Gadis Kopi Kenangan: Cerpen Jasmiko

“Uang yang ia dapatkan dengan tanpa susah payah dari orang yang susah payah mencari uang, dalam pikirannya ia rencanakan untuk diputarkan kembali melalui judi online agar berlipat ganda”
***

Seharian bergulat dengan berbagai tipe manusia, sudah barang tentu bahwa malam adalah sesuatu yang sangat ia tunggu. Pasalnya, hari ini ia masuk shift pagi, pukul setengah tujuh berada di outlet. Dua tahun menjadi barista seharusnya sudah membuatnya terbiasa dengan karakter-karakter manusia dengan berbagai pikiran itu, dan ia sadar bahwa memang harus demikian jalan yang ia lalui setiap harinya. Seperti pagi ini, ia berganti seragam, siap menyambut siapa saja yang datang. Lagi-lagi, pasalnya ialah bahwa tempat kopi akhir-akhir ini bukan hanya menjadi tempat melepas pikiran dan menikmati hari, ia sudah bertransformasi menjadi tempat kerja berbagai kalangan.

Dari dinding kaca dipandangnya tukang parkir dengan rompi hijau, yang seolah-olah dengan rompi kebesaran itu ia menjadi tukang parkir formal, tengah duduk santai sebab sepagi ini di depan outlet baru ada kurang dari delapan motor terparkir. Jelas jika waktu senggang seperti ini, maka judi online adalah pilihan yang diambil oleh tukang parkir itu. Uang yang ia dapatkan dengan tanpa susah payah dari orang yang susah payah mencari uang, dalam pikirannya ia rencanakan untuk diputarkan kembali melalui judi online agar berlipat ganda. Pola yang sama seribu kali tetap ia hiraukan, bahwa tidak pernah ia untung sama sekali, dan sebab itulah ia menjadi tukang parkir. Sesekali, Nina, ketika tidak ada rekanan berbincang sembari meracik kopi berpikir untuk menjadi tukang parkir. Jika dipikirkan secara matang dan berdasarkan logika, pasti gajinya lebih kecil jika dibandingkan dengan tukang parkir yang juga dibagi menjadi dua shift kerja. Sore nanti, tukang parkir pagi akan digantikan, begitulah seterusnya. Terlepas dari hitung-hitungannya berapa, Nina sempat berpikir untuk menjadi tukang parkir, sekadar sebagai batu loncatan menuju karir berikutnya mungkin. Bukan tanpa pertimbangan, pasalnya ia pernah membaca tulisan yang mengisahkan Bahlil, bahwa ia pernah menjadi supir angkot dan sekarang menjadi menteri ESDM andalan bangsa.

Lima menit, satu motor berbelok dari jalan raya dan masuk halaman outlet. Bergegas dengan sesekali melihat handphonenya, tukang parkir mengarahkan motor mengisi ruang kosong. “Nah, sip!” ujarnya. “Jangan dikunci stang,” lanjutnya. Dengan senyum getir pemotor mengiyakan, “Hemm…” sebagai ganti dari kata ‘iya’.

Nina mengawasi dari dinding kaca, perlahan pemotor itu turun, melepas helm, merapikan rambut, kemudian berjalan menuju pintu outlet. Tiba-tiba pemotor itu berada di depan etalase pemesanan. “Kopi Kenangan Mantan satu, Ka,” ujarnya. Lelaki itu menyela ucapan selamat datang yang diberikan Nina dengan mengucapkan pesanannya.

“Selamat datang di…” Wajah Nina agak kurang terima, sepagi ini ia harus menemukan jenis manusia demikian.

Ringkasnya, lelaki itu memesan: Kopi Kenangan Mantan, panas, gula normal, ukuran reguler. Selain itu, ia juga memesan agar tukang parkir di depan tadi segera ditertibkan sehingga tidak menambah beban pengeluaran. Tentu pesanan itu tidak ia sampaikan kepada barista dengan ucapan, ia sampaikan dalam ekspresi wajahnya yang kusut yang sebenarnya juga sudah kusut sebab pasti ia terjebak macet di jalan menuju outlet. Ia melanjutkan langkah, duduk di bangku paling ujung ruangan lantai satu, di pojokan. Sembari menyiapkan pesanan, Nina lamat-lamat mengamati lelaki itu mulai mengeluarkan laptop dari tasnya, memencet tombol power – yang tentu hanya perkiraan Nina sebab agak jauh posisi lelaki itu sehingga Nina tidak menau detailnya apa yang ia pencet.

