Balai Bahasa Sumatra Utara (18/12/2025) menyelenggarakan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) dalam topik Peran Dwibahasa dalam cerita anak. Ada 15 cerita anak yang mengangkat tokoh sastrawan dan wartawan Sumatra Utara.Kegiatan ini melibatkan 15 pengarang yang hadir untuk menerima saran dan masukan dari dua orang pemerhati sastra Indonesia yakni Shafwan Hadi Umry dan Koko Hendra Lubis.
Posisi Pembaca
Cerita anak yang mengangkat tokoh sastrawan Indonesia Sumatra Utara ini dengan sajian dwi bahasa ( Indonesia dan Daerah) baru pertama kali dilakukan oleh badan resmi Balai Bahasa Sumut. Dalam hal ini , ada dua persoalan yang dibahas . Pertama, kemampuan setiap anak termasuk peserta didik berliterasi. Berkomunikasi dengan pikiran sang penulis.Termasuk di dalamnya.keterampilan sang anak menguasai isi bacaan (kata, kalimat dan ungkapan , pepatah, peribahasa, dan pesan budaya).
Bahasa Daerah
Sumatra Utara yang terdiri atas berbagai suku dan budaya digolongkan wilayah heterogen (alam, bahasa, adat istiadat dan mata pencaharian). Kajian linguistik edukasional yang dikenal dengan istilah linguistik paedagogis yang pada awalnya memfokuskan diri pada bahasa ibu/bahasa daerah. Namun akibat tuntutan zaman modern mengakibatkan kita hanya mengutamakan bahasa nasional yakni Bahasa Indonesia untuk mengatasi kesenjangan multilingual.
Dampak pemberlakuan kurikulum nasional ini kita hanya memilih satu bahasa yang sama untuk semua sekolah. Hal ini termasuk kurikulum nasional yang posisinya 80 persen harus diutamakan di sekolah.Kemudian untuk 20 persen lagi dibagi dalam kurikulum muatan lokal dan kurikuum satuan khas pendidikan.
Balai Bahasa Sumatra Utara pernah mengusulkan perlunya dibuat satu pedoman yang memberi peluang bagi daerah di Sumatra Utara intuk memberdayakan Bahasa daerahnya masing-masing dalam pembelajaran resmi di sekolah baik peringkat SD maupun SMP. Pengusulan ini ditindaklanjuti dengan keluarnya peraturan Gubernur Sumatra Utara ( 2017) masa kepemimpinan H.T. Erry Nuradi.
Peraturan Gubernur tentang Bahasa Daerah/bahasa lokal ini menjadi pintu masuk bagi sekolah untuk melakukan terobosan dalam bidang pelajaran Bahasa Daerah sebagai pembelajaran muatan lokal.Kurikulum muatan lokal (Kumulok) dianjurkan untuk disusun dalam memberdayakan kembali Bahasa Daerah sebagai mata pelajaran termasuk menulis Arab Melayu Indonesia (AMI) yang terhenti di zaman Orde lama (1964).
Pembelajaran mulok Bahasa Daerah itu pada akhirnya terkendala di tingkat kabupaten dan kota. Faktor penghambatnya masalah guru, materi pelajaran dan sumber bacaan terutama penyusunan kurikulum ,silabus dan bahan ajar.
Kini Balai Bahasa Sumut sebagai “Benteng Literasi” (pemikiran, perumusan, dan pendayagunaan kebahasaan dan kesastraan) tidak berpangku tangan, tidak menunggu publik bahasa di tengah jalan. Mereka maju langkah demi langkah untuk menggagasi penulisan buku cerita rakyat, legenda, puisi, dan kini menulis tokoh sastrawan Sumatra Utara dalam dwibahasa (Bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia).
Tokoh Orang Terkenal
Tokoh atau legenda manusia terkenal (famous-personality-legends) Sumatra Utara yang dijadikan bahan cerita anak dapat dibagi atas beberapa wilayah bahasa lokal. Misalnya Bahasa Melayu Deli Medan (Chairil Anwar sang Tokoh Pelopor satrawan 1945) Wilayah bahasa Pak Pak Dairi (Madong Lubis) oleh Nurelide. Wilayah Langkat (Chairil kat negheri Kate) oleh Melani Siagian. Wilayah bahasa Mandailing Angkola (Tokoh Parada Harahap) oleh Sri Arianti. Wilayah bahasa Mandailing (Mutiara dari Tanah Mandailing) oleh Chairani Nasution. Kemudian wilayah Batubara (Hamsad Rangkuti, hingga Panggilan Rosul) oleh Sahril dan (Pulpen Kabonaran) oleh Wartono. Wilayah Melayu Panai Labuhan Batu (NA Hadian Parasiden Puisi) oleh Rosliani Wilayah Karo (Henry Guntur Tarigan Pande Bahasa Karo) oleh Labora Tarigan_.Wilayah Tobasa (Sitor Situmorang, Parjalanan Dekket Mulak) oleh Retno Andriani. Wilayah bahasa Mandailing/Angkola (Bahasa Lungun Gofo Alap Ari Pendekar Bahasa) oleh Emil Salim Harahap. Kemudian lagi Bahasa Melayu Asahan (Sang Panggorak Lahirnya Bahasa Persatuan) oleh Medtolia Nuriyanti. Bahasa Melayu Deli (Tiga Sekawan Mencari Rahim) oleh Jufri Hidayat). Bahasa Mandailing Angkola (Sang Pangumbaro) oleh Agus Mulia. Bahasa Batak Toba (Sian Mataniari Guritan Tu Ujung ni Portibi) oleh Salbiyah Nuraini dan terakhir Bahasa Melayu Langkat (Amir Hamzah, Sang Amer Pujangga Baru ) oleh Imran.
Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan pengamatan dan penilaian sejumlah cerita anak yang dikemas rapi dengan ilustrasi peristiwa, tempat , dan wajah para tokoh dalam cerita anak tersebut, perlu juga disarankan agar alih bahasa dari Indonesia ke Bahasa daerah jangan kehilangan wacana kultural lokal (sisipan : pepatan, peribahasa, pantun, ungkapan khas daerah serta umpasa dan syair)
Nilai cerita anak itu termasuk plot (jalan cerita) perlu diperkaya dengan karateristik bahasa daerah (ungkapan, peribahasa, pepatah. Umpasa,dsb) yang mencerminkan dunia budaya pada daerah yang berkepentingan. Watak dalam plot Bahasa Indonesia adalah jalan tol,dan mengutamakan rasio namun watak plot Bahasa Daerah adalah mengutamakan rasa dan jalan berkelok serta tinggi rendah. Termasuk juga apa yang disebut across culture understanding yakni pemahaman lintas budaya.**
Penulis dosen dan sastrawan