Penyair prolifik Melaka ini memang aset khazanah sastra Malaysia. Puisi-puisinya mengutamakan kekuatan kata sebagai pengucapan dari sebuah pemikiran dan imajinasi kepada khalayak pembaca.Pertemuan pertama ketika itu terjadi pada acara Dunia Melayu (1981). Beberapa tokoh dan budayawan Indonesia saat itu yang muncul selaku pembicara ialah Dr. Taufik Abdulah, Dr. Ibrahim Alfian.
Kemudian pertemuan kedua terjadi lagi menyambung kembali pada pertemuan di masa yang lalu. Ini sebuah pertemuan yang tak diduga-duga, hangat, dan penuh kemesraan persahabatan. Peristiwa ini terjadi pada acara Dunia Melayu Dunia Islam (Oktober 2003) di Kota Melaka.
Ada 20 buah buku puisinya yang terbit dan bertebaran menjadi bahan pelajaran dan bahan bacaan masyarakat Malaysia.
Noor SM begitu dekat dengan pengucapan puisi Indonesia modern. Pemilihan kata dan gaya persajakan sulit membedakannya dengan pengucapan para penyair Indonesia. Semangat puisi Noor SM bertumpu pada bahasa pilihan yang ketat, lugas dan romantik.
Ketika beliau menamatkan sarjana muda sastra justru yang dijadikan bahan kajian adalah puisi Diah Hadaning, seorang wanita penyair Indonesia yang terkenal. Di tengah suasana rehat sehabis diskusi DMDI, kami mencari percakapan yang khusus meliputi dunia puisi.
Tanya (SHU): Cek Noor, saya terkesan sekali dengan puisi Anda dalam “Mata yang Melihat“. Di situ Anda menulis puisi bertajuk “Pintu” (Kekasih yang setia/menutup pintu pada waktunya).
Jawab (NSM) Oh, ya. Anda masih, ingat tentang puisi itu (sambil mengangkat gelas teh tarik, dia tersenyum). Begitulah cara saya untuk mengucapkan sesuatu pesan.
T: Apa sebenarnya tujuan Anda berpuisi?
J: Saya ingin memperlihatkan bagaimana puisi berperan mengenalkan sesuatu tempat, meskipun tempat itu pada mulanya tidak dikenal oleh masyarakat. Puisi juga dapat menampilkan isu-isu aktual semasa baik dari lingkup individu maupun lingkup masyarakatnya,
T: Anda cukup konsisten (berpendirian tetap) dalam memilih bahasa yang pendek untuk mengucapkan sesuatu yang kompleks.
J: Penyair seharusnya memang terlibat dalam bahasa pilihan dan dunia imajinatif. Kekuatan kata itu saya kira merupakan puncak pengucapan puisi. Dan jangan lupa asas manfaat juga memainkan perannya di situ. Apakah puisi itu digemari terletak apakah puisi itu bermanfaat atau tidak.
Puisi memperlihatkan kepada kita tentang kata-kata yang dibangun secara artistik. Memukau, dan adanya keseimbangan bentuk dengan isi (harmoni). Barulah dapat dikatakan penyair berperan membangun dirinya dan berkolerasi dengan orang lain. Ada sebuah puisi yang saya tulis bertajuk “Danau Batur.“
Ketika aku menyeberang danaumu
Rinduku melayang
Bagai elang
Terkepung antara jarak dua tebing
Antara jarak dua kening
Matahari petang atau tenggelam
Takkan tenggelam rinduku sayang.
Di situ saya membandingkan rindu yang dekat seperti jarak tebing dan jarak antara dua kening manusia. Puisi ini ditulis ketika mengunjungi Pulau Bali. Di kota itu saya teringat kepada istri yang jauh. Puisi itupun lahir. Ha…ha… ha….
T: Di samping puisi bertema kesepian atau kesendirian, apakah Cek ada menulis puisi sosial, maksud saya puisi tentang khalayak?
J: Oo ada. Saya kira seorang penyair hendaklah menyuarakan kehendak rakyat, Penyair tak berbeda dengan rakyat yang menghendaki keadilan dan kebenaran. la membangun dan menyebarkan misinya melalui pengucapan puisi. Dalam kebersamaan itu penyair juga tak ubahnya seperti profesi yang lain yang berjuang membangun bangsanya, memajukan masyarakatnya sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Sama ada apakah dia petani, nelayan, dokter, atau pejabat pemerintahan. Siapa saja yang membangun pemerintahan yang adil adalah teman penyair sebaliknya siapa saja yang bertindak, tidak adil termasuk musuh penyair. Keadilan itu adalah sesuatu yang wajar. Apabila kita dapat memperlihatkan kewajaran, maka ia adalah adil.
T: Bagaimana tentang puisi bersuasana relegius kepercayaan kepada Ilahi?
J: Saya juga pernah menulis dua buah puisi hasil perenungan tentang hakikat manusia yang hidup di alam dunia ini.
Ada sebuah pertemuan jagat kecil (hati) dengan jagat semesta (dunia). Renungan itu tidak berhenti pada satu terminal melainkan dia berterusan ke jalur Ketuhanan. Pada puisi “Penumpang-Penumpang Sementara” saya menulis:
Penumpang-penumpang sementara
Adalah kita Kita yang bakal bertolak bakal berangkat entah bila
Bakal tiba di sana
Di tempat kekal abadi.
Kemudian ada puisi mengkaji diri yang saya beri judul “Usia“. Di situ saya membuktikan bahwa dunia saintifik dan dunia artistik bisa bersanding. Misalnya ketika kita berumur 25 tahun, kemudian setelah berumur 40 tahun maka ada perhitungan tanda tolak yakni pengurangan dua usia itu menghasilkan jumlah umur 15 yang semakin berkurang. Jadi bukan umurnya yang panjang, tapi malah bekurang.
Setiap kali tahun berlalu
Usiapun bertambah
Ah, tanda tolak sebenarnya
Dan kita
Kini hampir
Ke garis akhir
Demikianlah perbincangan singkat dengan penyair Malaka Noor SM. Beliau menamatkan program S3 pada Universitas Holyctic USA (1998-2001) Gelar Doktor Sastra (PhD). yang diraihnya berdasarkan tesis “Asean dalam Puisi Melayu Modern.“
Penulis dosen dan sastrawan