Duka Besti, Kami Bertakziah ke Kepulauan Meranti
Oleh: Hendrizon Bin (Alm) Nashruddin Zakaria
Delapan teman akrab dengan sebutan ‘Besti” sedang berada dalam sebuah kapal dengan sebuah mesin kapal pancung sedang bergerak menderu kencang, membelah ombak Selat Bengkalis yang tampak lebih tenang dari biasanya. Mereka adalah (Yong Jang, Ngah Seman, Minah, Atan Din, Yong Amat, Jang Leman, Wak Sudir dan Syila) duduk di atas kursi-kursi kayu yang sempit dan bergetar dengan duduk merapat.
Angin laut yang membawa aroma garam menusuk hingga ke tulang, namun tak ada yang mengeluh. Ada Yong Jang yang sedari tadi menatap ujung kapal dengan pandangan kosong, Ngah Seman yang sibuk memastikan logistik perjalanan aman, serta Minah yang menggenggam tas kecilnya erat-alih-alih mencari pegangan pada sandaran kapal.
Di sudut lain, Atan Din, Yong Amat, Jang Leman, dan Wak Sudir, lebih banyak terdiam. Biasanya, perjalanan menyeberang menuju Kepulauan Meranti akan penuh dengan riuh tawa dan ejekan jenaka.
Namun hari ini, langit seolah ikut berbelasungkawa. Kami sedang menuju rumah Syila. Sahabat kami, “Besti” kami, yang baru saja kehilangan tiang penyangga hidup yakni ayahdanya salah satu dari kedua orang tuanya.
Nama “Besti” bagi kami bukan sekadar tren panggilan anak muda di zaman sekarang. Ia adalah sebuah ikatan yang lahir dari rahim nasib yang serupa. Kami bukan orang-orang dengan garis hidup yang lurus sejak awal. Kami berasal dari latar belakang keluarga sederhana sebuah pedesaan, yang tumbuh dalam pergaulan keras hingga sempat mencicipi pahitnya kehidupan. Kami pernah berada di titik di mana tingkah laku kami melampaui batas yang dilarang agama. Namun, justru dari titik nadir itulah kami bertemu. Kesadaran akan kesalahan masa lalu menyatukan kami dalam satu komunitas kecil yang saling menguatkan untuk kembali ke jalan yang benar. Kami memiliki frekuensi perasaan yang sama karena kami tahu bagaimana rasanya jatuh dan sulitnya untuk kembali bangkit.
Di dunia kerja, kami adalah orang-orang yang sering dikesampingkan. Kebijakan pimpinan di masing-masing instansi tempat kami mengabdi terkadang terasa mencekik. Kami sering dianggap sebagai “pelengkap” saja, jarang dilibatkan dalam keputusan besar, dan tak jarang hak-hak kami dibatasi oleh aturan yang kaku.
“Biarlah di kantor kita jarang kelihatan bareng,” bisik Yong Jang tempo hari saat kami duduk di kedai kopi Selero Kito. “Yang penting di luar, kita makin erat. Pimpinan boleh mengatur jam kerja kita, tapi mereka tak bisa mengatur jam persaudaraan kita.”
Itulah prinsip kami. Di kantor, kami profesional, bekerja dalam diam meski sering kecewa dengan situasi daerah yang tak menentu. Namun, begitu jam kerja usai, “Besti” adalah rumah istemewa yang tak satupun dapat meruntuhkannya. Jika salah satu dari kami mendapat promosi atau sekadar bonus kecil, kami akan berkumpul, memberikan ucapan selamat yang tulus tanpa bumbu iri dengki. Sebaliknya, jika ada yang merasa tertekan karena tingkah laku atasan, saran terbaik dan dukungan moral akan mengalir deras sehangat kopi yang kami hirup bersama.
Namun, kabar dari Kepulauan Meranti pagi itu meruntuhkan segalanya. Syila, yang selama ini menjadi penghibur di tengah keluh kesah kami dalam pekerjaan, kini kehilangan dunianya. Dan yang lebih menyakitkan, saat ia sedang berduka, teman tempat kerjanya seolah tak peduli. Tugas tetap menumpuk, dan empati terasa amat sangat mahal untuk di dapati.
“Kita tak boleh membiarkan luka hatinya makin mendalam,” tegas Yong Jang saat kami berkumpul darurat di dermaga keberangkatan. “Syila bukan sekadar teman kantor. Dia keluarga. Kita harus ke Meranti.”
