Lava de Cerebrum : Cerpen Sulong a’dzam shuhuf

Lava de Cerebrum

CERPEN  sulong a’dzam shuhuf

 

Sebenarnya kami juga bukan orang dungu.

Dan sering melakukan apa yang tidak seharusnya.

Namun sekarang semua terbalik-balik seenaknya.

Justru waktu kami akan berpegang teguh padanya. [*]

            Simpang lima kota kami itu selalu ramai, dan sekarang semakin ramai sejak di salah satu sudutnya bagaikan di Times Square New York berdiri sebuah perusahaan laundry. Namanya Lava de Cerebrum. Bangunannya terkesan tinggi dan megah, ruang lobinya sangat luas, terasa bersih sekali, dengan lapisan logam berkilat dan sejenis kaca yang berkilauan di sana-sini. Tetapi ini bukanlah usaha dobi atau penatu seperti yang orang-orang dulu kenal. Memang, kerjanya sama-sama mencuci, tetapi yang ddicuci di situ bukanlah pakaian, sajadah, karpet, alaskaki, atau bahkan mobil; melainkan otak!

            Ya. Otak.

Namun ini bukan pula sesuatu yang menakutkan yang mungkin pernah kita kenal sebagai brainwash dengan teknik di antaranya kelopak mata diplester supaya terbuka terus-menerus untuk menyaksikan adegan-adegan dari sebuah rekaman visual secara berulang-ulang selama beberapa waktu, atau bahkan berhari-hari berminggu-minggu; atau sepasang telinganya disumbat dengan earphone untuk mendengarkan rekaman suara tertentu juga secara berulang-ulang selama beberapa waktu, atau bahkan berhari-hari berminggu-minggu; atau teknik-teknik berainwash lainnya; dengan tujuan untuk mengubah pola pikir, keyakinan, nilai-nilai, dan perilaku seseorang secara sistematis. Bukan. Namun prinsipnya hampir sama saja dengan usaha penatu-penatu itu.

            Usaha laundry model baru ini terbilang sangat sukses. Memang, sejak kota kami beberapa tahun terakhir ini menjadi kota yang paling pesat perkembangan pembangunannya, juga berbarengan dengan perkembangan jumlah penduduknya, usaha-usaha penatu kecil dan besar lantas menjamur di mana-mana, hingga bahkan sampai merasuk ke pelosok-pelosok lorong gang dan perkampungan. Kota ini nampaknya sudah mulai malas mencuci sendiri, padahal sementara itu pada saat yang sama teknologi mesin cuci rumahtangga justru semakin canggih dan murah. Orang tidak perlu lagi berkeringat di papan penggilasan atau berbasah-basah dengan baskom rendaman cucian yang kadang-kadang berbau bangkai karena terlupakan berhari-hari. Tetapi rupanya usaha-usaha penatu itu jauh lebih menarik.

Dalam rentang waktu dua tahun, Lava de Cerebrum berkembang dari sepetak toko yang kecil di sudut perempatan jalan itu menjadi usaha yang besar dan bergengsi seperti sekarang ini. Padahal pada mulanya sempat berjalan tersendat-sendat. Sebagai sebuah jenis usaha yang baru sama sekali, orang-orang masih tidak paham dan mengira-ngira apa kegunaannya. Sebagian besar bahkan mencibir dengan setengah ketakutan: apa yang akan mereka lakukan dengan otak kita? Apakah mereka menganggap bahwa otak-otak kita ini semua bisa kotor seperti celana kolor? Namun, beberapa poster dan selebaran yang disebar kemudian berhasil juga memancing rasa penasaran beberapa orang, yang segera setelah merasakan manfaatnya dengan diskon separuh harga lalu menyebarluaskannya dari mulut ke mulut, dari medsos ke medsos, hingga menjadi terkenal dan berkembang seperti sekarang ini.

Iklan dalam poster dan selebaran itu menjanjikan bahwa otak kita akan menjadi ringan dan segar kembali, tajam, serta jernih. Dianalogikan sebagai sebuah hard disk komputer: otak yang semula mungkin sudah hampir penuh oleh data-data yang tidak berguna, data ganda, kontaminasi virus, bug, hingga bahkan baret-baret – yang kesemuanya itu dapat menyebabkan komputer hang, dengan teknik pencucian yang mereka miliki semua itu dapat diatasi dengan mudah tanpa menimbulkan efek samping apa pun. Tidak ada lagi lupa karena terlalu banyak data namun sulit untuk mengakses informasi yang spesifik. Tidak ada lagi kebodohan karena lambat memproses data dengan cepat dan tepat. Hilang kebingungan karena gangguan virus, bug; dan seterusnya.

