Kepinding: Cerpen Shafwan Hadi Umry

Suatu hari Dahlan datang ke rumah pak Lily jam sepuluh pagi . Sebuah rumah seniman musik yang bertapak di pinggir Sei Deli dalam kota yang dijuluki orang tempo doeloe sebagai Paris van Sumatra. Sebatang pohon beringin besar menaungi tempat kediaman pak Lily. Lokasi rumah itu sangat strategis karena berada di tepi jalan besar Raden Saleh besimpang dengan jalan raya depan lapangan Merdeka.

Sering saya juga mampir pada malam tertentu sehabis magrib di tempat pak Lily. Ada hiburan musik Pak Pong depan halaman rumahnya . Seorang pemusik biola dan pemain gendang sedang mengiringi pemantun yang meronggeng bersama pasangannya sesama laki-laki. Kami yang menonton di pinggir arena asyik mendengar alunan musik ditingkahi pantin spontan dari peronggeng.

“Ambil dulu sebuah pispot/letakkan di bawah tempat tidur/kalau pulang tak ada transpot/biarlah tidur di ruangan dapur. Lalu seorang penonton yang duduk jongkok membalas pantun itu, “Keduduk kelumpang paku/berapalah berat pandan bengkuang/Kalau duduk menumpang aku/Berapalah muat badan sebatang”.

“Hewa. Hewa…,” Penonton yang lain bertepuk tangan mengiringi lagu dan sebagian lagi bersorak menyambut pemantun ronggeng Sei Deli. Sebagian penonton duduk berlingkar di pinggir halaman. Sebagian lagi berdiri sambil mengisap rokok.

Kembali kepada cerita Dahlan yang kini meletakkan vespa Kongo.Setelah mencagaknya lalu menunju pintu depan rumah pak Lily.

“Apa kabar kau Lan. Masih hidupnya kau,” Pak Lily menyambut dari halaman samping rumah. Lelaki yang berperawakan tinggi berkaos oblong sedang memompa ban sepedanya. Kemudian memegang ban dengan kedua tapak tangannya untuk memastikan kekuatan angin sudah cukup. Dari jendela dapur istrinya melongokkan kepala memastikan siapa gerangan yang datang. Setelah tahu si Dahlan yang datang, perempuan itu menghidupkan api dengan teropong bambu di tungku.
“Saya ke sini bawa berita paten pagi ini,” kata Dahlan tertawa.
“Apa rupanya kabar yang kau bawa?” Pak Lily berdiri dan mempersilakan Dahlan masuk ke rumahnya.
“ Ada pesan dari RRI Medan, Pak Lily akan diundang untuk main musik yang spesial”
“Ahh, biasanya aku bermain di studio RRI bersama Osim*”
“Ya tapi sekali ini agak beda dengan yang lain itu” kata Dahlan dengan suara tegas dan tertawa.
“Apa pulaknya yang beda?” Pak Lily mengerenyitkan keningnya.
“Saya mendapat info dari pimpinan RRI , ada Datuk Tan Seri dari Malaysia mau hadir menyaksikan pertunjukan musik pak Laly di auditorium Medan.
“Ooh ya” kata Pak Lily sambil mempersilakan Dahlan menyeruput kopi hangat yang baru dihidangkan bininya.
Di luar sekawanan burung gereja dan murai mulai berkicau melontarkan suaranya bagai peluru yang berterusan seperti tak kunjung berhenti.Maklumlah karena pohon rambung merah yang tegak perkasa berdaun rimbun menjadi tempat singgah sang margasatwa itu.
“Cuma satu yang perlu saya tanyakan pada pak Lily”, kata Dahlan sambil meletakkan gelas setelah menikmati kopi .
“Apa itu Lan, kau banyak kali pun komentar”
“Saya mau bertanya, apakah pak Lily ada jas resmi untuk acara itu?” sambil matanya melihat pakaian sang pemusik yang tergantung di kapstok .
“Kalau itunya kau tanya adalah.jangan anggap enteng kau “ sungut pak Lily.

Dahlan tertawa terkekeh melihat tingkah laku Pak Lily.

“Bukan meremehkan.Ini pertunjukan musik disaksikan tamu negara tetangga. Bukan sembarangan, Bos,” kata

Dahlan mempermainkan emosi orang tua itu.

“Supaya Kau tahu ya Lan, pantolan dan jas kusimpan rapi dan tak terganggu bila digantungkan di lemari.”

Dahlan tertawa terkakak-kakak melihat tingkah polah seniman musik itu.

Pak Lily masuk ke kamar tidurnya sebentar meninggalkan Dahlan di kamar tamu. Lelaki yang juga seniman teater HSBI itu meliha-lihat foto yang bergantungan di dinding rumah semi permanen itu. Setengah bersemen setengah lagi berkayu. Melihat foto yang tergantung itu kenangan Dahlan timbul tentang Pak Lily dan kisah suka-dukanya sebagai pemusik di masa revolusi.

Menjelang masuknya Jepang ke Indonesia terutama kota Medan, pak Lily banyak mencipta lagu. Dia bergabung dengan para seniman musik lain yang disponsori Jepang dalam Lembaga Kebudayaan Bunkaka. Banyak orang Indonesia terutama seniman bergabung pada Bunkaka. Oleh karena pada masa itu orang Indonesia menganggap Jepang adalah’sahabat setia’ yang membebaskan Indonesia dari cengkraman penjajahan Belanda,

Pak Lily dengan nama lengkap Lily Suhairi aktif menciptakan musik terutama yang bersifat Simponi. Beberapa karyanya terkenal adalah Rayuan Revolusi, Bunga Rampai dan yang paling populer dan viral di masa itu ialah Aras Kabu.