Sepanjang perjalanan laut, ingatan kami berputar pada sosok Syila. Syila adalah pribadi yang paling dewasa dalam menyikapi perasaan. Di antara kami, jujur saja, getar-getar asmara sempat muncul. Ada kalanya Atan Din menaruh hati pada Minah, atau percikan rasa antara Syila dan salah satu dari kami. Namun, kami segera menyadari sebuah kebenaran pahit namun manis: ikatan cinta antara lelaki dan perempuan seringkali rapuh, penuh paksaan, dan terkadang menyembunyikan rahasia yang tak direstui alam.
Kami lebih memilih untuk mengubur keinginan perasaan bercinta yang mendalam. Kami sadar bahwa jodoh adalah kuadrat Sang Pencipta, hak mutlak milik Sang Khalik yang tak bisa dipaksakan oleh ego manusia. Maka, kami sepakat bahwa status “Besti” jauh lebih abadi daripada sekedar pacaran dan cinta kasih yang mungkin berakhir dengan permusuhan. Kami memilih menjadi sahabat dekat buat selamanya.
Kapal akhirnya merapat di pelabuhan Camat milik rakyat dengan sebutan “Pelabuhan Kong-kong”. Kami berjalan kaki menyusuri jalanan yang bergelombang di Kepulauan Meranti yang khas dengan tanah gambut dan deretan rumah kayu. Saat kami sampai di depan rumah duka, bendera putih kecil berkibar lemah tertiup angin.
Syila duduk di sudut ruangan dengan wajah yang sangat pucat. Matanya sembab, tak ada lagi binar jenaka yang biasanya terpancar. Saat ia melihat kami datang—delapan orang pria dan wanita yang nekat menyeberang laut hanya untuknya—ia tak mampu membendung air matanya lagi.
Kami tidak datang membawa karangan bunga mewah. Kami datang dengan apa adanya, kami membawa diri, membawa telinga untuk mendengar, dan bahu untuk bersandar. Wak Sudir memimpin doa, suaranya yang serak bergema di dalam rumah kayu itu, memohon ampunan bagi almarhum dan ketabahan bagi yang ditinggalkan.
“Jangan anggap duka ini sebagai akhir, Syila,” bisik Minah sambil memeluk erat sahabatnya itu. “Ini adalah proses. Kita semua sedang menuju hakikat kehidupan yang sebenarnya. Kehilangan ini adalah pengingat bahwa hanya Tuhan yang kekal.”
Kami pun menginap di sana, membantu apa saja yang bisa dibantu. Dari mulai menyusun kursi hingga menemani Syila bercerita tentang masa-masa sulitnya di kantor yang semakin terasa berat sejak orang tuanya sakit. Kami mendengarkan tanpa memotong, memberikan motivasi agar ia tetap teguh meski kebijakan pimpinan di tempatnya tak memihak pada kemanusiaan.
Tiga hari kami di Meranti. Sebelum pulang, kami berkumpul di beranda, menikmati udara malam Kepulauan Meranti yang tenang.
“Kalian tahu,” suara Syila terdengar lebih stabil sekarang, “aku sempat merasa hidup ini tidak adil. Di kantor dikucilkan, di rumah kehilangan orang tua. Tapi melihat kalian di sini, aku sadar bahwa Tuhan memberikan ‘keluarga’ lain untukku.”
Yong Amat tersenyum, menyulut semangat. “Ingat janji kita, Syila. Di tempat kerja mungkin kita tidak dianggap, tapi di antara Besti, kamu adalah segalanya. Kamu lah yang paling Istimewa”
Kami pulang dengan perasaan yang lebih lega. Kami tahu, tugas kami belum selesai. Perjalanan hidup masih panjang, kebijakan pimpinan mungkin akan terus berubah dan menyulitkan, namun persaudaraan yang lahir dari kesederhanaan dan kesadaran akan dosa masa lalu ini tidak akan pernah lekang oleh waktu.
Duka di Kepulauan Meranti telah mengajarkan kami satu hal: bahwa persahabatan yang didasari karena Allah, yang menghargai rahasia Sang Khalik soal jodoh dan takdir, adalah bentuk cinta yang paling tinggi. Kami kembali ke daerah masing-masing, siap menghadapi rutinitas kerja, dengan keyakinan bahwa sejauh apa pun kami terpisah oleh tugas, hati kami tetap satu dalam dekapan “Besti”.
Bengkalis, 01 Mei 2026.
Hendrizon, Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024 resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024-2026). Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021.No.Hp/WA 0813 1533 2965.