“Atas nama Ka Dimas ready to pick up” panggil Nina melalui pengeras suara. Lelaki di ujung ruangan itu bergegas, kembali duduk setelah mendapatkan kopi hangatnya.

Ah, sudahlah. Mari lupakan lelaki yang sekarang sudah sibuk dengan target hariannya itu. Biarkan hatinya panas setiap melihat berita emas 74 KG milik salah satu manusia mulia negeri ini setiap ia menyelesaikan satu tugas lalu scroll media sosial. Ia membayangkan, bahkan untuk membeli setengah kilo saja gajinya selama lima tahun tidak cukup.

Di halaman outlet, Nina melihat segerombolan mahasiswa berjumlah enam orang, seperti akan masuk ke dalam. Benar, salah satunya membuka pintu kaca. Tawa mereka rerdengar ketika sudah sepenuhnya gerombolan yang berjumlah enam orang itu masuk. Suasana outlet yang sedari tadi tenang kini berubah riuh oleh candaan mereka. Mereka mengenakan almet biru, beberapa dengan bangga tetap melekatkannya pada tubuh, beberapa lagi hanya ditenteng. “Maba yang kemarin bales chatmu, nggak?” Samar-samar tanpa tahu siapa yang mengucapkan, Nina mendengar itu. Maba ialah singkata dari mahasiswa baru, mungkin mereka tengah mengadakan program yang sasaran kerjanya adalah maba.

“Selamat datang di Kopi Kena….”

Lagi-lagi suara Nina terputus oleh tawa mereka, sembari salah satunya berucap, “Ka, kami pesannya dari aplikasi saja.” Nina menjawab, “Baik, Ka,” dengan suara ramahnya. Nina memang ramah, sebab prosedur utama dalam menyambut pelanggan di outlet itu ialah keramahan. Mengamati dari etalase pemesanan, sepertinya segerombolan mahasiswa itu duduk tidak jauh dari posisi lelaki awal duduk. Seperti tahu bahwa kebisingan mahasiswa tidak dapat diredam hanya dengan fokus pada apa yang tengah ia kerjakan, lelaki itu mengeluarkan headset putih dari dalam tasnya, kemudian memakainya setelah sebelumnya menguraikan kabel yang semrawut dengan ekspresi jengkel. Untuk berjuang agar dirinya tidak kebisingan, pun, dia harus berjuang keras.

Beberapa saat pesanan dari aplikasi masuk ke sistem, Nina diam sekitar tiga detik melihat pesanannya. Mahasiswa itu berjumlah enam orang, pesanan masuk baru dua item. Mencoba selalu berfikir positif seperti yang diterapkan pemerintah, misalnya ketika ramai-ramai mahasiswa demo dibandingkan hal positif yakni ramaiannya perayaan kemerdekaan di sebuah istana, maka Nina menyimpulkan bahwa mahasiswa lain tengah bingung memesan dari aplikasi masing-masing, jenis minuman apa yang akan mereka pilih sepagi ini. Baiklah, Nina beranjak menyiapakn dua item yang telah dipesan terlebih dulu.

Dua pesanan selesai Nina buat, belum ada pesanan masuk ke sistem lagi. “Atas nama Ka Icha ready to pick up,” panggil Nina melalui pengeras suara.

Setengah jam berlalu, belum ada pesanan lagi.

Segerombolan mahasiswa itu telah asyik dengan berbagai topik. Mulai dari perkaderan maba, pacar, sampai beberapa kali menyinggung pemerintah. “Ka Dila katanya 2024 kemarin ikut buat konten nangis-nangis pak si gemoy dikeroyok waktu debat,” ujar perempuan berjilbab abu-abu. “Ka Arin juga, tuh,” yang lain menimpali. “Aku punya sreenshootnya, haha.”

“Eh, target kita, kan, masih banyak yang belum terpenuhi. Bagaimana kalau kita mulai gunain cara ekstrim? Kita pacarin saja mereka, beberapa bulan lagi putusin, deh,” usul jilbab merah.

“Ide menarik,” sambut jilbab yang warnanya seperti abu tapi bukan abu, bisa juga dikatakan hitam tapi bukan hitam.

