Digrobayangin: Cerita Mini Kang Thohir

Di saat aku lagi resah tak bisa menaruh wayang-wayang itu saat aku pergi, aku pun berfikiran ingin menitipkan pada si Agus, karena dia suka wayang dan mendalang. Aku bilang padanya nanti malam aku ke rumahnya, tapi Agus tiba-tiba datang menghampiri ke rumahku dengan mencari-cari alamatku, “Mas ana sing goleti.” Salah satu keponakanku memberitahunya. Lalu aku menghampirinya, “eh ternyata Agus, monggo mlebet, Gus!” Aku mempersilahkann dan menatap semua wayang-wayangku untuk memilihnya. Agus pun menelpon temannya di Dumeling yang bernama Mas Ali, kami mengobrol ngalor ngidul. Pas waktu berbincang-bincang, si Agus ingin membawa wayangku, tapi tak dibolehin sama mamaku sambil dimarahin. Akhirnya yang dibawa hanya empat wayang kecil saja. Itu pun harus bersembunyi-bunyi ngumpetinnya agar tak dilihat oleh mamaku, karena masih menggrobayanginya. Sing sabar ya, Agus. Mereka berdua pamit pulang, aku pun masih dimarahin sama mamaku. Ah, entahlah. Pusing aku!

Brebes, 13 November 2024

Muhammad Thohir/Tahir (Mas Tair) yang dikenal dengan nama pena Kang Thohir, kelahiran Brebes, Jawa Tengah. Dari dusun/desa Kupu, kecamatan Wanasari. Dari anak seorang petani dan tinggal dari kehidupan sehari-hari bertani, berkebun, menanam bawang merah, padi, kacang, pare, cabai dan sayur-sayuran di ladang sawahnya. Kini, aku sedang menggeluti dunia tulis menulis atau literasi, khususnya sastra Indonesia.

Comments (0)
Add Comment