Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F. Daye. Terbit Mei 2026 oleh Rumahkayu Pustaka.
“Singkarak” terdiri dari 26 cerpen yang ditulis dalam kurun waktu tahun 2005 (2), 2006 (10), 2007 (4), 2008 (2), 2010 (2), 2012 (1), 2014 (1), 2020 (2), 2021 (1), Tanpa tahun (1). Dilihat dari persebaran waktu tahun 2006 menjadi tahun paling produktif bagi penulis. Cerpen-cerpen yang ditulis dari tahun ke tahun menuju kematangan yang lebih kuat.
Dalam penelusuran di google ditemukan narasi berikut: Ragdi F. Daye terpilih sebagai salah satu penulis Indonesia yang mengikuti ajang Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) pada tahun 2011. Ia lolos seleksi melalui karya buku kumpulan cerpennya yang berjudul Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu.
Dapat dicermati kalau “Singkarak” merupakan kumpulan cerpen yang telah terkurasi dalam berbagai media seperti Koran Tempo, nominator Sayembara Cerpen Kreativitas Pemuda, Riau Pos, Media Indonesia, Pemenang Lomba Menulis Cerpen Satra Harian Singgalang, dan Jurnal Cerpen Indonesia.
Cover “Singkarak” memunculkan keceriaan tersembunyi. Seperti dalam Pengantar disebutkan bahwa Tempat yang indah, pada hakikatnya selalu menyembunyikan paradoks. Ia bisa membuat hati bergetar antara gembira dan pilu; menyalakan harapan, sekaligus rindu yang sukar dipadamkan. Di sanalah kita sering terperangkap antara tawa yang berbunga dan sepi yang mengendap di dalam dada, seperti luka yang manis, seperti bahagia yang tak utuh.
Membaca “Singkarak” ibarat luka adalah mimpi dan harapan-harapan yang patah. Seperti membaca puisi-puisi yang diurai menjadi puisi panjang. Saling keterpengaruhan dalam karya sebagai penulis penulis puisi berpengaruh pada cerpen yang dituliskannya. Kita dapat melihat dalam beberapa cerpen seperti pada:
h. 39:
Dia melihat api tungku melayang ke muka ibunya.
Dia melihat ibunya tersudut dengan tubuh basah kuyup tengah malam.
Dia melihat ibunya mengkerut di lantai dapur. …
h. 51:
Perdamaian barangkali hanya ada di lentik jarimu.
h. 61:
Dia tak punya lagi rindu.
Dia tak punya lagi taragak.
Dia pernah berharap jarak …
Lokalitas dalam “Singkarak”
Lokalitas dalam karya sastra bukan sekadar tempelan latar tempat atau pelengkap bumbu cerita. Lebih dari itu, lokalitas adalah ruh yang memberikan identitas, warna, dan kedalaman emosional pada sebuah karya.
Ketika kita memasukkan unsur lokal ke dalam tulisan, kita sedang membawa pembaca melintasi batas geografis dan budaya untuk merasakan denyut nadi kehidupan suatu masyarakat secara autentik.
Berikut adalah beberapa elemen penting bagaimana lokalitas membentuk keindahan dan kekuatan sebuah karya sastra:
1. Geografi dan Atmosfer Tempat
Latar fisik seperti aroma tanah setelah hujan di pegunungan, riuh pasar tradisional di pagi hari, hingga arsitektur rumah-rumah tua (rumah gadang) bukan sekadar dekorasi (motif bunga lado). Geografi membentuk bagaimana karakter dalam cerita bergerak, bersikap, dan memandang dunia. Tempat yang digambarkan secara spesifik dan kuat akan terasa seperti “karakter hidup” yang ikut menggerakkan alur cerita.
2. Warna Lokal (Local Color) lewat Bahasa
Salah satu cara paling efektif menghidupkan lokalitas adalah melalui dialek, kosakata daerah, atau ungkapan khas yang disisipkan secara natural. Kehadiran bahasa lokal ini memberikan tekstur tersendiri pada dialog atau narasi. Ia menyampaikan rasa, humor, kesedihan, atau ketegasan yang terkadang maknanya akan hambar jika diterjemahkan mentah-mentah ke dalam bahasa formal.
“Den kapiang kapalo tu beko baru tau!”
“Asa ka mangango se bibia buruak tu!”
3. Sistem Nilai, Mitos, dan Tradisi
Lokalitas terdalam justru terletak pada cara berpikir masyarakatnya. Bagaimana sebuah komunitas memandang moral, menghormati leluhur, menjalankan ritual adat, atau memercayai mitos tertentu, adalah fondasi konflik yang sangat kaya untuk digali. Kita bisa melihat bagaimana benturan antara tradisi lokal dan modernitas sering kali melahirkan pergolakan batin yang hebat pada diri tokoh-tokohnya.
