Barangkali orang Indonesia yang hidup pada tahun 70-an masih ingat tentang sosok Kris Biantoro. Wajahnya sering muncul dalam acara TVRI (hitam-putih) yang siarannya sangat ditunggu oleh pemirsa.
Siaran itu seperti acara Aneka Nusantara, acara Safari Ria, Dansya Yok Dansya, acara musik dan hiburan. Ketika ia melantunkan lagu pop ‘Termiskin di Dunia’ lagu Hamdan ATT, banyak pemirsa televisi terpikat atas kepiawaiannya mengalunkan lagu tersebut.
Tulisan ini akan menjurus dan membatasi sikap berbahasa orang Indonesia. Menurut pandangan Kris Biantoro. ‘orang Indonesia tak percaya diri dalam menggunakan bahasanya sendiri’, demikian kata beliau dalam buku Jagat Bahasa Nasional (2003).
Ia menyatakan bangsa ini memiliki sisi lemah. Dengan merujuk buku Gunnar Myrdal – sang ekonom Denmark – bahwa orang Asia dibagi dua yakni; taft nation dan soft nation. Bangsa Asia yang taft bisa dilihat dari caranya makan yang menggunakan sumpit. Mereka tidak pernah bicara nenek moyangnya tetapi dia mengerjakan apa pun petuah nenek moyangnya. Oleh karena itu, bangsa ini bisa hidup dimana-mana. Maksud Kris bisa ditebak yaitu Jepang, China, Korea.
Soft nation, yakni bangsa yang lemah, karena terlalu mudah menerima, bahkan merasa bangga kalau bisa berbahasa asing. Soft nation bisa dilihat caranya makan, langsung menggunakan tangan. Bangsa ini memiliki banyak petuah dari nenek moyang (petuah kearifan) namun tidak dikerjakan dan tidak satu kata dengan perbuatan.
Ketika ditanyakan tentang sikap generasi muda dalam berbahasa ia menegaskan anak muda Indonesia sekarang tidak bisa lagi menyampaikan masalahnya dalam bahasa Indonesia yang runtun dan teratur. “Lalu apa yang terjadi?” sergah Kris.
Pada zaman kecilnya dulu, berkelahi antar pelajar atau tawuran ada etikanya, karena semua anak diajari menjadi seorang kesatria. Satu lawan satu dengan tangan kosong, kalau kalah akui kekalahan. Kemudian berbaikan kembali. Dengan lantang Kris berkata, “Sekarang dialog di kalangan anak-anak muda sudah tidak ada lagi, yang bicara yang ada di tas, kalau di tas obeng ya, obeng itu yang bicara”.
Seterusnya Kris bercerita sebagian orang Indonesia lebih suka menggunakan bahasa Inggris untuk berbagai urusan termasuk urusan iklan. Ada seorang penduduk hendak menjual sepeda motor merek Suzuki kuno. Di kawasan Jakarta Timur tidak ada orang asing tinggal. Namun, pemilik motor tadi lebih suka menempelkan tulisan “for sale” daripada “dijual”.
Orang Inggris pun tahu kebiasaan orang Indonesia itu. Ketika Kris pergi ke London, dan bertemu dengan orang-orang Inggris yang lama tinggal di Indonesia, mereka bertanya, “Hai, Kris bangsamu masih senang bahasa Inggris?” Sekarang pun menurut Kris, orang lebih suka memakai kata Inggis yang diindonesiakan seperti survei, klarifikasi, sosialisasi, komersialisasi, dan naturalisasi. Padahal dalam berbahasa Indonesia orang masih banyak yang salah.
Pelajaran bahasa Indonesia disatukan dengan sastra diharapkan merangsang murid berpikir dan mengasah intuisi sebagai upaya meningkatkan mutu penggunaan bahasa Indonesia. Namun, bila guru bertumpu mengajarkan tatabahasa saja tanpa mengintegrasikannya dengan sastra yang bernuansa humor, dapat dikatakan pelajaran itu bisa membosankan.
Kris yang sempat belajar bahasa Mandarin, menerima cara belajar yang lebih menarik dan bersuasana humor. Kris masih ingat salah satu ceritanya. Coba baca berikut ini:
“Ada seorang China yang berasal dari desa, dia bosan menjadi petani, dia ingin menjadi pedagang di Jungceng (pecinan). Dia melamar, terus diajarkan begini: kamu sekarang jual sepatu, nanti kalau ada pembeli kamu bilang, ‘sepatu ini luar negeri punya, ini kuat sekali, teman saya pakai sudah tiga tahun tidak rusak. Saya dengar di sana juga jual sepatu, tapi kelasnya, kelas dua nggak seperti ini. Saya dengar sebentar lagi sepatu ini sudah akan habis karena kita harus tunggu dari luar”. Terus pegawai itu bilang, “Oh, itu kan menipu”. “Kalau anda tidak bisa menipu jangan berdagang”.
Pada teks percakapan di atas gramatika bahasa dikembangkan. Kris mengkritik metode pengajaran di sekolah. Menurut beliau gaya atau sistem memberikan pelajaran harus diubah. Bahkan tidak ada salahnya kita meniru dari negeri orang seperti pelajaran bahasa China yang memakai short story yang membuat murid bergairah mengikuti pelajaran.
Sehubungan dengan pemberlakuan kurikulum Merdeka yang sudah berjalan beberapa tahun ini kini kita menantikan hasil dari kurikulum merdeka tersebut.
Menurut pakar pendidikan bahwa kurikulum mata peajaran bahasa Indonesia di sekolah menengah adalah kurikulum yang berpusat pada tematik dan integratif, seperti saran Kris Biantoro. Kuikulum ini dapat dijadikan salah satu solusi yang positif dalam meningkatkan kecintaan orang terhadap bahasa Indonesia..***
• Penulis Ketua Satupena Sumut