Apa Kabar DKR?: Catatan Husnu Abadi

Sebuah organisasi kesenian yang semi resmi dan merupakan rumah besar para seniman, adalah Dewan Kesenian. Hampir semua provinsi dan kabupaten di Indonesia, selalu mempunyai organisasi dewan kesenian, tempat dimana aktifitas kesenian dari para seniman, dipertunjukkan. Dewan Kesenian Jakarta, misalnya, kegiatannya selalu menjadi inspirasi kegiatan kesenian di daerah-daerah. Apalagi bilamana Dewan tersebut mengadakan sayembara penulisan roman, misalnya, yang mengundang para penulis se Indonesia. Dari Riau, penulis roman terkenal, Ediruslan Pe Amanriza, selalu memenangkan sayembara roman DKJ masa 1976 sampai 1980. Ediruslan pernah menjabat ketua DKR masa 2002-2007.

Dewan Kesenian Riau, ditubuhkan sekitar tahun 1990 an, yang merupakan jawaban pemerintah atas harapan dan mimpi-mimpi seniman di Pekanbaru. Karena organisasi ini merupakan semi resmi maka di awal kepemimpinannya, DKR dipimpin oleh seorang pejabat pemerintah. Waktu itu, Drs. Rustam S. Abrus, seorang yang masa mudanya menulis cerpen, ditunjuk sebagai Ketua DKR dengan Ketua Pelaksana Hariannya dari kalangan seniman yaitu Idrus Tintin. Gedung Balai Dang Merdu, sayap utaranya, dijadikan kantor DKR, termasuk sebuah gedung teater arena. Kini gedung itu telah menjadi Menara Bank Riau Kepri. Memasuki era reformasi, kepemimpinan DKR dibolehkan dipimpin oleh masyarakat seniman itu sendiri. Bantuan anggaran (hibah) dari pemerintah daerah provinsi selalu ada namun perobahan kebijakan anggaran pada masa 10 tahun terakhir ini, nampaknya sangat tidak menguntungkan perjalanan DKR. Bahkan ketika Ketua DKR dijabat oleh bung Yoserizal Zen yang merupakan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, sokongan bujet bagi DKR belum berhasil diselesaikan. Wal hasil keberadaan DKR yang merupakan organisasi rumah besar para seniman Riau, secara sedikit demi sedikit menjadi pudar atau kemunduran peran dan fungsinya.

Apakah kegiatan kesenian dari para seniman Riau, sangat tergantung pada hidup matinya Dewan Kesenian Riau? Jawabannya adalah cukup menggembirakan, yaitu para seniman Riau tetap saja melakukan kegiatan seninya, dengan bertumpu dan berbasis pada komunitas sastra/seni. Bahkan beberapa tahun terakhir ini, banyak komunitas seni yang berhasil mendapatkan biaya program dari program yang berasal dari kementerian yang menangani bidang kesenian dan bahasa di Jakarta. Komunitas Seni Rumah Sunting pimpinan Kunni Masrohanti, Komunitas Suku Seni pimpinan Marhalim Zaini, Komunitas Forum Lingkar Pena Wilayah Riau pimpinan Indra Purnama, Komunitas Sastra Riau dan lain-lain, tetap eksis dan menunjukkan bahwa kegiatan seni terus berjalan. Bahkan kampus dan sekolah-sekolah, secara periodik mengadakan kegiatan seni, seperti menyambut hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, rangkaian peringatan Hari Puisi Indonesia, setiap 26 Juli, yang puncaknya di Jakarta, merupakan rangkaian kegiatan seni yang menyemarakkan dunia seni di Pekanbaru dan Riau umumnya. Bahkan selama 25 tahun, Yayasan Sagang yang berbasis pada Koran Harian Riau Pos, sejak 1996 sampai 2019, setiap tahun memberi anugerah seni kepada sejumlah sastrawan/seniman, dalam berbagai kategori. Misalnya kategori utama terbagi padaa tokoh pilihan, kemudian buku pilihan, karya non buku, laporan wartawan, komunitas pilihan, tokoh serantau, dan masih banyak yang lain lagi. Disamping itu ada pula kegiatan seni yang ditaja oleh seorang tokoh dengan mengambil tempat di halaman rumahnya yang cukup luas, dengan merangkul banyak pihak. Misalnya Panggung Tok Tan, yang dipimpin oleh sastrawan A. Aries Abeba. Kegiatannya dalam banyak event menjangkau seniman dari negeri tetangga, Malaysia, Singapore ataupun Thailand. Keterkenalan dan jaringan masa lalu seorang Aries dimanfaatkan untuk kegiatan sastra.

