran empat kali empat meter di bagian belakang bangunan SPBU, udara terasa sedikit lebih adem meski aroma keringat dan pelumas masih tercium kental. Sebuah kulkas tua bernoda kuning berderum pelan di sudut ruangan.
Rian duduk di bangku kayu panjang, menyandarkan kepalanya ke dinding tembok yang catnya mengelupas. Tangannya yang gemetaran mencoba memegang gelas plastik berisi air teh hangat yang dituangkan oleh Rina.
“Minum dulu, Yan… Biar tenang dada kau tu,” kata Rina pelan. Matanya berkaca-kaca menatap Rian. “Kau berani kali tadi, Yan. Awak yang nengok dari kaca loket dah gemetar lutut awak.”
“Kalau bukan kita yang bertahan, siapa lagi, Rin?” sahut Rian lirih setelah meminum tehnya. “Kau tengok mata sopir-sopir di luar tu. Ada yang bawa anak kecil di dalam kabin truknya karena tak ada uang untuk tinggalkan di rumah. Ada yang belum makan dari kemarin sore. Sementara mafia-mafia tu makan enak dari selisih harga solar yang mereka curi.”
Bang Agus meletakkan bungkus kertas berisi lima buah tahu goreng dan tempe goreng di atas meja plastik. Ia mengambil satu, lalu menyerahkannya kepada Budi yang masih terduduk lemas di sudut ruangan
“Makanlah dulu, Bud. Jangan melamun saja kau,” kata Bang Agus lembut. “Kau belajar sesuatu hari ni. Jadi pekerja kecil macam kita ni, memang banyak dijepit. Dari atas dijepit bos, dari bawah dijepit mafia. Tapi kalau kita menyerah, runtuhlah dunia ni.”
“Bang Agus tak takut kalau kita semua dipecat Pak Darmawan?” tanya Budi lirih, matanya menatap lantai semen.
“Cari kerja sekarang susah kali di Pekanbaru ni, Bang. Awak masih ada cicilan motor, adik awak mau masuk SMA…”
Bang Agus tersenyum pahit. Ia mengelus bahu Budi dengan tangannya yang kasar dan penuh kapalan.
“Takut tu manusiawi, Bud. Abang pun ada anak bini yang mau diberi makan. Tapi ada yang lebih menakutkan daripada tak punya uang: yaitu kalau anak-anak kita makan dari uang hasil memeras air mata orang lain. Uang komisi pelangsir tu beracun, Bud. Sekali kau makan, seumur hidup jiwa kau bakal tergantung sama orang-orang jahat tu.”
Rian memandang Bang Agus dengan rasa hormat yang mendalam. Di ruangan sempit yang berbau minyak itu, di antara bungkus tahu goreng dan gelas plastik murah, Rian menemukan sebuah perlindungan moral yang kukuh. Mereka bukan sekadar rekan kerja yang dipersatukan oleh jam shift dan seragam merah-putih; mereka adalah persaudaraan orang-orang kecil yang memilih untuk tetap bersih di tengah kubangan lumpur dosa.
Tiba-tiba, pintu ruangan istirahat itu terdorong kasar hingga menghantam dinding. Pak Darmawan berdiri di ambang pintu. Wajahnya yang memerah dipenuhi amarah yang membuncah.
“Rian! Ikut saya ke kantor sekarang!” perintah Pak Darmawan dengan suara berat bergetar.
Ruang kerja Manajer SPBU itu terasa dingin menyengat oleh hembusan AC dua PK. Di atas meja kerjanya yang dilapisi kaca tebal, tertata rapi beberapa asbak rokok yang penuh dengan puntung rokok bertumpuk, serta sebuah laptop yang menampilkan grafik penjualan harian.
Pak Darmawan duduk di kursi kulit hitamnya. Ia tidak langsung berbicara, melainkan menyulut sebatang rokok mahal, menghembuskan asapnya perlahan ke udara. Rian berdiri tegap di depan meja tersebut, memegang topi seragamnya dengan kedua tangan.
“Kamu tahu apa kesalahan kamu hari ini, Rian?” tanya Pak Darmawan dengan nada dingin bertolak belakang dengan ledakannya beberapa saat lalu.