Ada kisah pengalaman pahit di masa Jepang yang pernah diceritakan Pak Lily kepada Dahlan yaitu lagu ‘Aras Kabu’ . nama lagu ini diangkat dari peristiwa sebuah stasiun kereta api di dekat Medan Tembung dan menjadi saksi dan sekaligus kenangan menyedihkan bagi pak Lily beserta para sahabatnya. Ketika pada suatu pagi rombongan pemusik pimpinan pak Lily hendak bertolak ke Pematang Siantar untuk mengadakan pertunjukan sandiwara, kereta api yang mereka tumpangi di lokasi stasiun Aras Kabu diberondong peluru tajam yang dilepaskan tentara Belanda dari pesawat Mustang.

Sebagian anggota senman musik dan biduan ada yang gugur dan luka berat akibat peristiwa itu. Kenangan pahit yang tragis itu diabadikan pak Lily dalam lagu ”ArasKabu” yang pernah dinyaykan biduanita Nurainun.

“Apa yang kau menungkan Dahlan?” Tiba-tiba suara Pak Lily mengejutkan Dahlan.
“Ooh, tidak. Saya melihat-lihat foto di dinding itu,” kata Dahlan.
“Ini dua pantolanku masih rapi dan bagus!” kata Pak Lily sambil menggotong dua jas pantolannya dari kamar.
Wah paten ini pantolan.”
“ Supaya kau tahu yang satu ini hadiah dari guru musikku Boris Mariev orang Rusia.”

Dahlan meraba-raba dan sekaligus memuji-muji pantolan pak Lily itu.

“Pantolan ini aman dan tersimpan rapi. Tidak selalu kupakai. Hanya bila-bila masa sahaja. Bak kata orang Melayu di semenanjung,” kata Pak Lily tersenyum.

Dahlan berpikir dalam hati dan menduga jas pantolan itu dilipat di bawah tilam agar tak rusak oleh kusut dan lusuh.Namun, Dahlan tdak mempersoalkannya .Itu sudah kebiasaan sebagian orang yang jarang memakai jas kecuali dalam acara resmi.

Tibalah pada saat malam pertunjukan di auditorium RRI Medan. Penonton memenuhi kursi dan balkon arena. Di depan barisan kursi VIP terlihat Datuk Tan Seri duduk didampingi istri dan sejumlah pembesar dan tokoh masyarakat Medan.

Musik pengring yang terdiri atas Orkes Studio Medan (Orsim) mulai menampilkan lagu-lagu yang menjadi pujaan ramai baik di Medan maupun di negara serumpun Melayu di Singapura dan Malaysia .Beberapa lagu yang disajikan para biduan karya Lily Suhaery menggema di ruang auditorium. Misalnya lagu “Bayangan”, “Bunga Labu”, dan “Aras Kabu.”

Dahlan sebagai teman setia dan pengagum lagu-lagu Lily duduk di belakang para pemusik.Ia termasuk suporter Lily dan seniman musik di studio itu berkawan akrab dengannya. Dahlan memperhatikan benar raut keceriaan wajah pak Lily dan termasuk juga menatap pantolan jas yang dikenakan seniman itu. Sangat gagah musisi itu mala mini, bisik hati dahlan. Dengan pantolan yang keren dan kopiah setanpesen yang bertengger di kepalanya menmbah tampan penampilan Pak Lily.

Tiba-tiba saat pak Lily mempersembahkan lagu “Bayangan” para penonton menyambut gemuruh dengan suara dan tepukan yang memenuhi ruang auditorium. Sinar lampu dekorasi panggung menerpa wajah para pemusik dan sang biduan sehingga memperindah penanapilan para pemain,

Dahlan dari jarak bberapa meter di atas panggung memperhatikan ada titik-titik hitam yang menjalar di kerah jas Pak Lily. Ia mendekati Pak Lily sekaligus memperhatikan dengan seksama benda apakah yang menjalar kecil turun naik di bahu sang komponis itu.

”Ada apa, Lan, “ sergah Pak Lily sambil terus menggesek biola memadukan komposisi musik dengan pemusik lain.
“Ada kepinding di jas pantolan ini,” bisik Dahlan ketus sambil menepis dengan jempol dan jari tengahnya. Binatang itu terlempar hilang di lantai.

“Ooh, begitunya.Memang bangsat dia. Kukira ada yang robek,” jawab Pak Lily sambil menoleh sejenak ke arah Dahlan.
“Teruslah main! Hanya ada beberapa kepinding di jas ini!” Kata Dahlan sambl menjentik binatang kecil itu sehngga melayang ke lantai pentas.

Tak ada satupun penonton yang mengambil perhatian atas kejadian insiden kecil itu. Penonton sesekali bertepuk gemuruk terpesona akan alunan lagu yang mengalir dari suara biduan dan gesekan maupun tiupan saksofon dari para pemusik.

Dahlan tetap tegak di belakang sang komponis. Kali ini ia meminjam kipas seorang biduan wanita dan sesekali menjentik kepinding terpental di dekat dinding.***

Medan, 21 Februari 2025

Comments (0)
Add Comment