“Otak seluruh manusia pada dasarnya sama.” tertulis dalam poster dan selebaran itu. “Otak Anda, otak kita, semua pada dasarnya sama saja dengan otak Leonardo da Vinci, Sir Isaac Newton, ataupun Albert Einstein. Yang membedakan adalah cara menggunakannya. Itulah salah satu hal yang membuat otak kita selama ini penuh dengan hal-hal yang tidak berguna, atau bahkan rusak, sehingga kita tidak pernah dapat menyamai mereka. Datanglah ke Lava de Cerebrum dan Anda akan mendapatkan pelayanan dan pengalaman yang mengesankan. Mungkin Anda akan menjadi da Vinci atau Newton atau Einstein berikutnya.”. Kemudian di bagian paling bawah dengan huruf yang lebih kecil, “Kami juga dapat mencuci bersih dengan sangat aman ingatan-ingatan yang tidak Anda inginkan, dan tidak ada siapa pun yang dapat melacaknya kembali.”.

Setahun terakhir, usaha laundri itu sudah merenovasi tokonya hingga menjadi sebesar dan semegah seperti sekarang ini. Ribuan pelanggan yang pernah mengunjunginya menyatakan bahwa setelah mereka mencuci otaknya di Lava de Cerebrum, mereka sekarang merasakan seperti tengah mengalami kehidupan yang baru, yang lebih ringan dan menyenangkan. Anak-anak mereka ternyata memang semakin pintar, sementara orang-orang yang lebih tua hilang gejala-gejala pikun, demensia,  bahkan alzheimer mereka. Berita-berita gembira dan perasaan bangga seperti itu kemudian muncul menjadi cuitan dan selfie di berbagai media sosial internet, yang segera saja menyebar ke mana-mana; ke seluruh pelosok di dunia maya. Akibatnya, pelanggan laundry itu kian meningkat dengan pesat, bahkan sampai ada yang datang dari kota-kota dan negeri-negeri yang jauh. Timbullah antrian panjang yang menjulur hingga keluar gedung ke sekeliling perlimaan jalan yang kemudian menyebabkan kemacetan lalulintas, bahkan kericuhan dan baku-hantam. Lalu digunakanlah sistem kupon antrian, yang konon sekarang sudah sampai ke daftar tunggu hingga 9 bulan berikutnya; hanya kalah dibanding antrian ibadah haji. Panjang antrian yang berdiri di trotoar jalan pun sekarang jadi jauh berkurang. Selain karena ruang lobi sudah makin diperluas, calon pelanggan lain pun hanya tinggal menunggu giliran jadwalnya tiba. Sekarang, sejak sudah ada fasilitas pendaftaran lewat online, antrian itu pun hilang seketika. Luar biasa!

Namun ada saja yang sinis.

“Ah, paling ini sekadar permainan algoritma medsos saja!” cetus salah satu pemilik penatu konvensional, melihat begitu pesatnya perkembangan Lava de Cerebrum.

“Nggak lah.” Temannya malah membantah. “Kita juga kan bisa lihat mereka memang beda banget dari yang lain, kan?”

“Ya, justru karena beda banget itulah algoritma google membuat mereka jadi viral. Atau malah jangan-jangan mereka mengutak-atik algoritma google itu supaya mereka jadi viral; entah gimana caranya. Bayar mungkin.”

“Ah, nggak sampai sebegitunya menurut gua.” bantah temannya lagi. “Lagi pula algoritma bukan hanya ada di dunia digital, dunia search engine, tapi juga di dunia nyata. Bahkan lebih awal lagi.”

“Dunia nyata gimana.” Yang pertama setengah mengejek.

“Ibaratnya begini. Kalau yang di online bisa kita sebut algoritma digital, di dunia nyata kita sebut saja algoritma biologis. Zaman sebelum ada gawai pintar, berita yang menyebar dari mulut ke mulut dapat membuat serombongan orang mendatangi suatu tempat atau berebut membeli barang tertentu daripada yang lainnya. Algoritma biologis itulah yang menggerakkan. Insting makhluk hidup adalah salah satu bagian dari algoritma itu. Seseorang menggemari bakso dan di dalam kepalanya gambar bakso lezat itulah yang mencul terus-menerus dan kemudian ia memakannya setiap hari; algoritma biologis itulah yang telah bekerja.”