“Saya menjalankan tugas sesuai SOP Pertamina dan BPH Migas, Pak,” jawab Rian tegas. “Saya menolak melayani penyelewengan Bio Solar bersubsidi yang menggunakan tangki modifikasi dan barcode palsu.”
Pak Darmawan tertawa terkekeh. Sebuah tawa yang menyisakan rasa jijik di telinga Rian.
“SOP? Aturan? Kertas kerja?!” Pak Darmawan menepuk mejanya keras. “Kamu pikir SOP itu bisa membayar tagihan listrik SPBU ini?! Kamu pikir aturan BPH Migas itu bisa menutupi operasional kita kalau target omzet tidak tercapai?! Kamu itu cuma lulusan SMA, Rian! Jangan sok idealis di sini!”
“Tapi itu hak rakyat kecil, Pak! Hak sopir-sopir truk yang mengantre belasan jam di luar tu! Kalau kita jual ke pelangsir, inflasi naik, harga beras naik, harga cabai naik di Pekanbaru ni! Apa Bapak tak mikir sampai ke sana?!”
“Cukup!” Pak Darmawan berdiri, menudingkan jarinya tepat ke muka Rian. “Saya tidak butuh pahlawan kesiangan di SPBU ini! SPBU ini butuh ketenangan dan kelancaran bisnis! Kehadiran kamu cuma bikin onar, memprovokasi sopir-sopir, dan merusak hubungan baik saya dengan mitra-mitra strategis!”
Pak Darmawan menarik laci mejanya, mengeluarkan selembar kertas yang sudah dicetak dan seamplop cokelat tebal. Ia melemparkan keduanya ke hadapan Rian.
“Ini surat pemutusan hubungan kerja kamu. Efektif hari ini. Dan di dalam amplop itu ada sisa gaji kamu bulan ini ditambah sedikit uang kebijakan dari saya. Tanda tangani surat ini, lepas seragam kamu, dan keluar dari area SPBU ini sekarang juga!”
Ruangan itu mendadak hening. Suara dengung mesin AC terasa kian nyaring. Rian memandang kertas PHK itu, lalu menatap amplop cokelat di sampingnya. Ada getaran hebat di dadanya. Sebuah guncangan ketakutan akan masa depan: Bagaimana ia akan membayar sewa kamar kontrakan Mak Piah nanti sore? Bagaimana ia akan membeli beras? Bagaimana ia akan mengirim uang untuk ibunya di kampung?
Dunia seolah runtuh menimpa pundaknya. Bayangan kamar sempit di Panam, kipas angin berdecit, dan mangkuk mie instan kosong berkelebat cepat di ruang matanya.
Namun, di tengah badai kecemasan itu, bayangan wajah ayahnya dan tatapan mata sopir truk engkel yang memegang uang lusuh lima puluh ribu rupiah tadi pagi mendadak melintas. Ayahnya benar, integritas adalah satu-satunya hal yang tak boleh dijual, bahkan ketika perut melilit menahan lapar.
Rian menghela napas panjang. Beban berat di dadanya perlahan terangkat, berganti dengan sejenis kedamaian yang aneh dan murni.
Ia tidak menyentuh pen itu. Ia tidak menandatangani surat PHK yang hina itu. Rian hanya mengambil amplop berisi sisa gaji murninya tanpa menyentuh ‘uang kebijakan’ tambahan dari manajernya.
“Saya terima pemecatan ini, Pak,” kata Rian dengan suara pelan namun teramat mantap. Matanya menatap lurus ke dalam pupil mata Pak Darmawan yang terkejut. “Tapi saya tidak akan tanda tangani surat ini. Dan saya tidak butuh uang tambahan dari Bapak. Biarlah saya keluar dari sini dengan tangan kosong, daripada saya membawa pulang uang yang berbau minyak curian.”
Rian melepaskan pin nama di dadanya, lalu meletakkannya dengan pelan di atas meja kaca Pak Darmawan.
“Suatu hari nanti, Pak… ketika tanah Riau ini kering dari minyak dan orang-orang saling cakar untuk seliter solar, Bapak akan ingat bahwa pernah ada orang yang mencoba menahan kejahatan ini di sini. Dan Bapak memecatnya.”
