Kisah Hang Lipo terkenal dalam sejarah kesultanan Melaka. Sampai saat ini jejak Hang Li Po meninggalkan keharuan yang abadi atas pengorbanan, dan diplomasi cinta yang diperankan oleh seorang putri Cina. Kisah yang terjadi berabad silam itu hidup dalam dongeng dan cerita terutama pada komunitas masyarakat Cina khususnya kaum baba dan nyonya di negeri Melaka. Ia dianggap sebagai lambang diplomasi antar dua negeri besar dengan melibatkan kisah cinta dan ketidaksetiaan yang paripurna.
Masa zaman dahulu Melaka menjadi tonggak besar bandar perdagangan dan penyebaran ilmu dan juga aset emas di bumi semenanjung Melayu. Rajanya bernama Alauddin Riwayatsyah bersama Bendahara Tun Perak. Kemegahan kesultanan Melaka berkesinambungan dengan generasi berikutnya yakni Sultan Mansyursyah (1456-1477) bersama Tun Perpatih Putih. Pada konteks zaman itulah seorang putri Cina bernama Hang Lipo menikah dengan Sultan Mansyursyah. Kisah cinta Hang Lipo dengan raja Melaka ini merupakan kisah percintaan klasik antara putri Cina dari Dinasti Ming dengan kesultanan Melaka di tanah semenanjung Melayu.
Putri Hang Lipo
Para pengunjung khususnya wisatawan atau pelawat yang datang ke Melaka pastilah tidak melewatkan kesempatan untuk singgah ke makam Putri Hang Lipo yang terletak dijantung kota wisata Melaka. Di samping melihat warisan banteng Farmosa, kampung Portugis, maka lokasi makam Hag Lipo tetap meninggalkan pesona sejarah cinta yang tersendiri.
Kisah sang putri menimbulkan inspirasi dan pemikiran bagi para penulis termasuk penyair Malaysia dan penyaiir luar Malaysia (Indonesia, Brunei, Singapura) mengabadikan cerita turun-temurun itu dalam puisi. Saya berkeyakinan banyak penyair apabila singgah di Melaka menuliskan puisinya tentang putri Hang Lipo. Namun, pada setakat ini saya hanya membatasi dengan memilih dua puisi tentang putri Hang Lipo. Pertama puisi saya sendiri dan kedua puisi Siri Neng Buah (mantan Pengarah Kebudayaan Kesenian Pulau Pinang).
1. Ketika bukit Cina menimbunkan kuburan cinta
Putri Hang Lipo dan raja Melaka
Seperti tak sengaja menabur sejarah
Ketika kini dinding tahta telah jadi rata
Dalam musim yang jelaga
(Shafwan H. Umry, Balada Sang Pelawat, 1982)
2. Bicara Li Po
Tahukah engkau nenda
Kenapa kita persiapkan
Sepurnama berangkat kita ke laut selatan
Aku bakal seorang permaisuri
pada seorang raja bersawo matang
penjaga selat, penjaga pesisir
pembawa empayar leluhur
dari mitos seekor napuh
Depan nendaku
Laksamana Cheng Ho berdatang sembah
Melaka indah di banjarsari
Seribu dagang seribu sentari
Seribu pukul, seribu tawanan
Penemu di mentari timur di kalis barat
Di ufuk baik, disinar runduk
(Sri Neng Buah, Bicara Li Po, 1982)
Putri Hang Lipo
Dengan dua puisi di atas kisah Hang Li Po bermula ketika Maharaja Cina sangat kagum dengan kemashuran dan popularitas Sultan Mansyursyah di Melaka. Demi mempererat di antara kedua negara yang mulai mekar berkembang, sang Maharaja Cina, berniat menikahkan putri Hang Li Po dengan raja Melaka. Rencana besar ini dilakukan Maharaja Cina dengan mengutus laksamana Ming You ke negeri Melaka.
Kisah cinta yang retakpun terjadi antara laksamana Ming You yang selama ini menjalin cinta bahkan sudah bertunangan dengan Hang Li Po, Namun, titah Sang Maharaja adalah harga mati yang harus ditaati. Laksamana Ming You patuh dan setia menjalankan kemauan sang maharaja.
Putri hang Li Po diceritakan dalam kisah sedih itu sangat kecewa dengan tindakan Ming Yo. Kesetiaan laksamana Ming You terhadap perintah raja menjadi pertanyaan besar bagi putri Hang Li Po. Seperti kata ungkapan ‘luka hati mulai berdarah’. Putri Hang Li Po setuju untuk dibawa ke Melaka untuk bertemu dengan raja Melaka. Sang putri berharap dan berdoa agar sultan membatalkan pernikahan itu dengan dirinya.
Ketika tiba di bandar Melaka, sang putri Hang Li Po terkesima dengan penyambutan rakyat negeri Melaka terhadap dirinya. Mereka menyambut putri Hang Li Po sebagai tamu terhormat atas penyanjungan kemesraan rakyat negeri itu terhadap dirinya.
Baginda sultan juga tak kalah hebatnya memberikan pelayanan prima atas kedatangan sang putri. Melihat penyambutan meriah dan semarak itu Hang Li Po mengubah pikirannya yang pada mulanya ingin membatalkan perkawinan itu akhirnya jatuh hati terhadap rakyat negeri Melaka termasuk juga kepada sultan Mansyurshah.
Pada sebuah pesan sekian abad silam putri Hang Lipo berkata, “Kini kusadari kedatanganku bukan karena paksaan ayahandaku. Bukan juga karena sultan Melaka. Namun, tugasku membawa titah Sang Maharaja untuk mengikat persahabatan dua negara menjadi saudara”.
Pada penutup pesan suara hatinya ia berkata, “Jalinan antara kedua negara berdaulat lebih penting”. Akhirnya putri Hang Li Po menerima takdir dirinya untuk setuju menjadi permaisuri sultan Melaka.**
Medan, 27/7/2025
Penulis dosen dan sastrawan tinggal di Medan.