Dalam halaman facebook Komunitas Dari Negeri Poci, sastrawan Bening Damhuji menulis, terbaca: Bismillah. Innalillahi wa inna ilaihi roojiun. Telah berpulang ke rahmatullah Ayahanda kami Sastrawan H. Dinullah Rayes, paha hari ini, Jumat, 1 Mei 2026 (ba’da salat Jumat) di RSUD Sering, kota Sumbawa Besar. Semoga Allahyarham Ayahanda Dinullah Rayes diwafatkan dalam keadaan terbaik, mulia dan diridhai Allah subhanahu wataala. Kepada para sahabat sastrawan yang mengenal beliau mohon doa agar perjalanan beliau menghadap Allah dilapangkan, penuh rahmah, maghfirah dan menjadi ahli jannah. Insya Allah Amien. Allahummaghfirlaku warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Selamat jalan Ayahanda tersayang. Puisimu terus hidup dan abadi sepanjang masa. Sebelumnya, beberapa jam, sahabat A. Rahim Eltara juga telah menulis dalam kolom fb, hal yang mirip sama. Berita telah berpulangnya sastrawan senior, usia 87 tahun (kelahiran 7 Februari 1937, versi Ensiklopedia Sastra Indonesia).
Sepekan sebelumnya saya mengirimkan beberapa puisi Dinullah Rayes yang parkir di mobile phone saya sejak 30 Maret 2026, kepada redaktur sastra Dr. Bambang Kariyawan untuk memuat puisi tersebut. ”Tolong Pak Doktor, 3 puisi dari Sumbawa ini. Dia kini sedang sakit. Doa kita.” Saya catat waktunya, pukul 14.44 hari Rabu, 29 April 2026. Dan kemudian pada hari itu juga, Rabu, pada pukul 21.35, Tirastimes memuat Puisi-Puisi Dinullah Rayes yang berjumlah 3 puisi, berjudul: Mengukir Pikir Yang Zikir, Kearifan Puisi Sufi, Istirahat Jari Hati Telunjuk di Android Bentar dan Sabar. Puisi-puisi yang yang dimuat di Tiras Times itu saya kirimkan juga ke Dinullah Rayes pada pukul 21.43. Namun setelah waktu itu tak ada respon apapun, dimana biasanya beliau selalu merespon walau hanya dalam bentuk simbol telapak tangan atau dua telapak tangan yang dikatupkan. Sementara itu, puisi-puisi Tirastimes itu saya kirimkan juga ke penyair wanita yang tinggal di Mataram, Lombok, yang kebetulan sangat dekat dengan Dinullah Rayes. Saya kirim Tirastimes pukul 21.43 kepada Bening, dan dijawab pada jam 21.47 dengan kalimat sebagai berikut: “ Insya Allah, abang Prof. Saya masih di Mataram. Ayahanda Dinullah Rayes dirawat di rumah sakit di kota Sumbawa Besar. Mohon doanya ya Bang” .
Sebetulnya saya mengenal nama Dinullah Rayes sejak lama. Jauh sebelum pertemuan saya secara fisik lewat Muktamar HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam) di Jakarta, sekitar tahun 1980-an. Saya tahu nama Dinullah Rayes lewat puisi-puisi, seperti yang dimuat di Majalah Panji Masyarakat, Majalah Kiblat, majalah Pedoman Masyarakat, Mingguan Harian Abadi. Terkagum-kagum juga saya pada nama ini. Saya waktu itu belum jadi apa-apa, walau sudah juga mulai menulis berita, laporan kegiatan ataupun kisah-kisah ringan. Tentu saja ketika ada Muktamar HSBI itu, saya berusaha berdekat-dekat dengan penyair nasional itu. Orangnya terbuka, suka berbicara, dan tidak mau menyombongkan diri, walau dia itu sudah jadi penyair nasional. Setelah tahu siapa diri saya, dan juga orang tua saya yang pernah tinggal di NTB (Mataram Lombok) beliau tampaknya semakin terbuka pada saya.