Tanpa menunggu jawaban dari manajernya yang membisu kaku dengan muka pucat, Rian membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruangan ber-AC itu.
Saat Rian keluar ke area kanopi SPBU, matahari Pekanbaru tepat berada di puncak kepala. Panas menyengat membakar aspal SM Amin. Antrean truk masih meliuk panjang seperti ular raksasa yang sekarat di tengah padang beton.
Di depan pintu ruang istirahat, Bang Agus, Budi, dan Rina telah berdiri menunggu. Rina menangis sesenggukan, menutup mulutnya dengan kain jilbab. Budi menunduk lesu dengan mata merah, sementara Bang Agus berdiri tegap dengan pandangan penuh keharuan yang mendalam.
“Yan…” panggil Bang Agus dengan suara serak. Ia melangkah maju, memeluk Rian dengan erat. Tepukan tangannya di punggung Rian terasa hangat dan penuh daya. “Kau adikku yang paling gagah. Jangan pernah sesali apa yang kau lakukan hari ni. Kami bangga sama kau, Yan.”
“Mas Rian… maafkan aku tak bisa bantu apa-apa,” bisik Budi sambil menggenggam tangan Rian erat.
“Tak apa, Bud. Kau bertahan di sini, ya. Jaga Bang Agus, jaga Rina. Jangan mau dibeli orang tu,” pesan Rian, berusaha tersenyum meski matanya mulai membasah.
Rina menyodorkan sebuah kantong plastik kecil berisi dua bungkusan nasi dan botol air mineral. “Ini untuk makan siang kau di jalan, Yan… Bawa ya…”
Rian menerima bungkusan itu dengan rasa haru yang meluap. “Makasih, Rin… Makasih semuanya.”
Beberapa sopir truk yang mendengar kabar pemecatan Rian dari Budi mulai berkumpul di pinggir area SPBU. Sopir truk engkel pembawa sayur yang dilayani Rian tadi pagi melangkah mendekat. Pria tua itu melepas topinya, menyalami Rian dengan kedua tangannya yang penuh noda oli kehitaman.
“Terima kasih banyak ya, Adik…” kata sopir tua itu dengan mata berair. “Mungkin kau kehilangan pekerjaan kau hari ni gara-gara membela kami. Tapi doa kami, doa anak bini kami di rumah, bakal mengikut langkah kau kemana pun kau pergi. Orang jujur tak akan pernah mati kelaparan di tanah Riau ni, Nak!”
Sopir-sopir lain membunyikan klakson truk mereka secara serentak—sebuah penghormatan terakhir yang menggelegar di sepanjang Jalan SM Amin. Suara klakson truk Fuso, tronton, dan engkel bersahut-sahutan, memecah kepulan asap hitam dan udara panas Pekanbaru.
Rian melepaskan kemeja seragam merah-putihnya, menyisakan kaos oblong putih polos yang melekat di tubuhnya. Ia melipat seragam itu dengan rapi, lalu meletakkannya di atas meja kasir luar.
Dengan langkah tegap, Rian melangkah meninggalkan area SPBU Jalan SM Amin. Ia berjalan di trotoar jalan raya, menembus deretan panjang truk-truk raksasa yang masih meraungkan mesin diezelnya, menunggu sisa-sisa liter solar subsidi yang kian menipis
Angin siang bertiup kencang, menerbangkan debu-debu jalanan dan menyapu wajah Rian. Dompetnya mungkin hampir kosong, domisili kontrakannya mungkin terancam, dan besok pagi ia tidak tahu harus mencari makan di mana. Namun, saat ia meraba dadanya, Rian merasakan sebuah kelapangan nurani yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Di kota yang dibangun di atas lautan minyak ini. Di tempat di mana solar diperjualbelikan bersama harga diri. Rian berjalan pulang sebagai manusia yang menang. Ia telah menghabiskan liternya yang terakhir di SPBU itu, tetapi ia mempertahankan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada berbarel-barel minyak bumi, sebuah jiwa yang tak berhasil dibeli.