Pada tahun 2014 telah terbit buku 100 tahun Cerpen Riau, yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau, tebal 757 halaman. Buku ini menghimpun 100 Cerpen karya 100 cerpenis Riau. Angka 100 diambil berdasarkan tema satu abad cerpen Riau, yang tonggaknya dipancangkan oleh Soeman HS , cerpenis dan sastrawan kelahiran Bantan Tua, Bengkalis, Riau Tahun 1904. Soeman HS sendiri telah diakui sebagai Bapak Cerpen tanah air bersamaa cerpenis M. Kasim yang berasal dari Sumatera Utara. Karena itu, Soeman HS yang kebetulan orang Riau, sangat pantas dianggap sebagai perintis awal tradisi penulisan cerpen di Bumi Melayu ini.
Kawan Bergelut, yang diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka pada tahun 1938, jika dihitung hingga tahun ini (2014) barulah 76 tahun. Namun jika dilihat berdasarkan kelahiran Soeman HS di tahun 1904 maka bilangannya sudah 110 tahun atau kurang lebih satu abad. Buku kumpulan cerpen serupa juga pernah diterbitkan sebelumnya (tahun 2004) yang diterbitkan oleh Yayasan Sagang Pekanbaru, Satu Abad Cerpen Riau, dimana jumlah penulis cerpen berjumlah 63 cerpen. Kedua buku kumpulan cerpen ini dieditori oleh cerpenis Sutrianto dan kawan-kawan. Tentu saja kedua buku ini ada perbedaannya. Disamping jumlah cerpen yang berbeda, dan sekaligus terjadi penambahan dan perluasan area cerpen itu sendiri. Penerbitan buku 100 Tahun Cerpen Riau, tentu saja merupakan sebuah peristiwa monumental, bukan saja untuk mengingatkan akan tradisi penulisan sastra cerpen di Riau sudah berlangsung selama satu abad, tetapi yang paling penting di dalam buku ini dapat dilihat perjalanan sejarah proses kreatif satra cerpen di rantau ini, bagaimana jatuh bangunnya, bangkit dan tenggelamnya tradisi penulisan cerpen di rantau ini.
Bagi kalangan yang berminat dalam kajian cerpen, tentu saja meneliti tema dan gaya penulisan cerpen, buku ini akan berguna terutama dalam menggambarkan problema yang muncul di kalangan masyarakat kita pada suatu masa tertentu. Bagaimanapun juga sebuah cerpen pastilah menggambarkan situasi yang terjadi dalam masyarakatnya, sekalipun cerpen itu tetaplah karya fiksi, namun fiksi yang bagaimanapun pastilah berjejak dari langkah-langkah yang dijalani oleh kaki-kaki manusia juga. Misalnya saja kalau kita ingat pada cerpen AA Navis, Robohnya Surau Kami. Di sini penulisnya menggugat doktrin agama yang beku, yang seolah-olah ibadah kepada Allah itu melulu hanya sholat, zikir, sholawat, membersihkan dan merawat masjid, berdoa, istighosah. Seolah-olah kerja mencari nafkah, menjadi pemimpin masyarakat, berdagang, membuat pabrik, bukanlah kerja-kerja ibadah. Memang AA Navis melihat masyarakatnya pada waktu itu, secara umum, bahwa pengertian ibadah dalam skala yang sempit dan jumud. Mungkin saja kalau AA Navis masih hidup, dia akan menulis cerpen yang berjudul Kembalinya Surau Kami, sebagai upaya mengembalikan pemahaman masyarakat yang terlalu memuja dunia, memuja harta, memuja tahta, sehingga manusia kehilangan kemanusiaannya. Kesesatan manusia macam ini mau tak mau harus ada pemahaman integratif, pemahaman yang kaffah. Kembali Ke Surau, seperti dahulu buya AR Sutan Mansur pernah menyerukan pada Bung Karno, pasca 1965, untuk kembali ke Masjid, untuk menyadarkan manusia bahwa mengejar dunia dan tahta itu tetaplah dihalalkan namun mestilah dengan ketundukan hati manusia pada nilai-nilai Ilaahi.