“Alah, lu asal jeplak aja.”

Belakangan, Lava de Cerebrum meningkatkan pelayanannya dengan melansir layanan premium. Inilah yang menarik perhatian kami. Ini berupa layanan yang sangat khusus, bersifat privat, pelanggan tidak harus datang langsung ke gedung Lava de Cerebrum, dan waktu dapat disesuaikan. Intinya, tidak ada yang tahu apakah kamu akan atau pernah menggunakan jasa mereka. Memang, meskipun laundry ini dengan cepat menjadi populer, tetapi justru karena itu bagi kalangan atau kelas tertentu, ketahuan telah menggunakan jasa Lava de Cerebrum malahan bisa menjadi buah cibir, atau bahkan kecurigaan. Kalian dapat membayangkannya tentang korupsi, atau pelacuran, atau istri atau gigolo ke sekian. Meskipun banyak di antara kami melakukannya dengan riang gembira hingga bahkan menjadi kebanggaan dan rahasia umum di antara kami, kami misalnya tidak akan pernah mau mendatangi panti-panti pijat atau spa, apalagi kawasan lampu merah. Melainkan kami akan memanggil seorang lady escort ke salah satu hotel, vila, atau resort, atau bahkan ke luar negeri. Tidak ada yang ingin kepergok saat melakukannya. Namun ketika terjadi juga, itu tak lebih dari sekadar kau sedang sial semata.

Beberapa teman dekatku petinggi di pemerintahan mulai bercerita bahwa mereka telah memanfaatkan layanan premium itu. Hasilnya,

“Kau tahu? Otak terasa segar kembali; tetapi itu bukanlah hal yang terpenting. Yang lebih penting adalah kita tidak lagi bisa dilacak oleh siapa pun, termasuk oleh aparat hukum, karena setiap perbuatan dan ingatan yang dulu dengan susah payah dan penuh kecemasan kita sembunyikan dari orang lain sekarang telah sirna. Tidak ada lagi. Clean and clear!”.

“Tidak ada lagi? Maksudnya?”

“Ya, tidak ada lagi tersimpan di dalam ingatan. Persis seperti data komputer yang di-delete, atau bahkan diformat ulang. Ingatan bahwa kau pernah kencan dengan seorang penyanyi dangdut misalnya, dapat kauminta hapuskan secara spesifik. Jadi, tidak akan ada yang tahu. Tidak akan ada yang bisa melacak dan mengoreknya kembali.”

“Bagaimana dengan poligraf?”

Aku membayangkan andai sudah sampai berada di ruang interogasi.

“Lewat.”

“Bagaimana dengan bukti-bukti materil lainnya seperti saksi atau rekaman lainnya? Dokumen? CCTV?”

“Ingatan manusia tentang objek yang sama sesungguhnya saling berhubungan; kata mereka. Ketika ingatan kita dihapus tentang sesuatu hal, ingatan yang sama pada orang lain itu pun kalau ada juga akan mulai mengabur perlahan-lahan. Yang lain-lain adalah urusan pengacaramu kalau kau sampai berurusan dengan aparat hukum.”

“Bagaimana pula kalau kena OTT? Termasuk dari nyonya rumah misalnya?”

“Ah, itu kau sedang sial saja!”

“Makanya, bagaimana pun kehati-hatian tetap perlu.” sambung yang lain.

“Apa otak kita tidak akan rusak?”

“Kau bilang rusak? Bahkan ribuan orang sudah mengatakan sebaliknya. Mereka merasakan seperti sedang menemukan kehidupan baru yang jauh lebih menyenangkan.”

Istriku pun sudah lama juga sibuk menyuruhku untuk menggunakan layanan premium Lava de Cerebrum itu. Ia sendiri sudah menggunakan layanan reguler beberapa bulan yang lalu, dan tak sudah-sudahnya memuji usaha laundry itu.

“Sudahlah Pa, telepon sajalah mereka. Jangan sampai terlambat. Teman-teman Papa kan juga sudah banyak yang memanfaatkannya, dan sekarang mereka aman-aman saja. Sekarang banyak intel yang bertebaran, kan? Kalau Papa sampai kena nanti, kan Mama dan anak-anak juga yang repot.”

“Tapi, Papa masih ragu. Apa memang benar-benar aman.”

“Teman Papa sendiri bilang begitu, kan? Sudah ada yang bulanan, dan mereka nggak apa-apa tuh. Bahkan semakin terlihat segar dan awet muda. Lihat Mama, fresh and ceria, kan?”