Ah, sepertinya lebih ke warna putih yang sudah lama tidak dicuci, tapi itu benar-benar warna aslinya, bukan karena sudah lama tidak dicuci.

Ah, sudahlah. Mari lupakan enam mahasiswa yang hanya memesan dua item itu. Biarkan mereka sibuk dengan target organisasinya mendapatkan kader mahasiswa baru. Biarkan mereka tidak sempat berfikir untuk apa mereka berorganisasi, tapi menjadi benteng paling depan ketika masa-masa pemilihan Ketua Dewan Kampus dan sibuk melaksanakan doktrin kepada mahasiswa baru. Itu sangat berguna bagi mereka ketika menjadi anggota dewan kelak, lobi-lobi kepada pihak asing agar tidak menyengseng-menyeseng-menyengsengsang – apasih typo mulu, rakyat.

“Selamat datang di Kopi Kena…”

Siklus manusia setiap harinya berjalan, dan Nina menikmati itu semua. Sembari kuliah karyawan di universitas swasta, gajinya tidak ia nikmati sendiri. Ada ibu di rumah, satu adik perempuan yang tengah kuliah di universitas negeri yang sebenarnya juga universitas impiannya. Andai saja bapaknya bertanggung jawab, seperti yang diucapkan oleh Dedi Mulyadi beberapa waktu lalu di momen penyambutan mahasiswa baru sebuah universitas, tentu bukan hanya ingin lahir dari bibit bapak yang demikian, ia ingin lahir sebagai anak Elon Reeve Musk dan ikut merasakan bagaimana rasanya berada di atas rembulan yang selama ini hanya dapat ia pandang.

Di penghujung waktu, sekitar pukul sepuluh malam, Nina bermasud untuk melihat lelaki diujung ruangan yang sedari masuk outlet tidak senyum sama sekali. Tapi karena memang sudah semalam ini, ternyata lelaki itu digantikan oleh pasangan muda-mudi yang tengah asyik berbincang, berdekap tangan, bahkan sesekali menciumnya, adegan yang seharusnya dilakukan di tempat privat, pun harus sudah ada ikatan resmi. Nina tidak bisa membayangkan bahwa hal itu ialah yang dilakukan oleh adik perempuannya di Bandung sana, ia akan berfikir ulang akankah ia melanjutkan mengirim biaya hidup setiap harinya atau membiarkannya berfikir dari mana ia akan mendapatkan uang jika tidak dari kakaknya. Keduanya masih membawa almet berwarna biru, dan Nina tahu bahwa mereka adalah mahasiswa yang letak kampusnya beberapa langkah dari outlet tempat ia kerja.

Lima menit lagi Nina akan menyelesaikan shiftnya. Ada sebuah lagu yang ingin ia dengar sebelum kembali ke rumah, ia segera memutarnya dan semua pengunjung outlet bisa mendengar, kecuali beberapa orang yang telinganya disumpal dengan headset.

Urusan perabotan dan wangi-wangian. Kuserahkan pada s’leramu yang lebih maju. Tapi tata ruang, aku ikut pertimbangkan. Kar’na kalau nanti kita punya kesibukan. Malam tetap kumpul di meja panjang. Ruang makan kita. Berbincang tentang hari yang panjang

Sembari menikmati lagu itu, Nina samar-samar mengitarkan pandangan. Ada lelaki paruh baya dengan laptop dan segepok kertas di mejanya, dengan americano di sampingnya, seperti menerawang jauh ke depan. Tentu Nina tahu bahwa lelaki paruh baya itu ikut menikmati lagunya. Nina menerka, bahwa ia ingat keluarganya di rumah, bocah kecil yang mungkin sudah tertidur sebab menunggu bapaknya tidak kunjung pulang. Nina menerka, bahwa lelaki itu rindu rumah yang lengkap semua anggotanya, suasana yang bahkan sejak kecil pun, Nina tidak pernah merasakan.
Nina berusaha menerjemahkan apa yang diucapkan lelaki paruh baya itu dari kejauhan, melalui beberapa gerak bibir yang ia lakukan.

“Ah, kenapa manusia gendut nan tua itu bisa menjadi presiden!”

Deym, ternyata Nina salah memperkirakan.

Tangerang Selatan, 24 Agustus 2026

Comments (0)
Add Comment