Kalau para pemuisi dan dunia puisi sudah punya 2 hari besar, yaitu Hari Puisi Nasional (28 April) dan Hari Puisi Indonesia (26 Juli) dan selama satu dekade ini, dirayakan oleh kaum penyair, namun untuk hari Cerpen Indonesia nampaknya belum ada tanda-tanda perayaannya. Memanglah bersamaan dengan deklarasi HPI pada tahun itu juga (2012) ada Deklarasi Hari Sastra Indonesia (HSI) yang diinisiasi oleh Taufiq Ismail, yang didasarkan pada hari kelahiran cerpenis terkemuka masa lalu Abdul Muis, 3 Juli. Mungkin taklah salah bila nantinya setiap 3 Juli akan menjadi tonggak yang penting bagi dunia penulisan cerpen Indonesia. Namun saya perlu memberi sebuah catatan tentang Bapak Cerpen Indonesia yaitu Soeman HS. Menurut Fakhrunnas MA Jabbar dalam bukunya Soeman HS: Bukan Pencuri Anak Perawan, terbit tahun 1998, penerbit Pemda Provinsi Riau, menyatakan bahwa Soeman HS dilahirkan pada 4 April 1904, di Bantan Tua, Bengkalis. Lihat halaman 18. Oleh karena itu bilamana kaum cerpenis ingin membuat hari raya cerpen, cukup tepatlah bilamana 4 April dijadikan Hari Cerpen Indonesia, berdasarkan hari kelahiran bapak cerpen Indonesia, Soeman HS.
Di hadapan pembaca kini telah terbentang sebuah kumpulan cerpen dari seorang yang punya pengalaman di dunia wartawan (Grup Riau Pos) ataupun juga pengalaman di dunia kepemiluan (Bawaslu, KPU, DKPP). Saya bertemu kembali dengan Bung Ridarman beberapa kali termasuk di kota Pekanbaru. Selain beliau bertempat tinggal di Tanjung Pinang, di Pekanbaru pun beliau punya tempat tinggal. Yang saya tahu, ketika beliau memberikan sebuah buku pada saya, beberapa bulan yang lalu, isinya adalah kumpulan paper ketika beliau menjadi nara sumber di Provinsi Kepulauan Riau. Maklum saja, saya dan pak Ridarman termasuk yang diamanahi jadi ketua dalam sebuah Lembaga Hukum dan Kebijakan Publik dari sebuah ormas Islam di masing-masing provinsi. Ketika beberapa hari yang lalu saya diminta oleh beliau untuk memberi kata pengantar untuk penerbitan kumpulan 15 buah Cerpen yang berjudul Diri Yang Tak Pernah Usai, tentu saja saya terperanjat sekaligus merasa ada kejutan. Boleh jadi saya tak banyak tahu tentang latar belakang kepenulisan beliau sebelumnya. Siapa tahu ada bakat tersembunyi yang terpendam dan baru kali ini, diumur beliau yang tak lagi muda, kini meledak dan ingin berbicara pada dunia melalui cerpen. Boleh juga kini beliau memasuki masa puber ke 2. (?). Keadaan ini yang secara jujur dikatakan oleh bung Ridarman dalam kata pengantarnya. Apa kata-katanya di Kata Pengantarnya ?
Ternyata, cerpen tidak sesederhana yang saya bayangkan. Ia tidak cukup ditopang oleh logika dan data seperti tulisan opini. Cerpen menunutut kehidupan dalam setiap kalimat, suasana dalam setiap jeda, dan kejujuran dalam setiap konflik. Untuk menyelesaikan satu ceritera pertama yang layak baca, saya membutuhkan waktu hampir sebulan.
Saya menulis dari hal-hal yang dekat: peristiwa sehari-hari, kegelisahan kecil dan sisi manusia yang sering luput kita perhatikan. Ide biasanya saya catat di ponsel, lalu saya endapkan. Setelah itu saya kembali membaca, m,enyusun ulang, dan memperbaikinya berulang-ulang hingga terasa utuh.
Coba pembaca perhatikan judul-judul cerpen yang ada dalam buku ini. Diri Yang Tak Pernah Usai, Sendiri Di Tengah Ramai, Yang Tidak Terpilih, Nama Yang Tidak Dipanggil, Seperti Dulu Tapi Bukan, Sisa Yang Tidak Ikut Pergi. Tema cerpennya yang berkisar soal Penelantaran Orang Tua, Ikatan Keluarga Yang Sulit Putus, Perubahan sikap manusia, pertengkaran keluarga, Iri hati, Pengakuan Keluarga, warisan nilai,dan anak yang tak diakui, Cinta dan Pernikahan, Keputusan yang terlambat, Isolasi batin, ketakutan internal, hukuman sosial dan masih banyak lagi. Kalau dilihat dari tema yang menjadi judul cerpen maka terlihatlah Ridarman hendak melukiskan sekitar masalah keluarga dengan segala aspeknya, baik mungkin yang terjadi di masa lalu ataupun yang berkembang sampai masa kini dengan bermacam variasinya. Dengan demikian cerpenis ini menggali sendiri fokus cerpennya dari pengalaman sehari-hari baik yang berkenaan dengan diri sendiri ataupun dari lingkungan keluarganya atau tetangganya. Walaupun cerpenis ini berlatar belakang aktivis kemasyarakatan, namun dari 15 cerpen yang dihidangkan belum ada yang bersinggungan dengan kebijakan publik yang diselenggarakan pemerintah ataupun soal kepemiluan. Memilih apa yang akan ditulis menjadi cerpen adalah soal pilihan sang penulis. Tentu saja hal ini harus kita hormati.