Perempuan itu berputar-putar riang seperti gadis 17-an.

“Terus, ingatan apa yang harus Papa hapus?”

“Ah, Papa lebih tahu soal itu.” jawab istriku sambil melengos. “Yang terpenting, apa-apa yang sudah Papa lakukan di kantor papa sehingga kita bisa kaya-raya seperti ini, itu wajib di-delete. Itu yang paling penting, bagi Mama dan anak-anak.”

Karena berbagai desakan itu, akhirnya kupanggil juga layanan premium Lava de Cerebrum itu. Pada waktu yang telah disepakati datang dua orang petugas, laki-laki dan perempuan muda. Mereka terlihat begitu bersih dan rapi, murah senyum, persis seperti dokter dan perawatnya. Datang sembari membawa sebuah koper kecil dan sesuatu seperti termos nasi, yang kesemuanya terbuat dari logam berkilat yang futuristik. Di kamarku, kami kemudian hanya bertiga; bahkan istriku pun tidak diperkenankan menyaksikan. Aku kemudian dipersilahkan duduk rileks di sofa, sementara mereka mempersiapkan segala sesuatunya dengan tangkas, bahkan nyaris seperti tanpa melihat apa yang sedang dikerjakan.

“Sakit tidak, ya?” tanyaku kemudian, lebih terdengar kekanakan.

“Sama sekali tidak, Bapak.” jawab yang perempuan sembari tersenyum manis.

“Jadi, apa yang akan kalian lakukan?”

“Ya, untuk tahap pertama ini kita akan mendata ingatan-ingatan apa saja yang ingin Bapak hapus, letaknya di otak mana, di bagian kuadran atau koordinat berapa, dan seterusnya. Itu saja”

“Lalu?”

“Kalau identifikasi itu sudah Bapak sepakati, maka otak Bapak akan kami bawa.”

“Apa?” aku terkejut setengah mati mendengar itu. Memang, saat menelpon kemaren aku tidak banyak bertanya karena khawatir ada yang akan melacaknya.

“Jangan khawatir, Bapak. Itu bukan pekerjaan yang sulit, dan sama sekali tidak menyakitkan.” yang perempuan lagi-lagi berusaha meyakinkan.

“Kenapa harus dibawa? Kenapa tidak di sini saja?”

“Di sini kita tidak punya peralatannya, Bapak. Dia harus dibawa ke laboratorium kami di Lava de Cerebrum. Di sini tidak memungkinkan untuk dikerjakan. Peralatannya terlalu berat dan besar untuk dibawa-bawa.”

“Jadi, selama otak saya dibawa, saya bagaimana?”

“Bapak tenang saja. Kami sudah menyiapkan otak sintetik untuk sementara. Ada di dalam sini.” Perempuan itu menunjuk benda seperti termos itu.

“Otak sintetik?”

“Ya, tujuannya agar selama otak Bapak kami bawa, otak ini akan menggantikan otak Bapak, tetapi hanya untuk fungsi-fungsi dasar metabolisme. Selebihnya otak sintetik ini akan memberikan Bapak semacam ingatan-ingatan sintetik yang menyenangkan, bahkan seolah-olah itu benar-benar ingatan Bapak sendiri. Jadi, selama proses ini Bapak cukup beristirahat di kursi ini saja, menikmati hiburan dari otak sintetik ini seperti sedang menonton film dengan teknik hologram langsung di mata, atau seperti Bapak sedang berliburan, atau seperti sedang mengenang masa lalu. Bapak dapat memilih sendiri menu yang diinginkan.”

“Berapa lama otak saya akan dibawa?”

“Tidak lama. Biasanya tidak lebih dari 40 jam, Bapak. Tergantung kondisinya, serta seberapa besar kapasitas memori yang harus dihapus, dan disusun serta diharmonisasikan kembali.”

“Bagaimana cara kalian mencucinya? Maksud saya, menghapus ingatan-ingatan itu?”

Perempuan itu lagi-lagi tersenyum manis.

“Itu sebetulnya rahasia perusahaan. Tapi karena Bapak adalah pelanggan premium, kami berkewajiban menjelaskannya – secara umum. Proses yang akan kami lakukan mungkin akan terdengar seperti cerita-cerita atau film-film fiksi ilmiah. Aliran listrik, laser, sinar rontgen, sinar gamma, sinar beta, sinar alfa; yang kami padukan dengan teknik tradisional seperti akupunktur dan hidroterapi; dipandu dengan bidang keilmuan syaraf, neuroscience, dan psikologi. Semua secara presisi. Akurat. Aman. Dan steril. Tanpa menyisakan jejak, apalagi dampak negatif.”