Selain itu, kegiatan seni dan budaya yang diadakan oleh rekan-rekan seniman di luar Riau-pun, banyak melibatkan seniman Riau, bahkan dengan pembiayaan mandiri. Contohnya Festival Sastra Internasional Gunung Bintan di Tanjung Pinang, pertemuan seniman di Kuala Lumpur, Brunei, Singapore, Thailand ataupun di kota-kota lain di Indonesia seperti di Takengon Aceh, Banda Aceh, Padang, Padang Panjang, Jambi, Garut, Sumenep, Jakarta, Yogyakarta dan lainnya. Sebuah organisasi seni semacam Perruas (Perkumpunan Seni Asrizal Nur) Jakarta, yang membuat program baca puisi di Turkiye dan Mesir, selalu ada saja sejumlah seniman Riau yang mengikutinya.

Hal yang saya ingin katakan pada tulisan pendek ini adalah bahwa dengan atau tanpa DKR, kegiatan seni dan budaya tetap eksis dan selalu mengharumkan nama baik provinsi Riau di forum regional, nasional ataupun international.

Namun, terus terang juga yang harus dikatakan, tanpa ada peran Dewan Kesenian Riau, hidup berkesenian itu bagaikan makanan tanpa garam, betapa begitu tidak sempurnanya sebuah provinsi yang didalamnya disebut sebagai Rumahnya Pada Penulis atau Tamannya Para Penulis atau Negeri Sahabatnya Para Penulis (Sahibul Kitab, Bustanil Katibin). Oleh karena itu, tentu saja menjadi tanggung jawab semua seniman di Riau, untuk terus menerus mengusahakan agar eksistensi DKR sebagai rumah besar kaum seniman, dapat dikukuhkan terus menerus. Banyaknya komunitas yang ada paling tidak menjadi basis terpenting dari adanya DKR.

Adalah penting kepemimpinan DKR mempunyai jaringan yang memadai dengan berbagai mitra di luar sana, dan mampu berkomunikasi dengan pemegang pemerintahan masa kini. Memang tidak semua kegiatan seni harus mendapat pembiayaan dari negara, namun sepanjang memungkinkan tentu hal itu harus diperjuangkan. Karena bagaimanapun dana anggaran daerah dan negara juga diperuntukkan untuk kegiatan kesenian yang juga dimiliki oleh rakyat biasa.

Sejarah DKR yang dimulai dari kepemimpinan Rustam S Abrus, kemudian dilanjutkan oleh Ediruslan Pe Amanriza, Taufik Ikram Jamil, Eddy Ahmad RM, Kazzaini KS, Yoserizal Zen, Taufik Hidayat dan mungkin oleh siapa lagi nantinya, haruslah memastikan bahwa Riau memang masyhur dan terkemuka dalam bidang kesenian dan kebudayaan.

Boleh jadi kepemimpinan selanjutnya perlu mempertimbangkan kekuatan Komunitas Seni yang selama ini telah berkiprah dalam mengharumkan nama Riau di forum nasional dan international. Mungkin saja, salah satu syarat yang sahih untuk kepemimpinan DKR adalah harus merupakan pimpinan komunitas seni budaya ataunpaling tidak pernah secara sukses memimpin komunitas dimaksud.

Selamat bermusyawarah seniman daerah (Musenda) DKR. Selamat menghadapi era baru yang lebih menantang !

Penulis adalah Anggota Dewan Penasehat DKR (2017-2022) dan penerima Anugerah Sagang 2015, Penulis Buku Puisi Lautan Rempang (2024), Ketua BKKI Riau 2005-2021.

Comments (0)
Add Comment