Ketika jarang bertemu, aku pun hanya bisa menatap rindu.
Aku di sini melambai syahdu, menghalu biru ditepi khayalan aku menatapmu. Duhai sang adinda, ketika itu aku dengar aku menyapamu,
“Dek, ruang ini begitu indah laksana aku menatap rembulan di wajahmu, dan aku menyapa bagaimana kabarmu?” Lalu kau jawab,
“Iya Mas, alhamdulilah baik,” sambil tersenyum kau begitu anggun dan manis, hasrat ini ingin membelai rambutmu dan mencubit pipimu yang imut itu. Akan tetapi, sekarang hanyalah sebuah ilusi di antara rindu dan semu menatap di balik dinding ruang waktu. Semoga kita dapat bertemu untuk mengobati rasa rindu ini, yang lama tak bertemu. Meski kadang aku masih ragu.
Brebes, 08 Oktober 2024
Muhammad Thohir/Tahir (Mas Tair) yang dikenal dengan nama pena Kang Thohir, kelahiran Brebes, Jawa Tengah. Dari dusun/desa Kupu, kecamatan Wanasari. Dari anak seorang petani dan tinggal dari kehidupan sehari-hari bertani, berkebun, menanam bawang merah, padi, kacang, pare, cabai dan sayur-sayuran di ladang sawahnya. Kini, aku sedang menggeluti dunia tulis menulis atau literasi, khususnya sastra Indonesia.