Dalam cerpen berjudul Duduk Sendiri Di Tengah Ramai, ia mempunyai gaya untuk mengawali cerpennya dengan pendahuluan. Mari kita nikmati gaya bahasa yang digunakan.
Badri tertawa paling keras sore itu. Bukan karena ia paling lucu, karena ia paling ingin terlihat seperti orang lain- orang yang masih dianggap biasa. Di bawah tanda biru yang dipasang seadanya, suara orang-orang bercampur: gelas beradu, sendok berisik, dan percakapan yang naik turun seperti ombak kecil. Di salah satu sudut, seorang pria bercerita panjang, diselingi anekdot yang membuat beberapa orang tergelak.
Badri ikut tertawa. Bahkan lebih keras dari yang lain.
“Dulu aku pernah” suara pria itu terputus oleh tawanya sendiri.
Badri menepuk lututnya, ikut menyela, “Ah itu belum seberapa…” Kalimatnya tergantung. Tdak ada yang menoleh.Tidak ada yang menyambung. Suaranya seperti jatuh di anatara kursi-kursi plastik yang berderat. Ia diam sebentar, lalu kembali tersenyum.
Di kiri kanannya, kursi kosong. Awalnya ia tidak memperhatikan. Tok acara seperti ini memang ramai. Orang bisa saja berdiri, pindah, atau duduk di tempat lain. Tapi lama-lama, kosong itu terasa.
Ia melirik ke arah meja lain.Orang-orang duduk rapat, bahu hampir bersentuhan. Bahkan ada yang berdiri karena kehabisan tempat. Sementara disekelilingnya, ruang seperti sengaja disisakan.
Badri menggeser tubuhnya sedikit. Tersenyum ke arah seorang pria yang lewat.
“Sini pak. Duduk di sini. Masih kosong. Pria itu berhenti sejenak. Menoleh. Tatapannya singkat. Lalu berjalan lagi.
Badri menarik napas pelan. Tangannya menggenggam ujung kursi.
Bagaimana kelanjutan dari cerpen yang berjudul Duduk Sendiri di Tengah Ramai ?
Tentu saja di sini kelihaian Ridarman untuk membawa perasaan pembaca ke sana-sini akan dipertaruhkan. Dari bait-bait awal dan cara penyampaiannya saja, terlihat cerpenis ini sudah cukup matang untuk meneruskan ceritanya dengan segala lika-likunya. Tentu saja ada pesan moral dari setiap cerpen yang ditulis oleh Sang Ridarman. Ternyata bung kita yang cukup senior ini layak dan pantas untuk melanjutkan profesi kepenulisan cerpen ini dan sekaligus membuktikan bahwa Riau sebagai wilayah kebudayaan akan terus menerus melahirkan penulis-penulis kreatif yang tak habis-habisnya.
Selamat memasuki dunia cerpen, bung Ridarman.
Husnu Abadi, sebagai salah seorang deklarator Hari Puisi Indonesia ( di Pekanbaru 22 November 2012), yang menyatakan HPI adalah 26 Juli. Pada Tahun 2015, ia terpilih sebagai penerima Penghargaan Yayasan Sagang untuk kategori Seniman/Budayawan Pilihan Sagang. Lautan Rempang (2024), merupakan kumpulan puisi tunggalnya yang kelima setelah Lautan Taj Mahal (2021), Lautan Zikir (UIR Press 2004), Lautan Kabut ( UIR Press, 1998) dan Lautan Melaka (UIR Press, 2002). Buku esei sastra Ketika Riau, Aku Tak Mungkin Melupakanmu (UIR Press, 2004) dan Leksikon Sastra Riau (2010) ditulis bersama M. Badri. Dilahirkan di Majenang (1950), pindah ke Solo (1951), Singaraja (1952), Mataram (1956), Purwokerto (1965), Denpasar (1968), Pekanbaru (1975). Alamat: Jln. Kelapa Gading 20, Kel. Tangkerang Labuai, Pekanbaru-Riau. (E-mail: mhdhusnu@law.uir.ac.id ), Pekerjaan dosen Lektor Kepala (Associated Professor) pada FHUIR.