Perempuan itu tersenyum manis.

Terdengar canggih sekali.

“Jadi, bagaimana Bapak. Sudah siap?”

Aku hanya mengangguk. Kemudian, dilekatkanlah ke kepalaku berbagai kabel yang berhubungan dengan koper yang sudah terbuka itu. Di salah satu sisi dalam koper itu ternyata berisi layar monitor, dan di tengah-tengah koper sisi satunya lagi ada semacam lensa kamera sebesar bola tenis yang menghadap ke atas, di antara berbagai tombol dan peralatan lainnya. Ketika dihidupkan, muncullah gambar di layar monitor itu, serta grafik hologram otakku muncul dari lensa bola tenis itu. Gambar di layar monitor adalah ingatan-ingatan yang sedang kupikirkan, sedangkan hologram itu menunjukkan lokasi penyimpanan dari ingatan-ingatan itu. Laki-laki itu mulai menanyakan ingatan-ingatan mana saja yang akan dihilangkan dan perempuan itu menekan sebuah tombol yang kukira mencatat lokasi koordinat di mana ingatan-ingatan yang akan dihapus itu tersimpan. Tentu saja banyak sekali hal-hal yang bersifat sangat pribadi dan rahasia, yang akan membuat banyak orang tersipu-sipu malu bila mengetahuinya, atau bahkan mencaci-maki. Tetapi kedua petugas ini memperlihatkan sikap profesionalitas mereka. Nyaris seperti robot. Tanpa menampilkan ekspresi emosional atas apa yang mereka lihat. Seolah-olah mereka tidak memahaminya, atau bahkan tidak mengetahuinya. Lagi pula, selama proses pendataan itu berlangsung sekali-sekali kami masih membicarakan hal-hal yang lain. Sekali waktu yang perempuan bahkan sempat berpromosi,

“Bos kami bakalan buka usaha yang baru lagi lho, Bapak. Yang bahkan jauh lebih penting dan hebat katanya.”

“Oh ya? Apa itu?”

“Kata beliau, itu akan berkaitan dengan hati manusia.”

“Hati? Maksudnya?”

“Dibanding otak, itu sesuatu yang lebih substantif.”

“O, begitu.”

“Sekarang beliau sedang mencari nama yang tepat.”

Sembilan puluh menit berlalu, selesailah sudah pendataan ingatan-ingatan yang akan dihapus. Sekarang mereka sedang membuka kepalaku, untuk kemudian mengambil otakku dan menggantinya sementara dengan otak sintetis itu. Tak ada rasa sakit sama sekali ketika mereka membongkar tulang tengkorakku dengan sejenis sinar tipis berwarna ungu tajam, entah bagaimana bisa begitu. Namun, persis beberapa saat menjelang otakku diangkat, yang perempuan sempat bertanya,

“Oh ya, ‘hati’ dalam bahasa Latin apa ya, Pak?”

Aku rasa aku masih sempat memikirkannya selama sepersekian detik sebelum kemudian tidak tahu apa-apa lagi.

              Payungsekaki, 0117|0926.

[*] dikutip dari Faust, Johann Wolfgang von Goethe, terj. Agam Wispi, Jakarta: Yayasan Kalam dan Goethe Institute, Oktober 1999, “diucapkan” oleh Parvenu, h. 175.

BIODATA RINGKAS

sulong a’dzam shuhuf adalah sebuah namapena. Bukunya Risalah Jebat: kitab puisi (ISBN 978-602-70023-1-9) meraih penghargaan sebagai Buku Pilihan Sagang 2017. Naskah novelnya “SOPHIE: selikat haroem getah melajoe” terpilih sebagai salah satu dari 5 novel pilihan dari 299 naskah peserta UNNES International Novel Writing Contest 2017. Tahun 2023 menerbitkan novel Matinya Toean Presiden (ISBN 978-623-8350-4-0). Kemudian bersama Kazzaini Ks dan Muhammad Amin mengeditori buku pusparagam Riau Istimewa (ISBN 978-623-6598-61-0), Agustus 2023. Berbagai cerpen, puisi, esai, opini, cerbung, dan kolomnya tersebar di berbagai media (suratkabar dan majalah) cetak dan online, serta buku antologi bersama. Sementara itu beberapa naskah novel, serta antologi puisi, cerpen, dan esainya dalam upaya penerbit
Comments (0)
Add Comment