Membaca Sitor Situmorang dan Emilo Salgari di Italia: Catatan Shafwan Hadi Umry

Sitor Situmorang

Dunia bacaan sastra anak di Italia dibangun berdasarkan kisah petualangan perompak Melayu dari Pulau Kalimantan. Tradisi bacaan anak Italia ketika itu diisi dengan roman petualangan orang Melayu Sandokan yang ditulis oleh Emilio Salgari (1861-1911).

Seri kisah perompak Melayu ini sebanyak 11 buku telah meninggalkan keharuan yang abadi bagi dunia kanak-kanak dan remaja Italia sejak tahun 1883.

Kisah perompak Melayu Sandakan berlatar belakang hutan rimba Kalimantan telah merasuk dalam dunia bacaan anak-anak Itala dan dunia fantasi mereka (Rivai, 2003:4).

Sampai sekarang roman pahlawan model Robin Hood ini terus-menerus dicetak dan terbit dalam berbagai bentuk cerita bergambar/komik. Kemudian banyak dimainkan dalam bentuk teater sampai film dan ditayangkan di sinetron dalam film kartun.

Emilo Salgari yang dikenal sebagai penulisnya tidak pernah diakui sebagai pengarang dalam dunia sastra Italia, malah disepelekan oleh para kritikus.

Hal ini sama dengan nasib para pengarang komik Indonesia (Sumatra Utara) seperti Zam Nuldyn, Bachzar As, Taguan Hardjo, Emar Djas, Ary Darma, dan lain-lain.

Mereka pernah mewariskan kisah heroisme, komedi, satire politik, kekuasaan kisah percintaan dan perang antarpara pendekar. Sebutlah cerita Morina dan Sulong karya Taguan Hardjo, Datuk Seruwai karya Zam Nuldyn, Selendang Delima (Ary Darma), Si Perkis Cucu Klowor (Djass), Panglima Nayan (Bachzar As.).

Namun Komikus Italia seperti Salgari masih beruntung. Meskipun ia dikucilkan oleh para kritikus, ia tetap hadir dalam tiga dimensi yang berbeda tapi saling berkaitan satu dengan yang lain, yakni dunia nyata, dunia fantasi, dan dunia pengarang.

Pada abad ke-21 ini Italia masih dapat menyaksikan film kartun dan menemukan buku roman Perompak Melayu karya Salgari. Sebaliknya generasi dunia bacaan anak-anak muda kita di Indonesia hanya mengenal Italia melalui sepak bola dunia yang dipentaskan klub-klub tersohor seperti AS Roma, Juventus, Inter Milan dan Napoli.

Tradisi sastra yang terputus yang dimulai oleh Salgari tentang Indonesia (dongeng petualangan perompak Melayu) kini tersambung kembali pada paruh abad ke-20 ketika Sitor Situmorang menulis puisi Lagu Gadis Itali dan Sutan Takdir Alisyahbana menulis novel Grotta Azzurra. Sebuah kisah kasih dengan latar belakang budaya dan alam Italia.

Silvana Maccari ‘senang banget’ namanya ditabalkan dalam puisi ”Lagu Gadis Itali” tersebut. Wanita itu kemana-mana membanggakan namanya tercantum abadi dalam sajak Lagu Gadis Itali. Informasi ini membuktikan bahwa puisi adalah dunia imajinasi yang diangkat dari realitas keseharian.

Kisah perjumpaan Sitor dengan sang wanita itu. Lalu penyair meneruskan bayangan sang wanita dalam sajak yang bersuasana “Kerling Danau di pagi hari”. Kita turunkan satu bait puisi tersebut.

Lagu Gadis Itali
Buat: Silvana Maccari

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Jika musimmu tiba nanti
Jemputlah abang di teluk Napoli

Sejarah Sitor

Sejarah Sitor adalah bagian dari sejarah sastra Indonesia modern. Sitor juga dikenal sebagai pengarang cerita pendek terbaik Indonesia. Kritikus A.H. Jhons berpendapat bahwa pemilihan orientasi dari sikap puisi Sitor Situmorang dan seni “humanisme universal” yang merupakan prinsip pembimbing dari apa yang dinamakan Angkatan 45 ke pandangan seni yang mengharuskan seniman langsung bertanggung jawab dalam menindaklanjuti kebijakan sosial dan politik yang khas akhir-akhir ini menjadikan karyanya lebih menarik.

Program BIPA di Italia

Kehadiran Sitor Situmorang. Sutan Takdir Alisyahbana, Ajip Rosidi dan beberapa pakar Bahasa yang mengajarkan Bahasa Indonesia melalui program BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutung Asing) telah menjadikan Indonesia dikenal di Italia.

Setelah terbentuk Negara-negara pasaran bersama Eropa mereka telah mengambil kebijakan dalam bentuk sistem perubahan kurikulum universitasnya (Rivai. 2003).

Puisi “Lagu Gadis Itali” memiliki sejarah panjang. Ia melukiskan gambar danau teluk Napoli yang indah yang bertemu gambar danau tempat kelahiran Sitor Danau Toba di Sumatera Utara. Persamaan fisikal dan panorama lanskap danau mengembangkan interteks puisi yang memukau Sitor untuk menuliskan baris-baris puisi bergaya pantun.

Saya dalam pertemuan yang mengejutkan dengan wanita Itali pernah bertemu dengan wanita ahli linguistik Itali di Jakarta, tahun 2005.

Meskipun minat dikalangan orang Italia belajar bahasa Indonesia sedikit, kenyataannya sekarang ini bidang studi bahasa Indonesia masih memiliki para peminat tertentu di kalangan pribadi, milik segelintir orang, para pakar peneliti dan juga ilmuwan.

Beberapa tahun yang lalu di luar “dunia akademis”, Indonesia masih dikacaukan dengan Indocina dan jarang dapat menyebutkan secara tepat tempat wilayah Nusantara kita.

Hal ini dapat dilihat dari motto, ‘yang tidak resmi’ yang dipromosikan di Italia yakni: Pulau Bali itu ada di Indonesia , bukan Indonesia yang di Bali’.

Suatu hal yang ironis di Indonesia kemudian dikenal dan menjadi berita ketika masalah Timor Timur yang kemudian disusul dengan krisis moneter yang melanda negara kita serta berbagai kerusuhan dan juga bencana Tsunami. Indonesia mulai disorot dan ramai dibicarakan walaupun tentu saja dengan nada negatif.

Informasi yang tak berimbang ini sebuah kenyataan pahit yang harus diterima ketika kekuatan sastra yang dikumandangkan Sitor Situmorang, Takdir Alisyahbana serta ‘kisah perompak Melayu’ tak terdengar lagi nyaring menggema di Italia karena dikalahkan hingar bingar politik dan korupsi serta aksi unjuk rasa dan amuk massa yang sering terjadi di negara kita.***

*Penulis Sastrawan tinggal di Medan

Comments (0)
Add Comment