Di Mataram, saya punya keluarga yang juga seniman. Dia adalah Tarvi Abdullah, seorang perupa dan pegawai Museum. Beliau ini suami dari adik kandung saya, Dra. Usri Indah Handayani, seorang arkeolog. Rumahnya di belakang Museum NTB. Ketika saya mengunjungi keluarga, Oktober 2008, Tarvi pun mengundang sejumlah seniman ke rumahnya. Termasuklah penyair Dinullah Rayes yang kebetulah sedang ada di Mataram. Maka malam itu, terjadilah diskusi seni di rumah seniman Tarvi Abdullah yang kemudian dilanjutkan dengan acara baca puisi.
Namun sebelumnya, suatu yang tak kusangka-angka terjadi beberapa tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2006. Tiba-tiba ia menelepon dari Jakarta dan menyatakan akan ke Pekanbaru dan ingin bersilaturrahmi dengan beberapa kawan. Saya akhirnya menjadi tuan rumah bagi Dinullah Raayes untuk beberapa hari. Karena di UIR sudah terbentuk Senapelan Writter Association (SWA) dibawah pimpinan Mohammad Badri, maka kami adakanlah pertemuan dengan sejumlah mahasiswa pencinta puisi di Masjid Munawarah UIR. Para mahasiswa senang menerima kunjungan penyair besar ini. Acara juga dimeriahkan juga dengan parade baca puisi. Kunjungan ke majalah Sagang pun dilakukan, terutama mengunjungi sahabat Hasan Yunus. Keakraban pun terjadi. Maklum bila dua seniman bertemua, maka riuhlah dunia.
Buku puisi yang telah dihasilkan oleh Dinullah Rayes cukup banyak. Bahkan sejumlah penghargaan dari berbagai pihak pun telah ia terima, antara lain Hadiah Seni dan Lencana bidang sastra Budaya dari Menbudpar RI No. KM.48/KP.107/MPK.2004 tanggal 28 Juli 2004 . Adapun antologi puisinya antara lain : Anak Kecil Bunga Rumputan dan Capung Ramping (1979), Hari Ulang Tahun (1980), Kristal-Kristal (bersama Diah Hadaning, 1982), Buka Daun Jendela Itu (Yayasan Swadaya Membangun Mataram, 79 halaman, 1995).
Keluarga besar Tirastimes tentu saja ikut berdoa semoga Dinullah Rayes diterima disisi Nya dan dapat mencapai ridha Allah. Saya kutip sebait puisinya terakhir yang dimuat di Tirastimes, berjudul Istirahat Jari Hati Telunjuk di Android Bentar dan Sabar:
Tubuh kalbu sembari tidur mencari mimpi yang kurindukan
Sastra-budi daya
Di aneka batu kalbu gunung sedang merenung
Sayapun menulis di kertas bekas putih puisi
Diantara sekawan angin kembara yang mengembara
Saya sakit lansia dan nyeri sendi
Sungguh pedih- pedih sekali
Menidurkan mimpi kelopak mata kepala
Dinganggu angan layang-layang yang putus benang anjungannya
Saya rindu akar cinta kasih fitri
Dipintu Mu saya mengetuk berkali-kali
Sumbawa, Selasa, 31 Maret 2026.
Husnu Abadi adalah salah seorang penulis Riau diantara 5 orang yang menghadiri Kongres SATUPENA ke 1 di Solo April Tahun 2017 dan kini sebagai Penasehat Pengurus Wilayah SATUPENA Provinsi Riau. Masih tetap aktif mengajar di Fakultas Hukum UIR sejak 1986, dan kini masih berstatus Associated Professor dan pernah menerima Anugerah A. Zainal Asikin Kusumahatmaja (2014), Hadiah Sagang (2015). Penghargaan Makrifat Marjani (2022)..