Teman-teman Marizka selalu memancing Pak Adang untuk bercerita tentang fenomena-fenomena supranatural di sekitar Danau Singkarak nan badangkang: masjid berkubah megah di dasar danau, mobil-mobil yang terjun ke danau sekali setahun yang tak kunjung ditemukan beserta seluruh penumpangnya, tanaman akar-akaran yang sering melilit dan memakan anak-anak yang mandi-mandi tanpa berdoa, ikan sebesar perahu …
Mengapa Lokalitas Itu Penting?
Ada sebuah ungkapan dalam dunia menulis: “Menulislah tentang hal yang lokal secara mendalam, maka karyamu akan menjadi universal.”
Ketika kita setia pada detail-detail kecil yang spesifik dari suatu budaya atau daerah, pembaca dari latar belakang budaya yang sepenuhnya berbeda sekalipun tetap bisa merasakan universalitas kemanusiaan di dalamnyaseperti rasa cinta, kehilangan, perjuangan, dan harapan.
Sastra Indonesia memiliki kekayaan luar biasa ketika berbicara tentang lokalitas. Banyak sastrawan kita yang tidak hanya menggunakan daerah sebagai latar belakang panggung, tetapi menjadikannya sebagai poros utama penggerak konflik, pembentuk karakter, dan ruang gugatan sosial.
Mengeksplorasi dan menghidupkan lokalitas ke dalam tulisan memang memberikan kepuasan tersendiri sebagai penulis. Ada rasa bangga sekaligus tanggung jawab ketika kita berhasil memindahkan “jiwa” sebuah daerah ke dalam lembaran halaman.
Menulis dengan rasa lokalitas yang kuat adalah cara kita merayakan keberagaman. Setiap sudut daerah menyimpan cerita yang menunggu untuk diceritakan dengan jujur dan mendalam.
Perempuan dalam “Singkarak”
Karakter perempuan Minangkabau (Minang) memiliki keunikan yang sangat khas karena lahir dan tumbuh dalam sistem kekerabatan matrilineal (garis keturunan ibu). Di dalam adat Minang, perempuan memiliki posisi yang sangat terhormat, mandiri, sekaligus menjadi pilar penjaga nilai-nilai moral dan harta pusaka.
Jika kita sedang membangun karakter untuk cerita, novel, atau sekadar ingin memahami sosiologinya, berikut adalah beberapa dimensi utama yang membentuk karakter perempuan Minang:
1. Kedudukan dalam Adat: Bundo Kanduang
Secara kultural, perempuan Minang dipersiapkan untuk menjadi Bundo Kanduang (ibu kandung/pemimpin wanita dalam kaum).
• Penjaga Harta Pusaka. Perempuan Minang adalah pemilik harta pusaka tinggi (tanah, sawah, rumah gadang) yang diwariskan turun-temurun. Hal ini memberikan mereka posisi tawar dan kemandirian ekonomi yang kuat sejak lahir.
• Tiang Tengah Rumah Gadang. Mereka digambarkan sebagai limpapeh rumah nan gadang (tiang utama). Jika perempuan dalam suatu keluarga rapuh, maka runtuhlah kehormatan keluarga tersebut.
2. Sifat dan Kepribadian Utama
• Mandiri dan Tangguh. Karena para lelaki Minang memiliki tradisi merantau (marantau), perempuan Minang sering kali ditinggal untuk mengelola rumah tangga, sawah, dan mendidik anak-anak sendirian. Ini membentuk mentalitas yang mandiri, tegar, dan tidak gampang mengeluh.
• Lugas namun Berbudi (Tau di Nan Ampek). Perempuan Minang dididik untuk paham raso jo pareso (rasa dan periksa). Mereka mampu berbicara dengan tegas dan lugas, namun tetap tahu menempatkan diri berdasarkan adat, agama, dan kesopanan (tahu cara berbicara kepada yang lebih tua, sebaya, yang lebih kecil, dan tokoh adat).
• Cerdas dan Berpikir Strategis. Sebagai pengelola aset keluarga dan pembuat keputusan di dalam rumah, mereka umumnya memiliki kemampuan manajemen dan negosiasi yang baik.
3. Konflik Internal yang Sering Dihadapi
Dalam konteks narasi atau realitas modern, karakter perempuan Minang sering kali mengalami pergolakan batin yang menarik:
• Tradisi vs. Modernitas. Bagaimana menyeimbangkan kebebasan mengejar karier modern dengan tanggung jawab besar yang dibebankan adat di pundak mereka (misalnya, keharusan menjaga rumah gadang atau melanjutkan garis keturunan kaum).
• Relasi Kuasa dalam Keluarga. Meskipun mereka adalah pemilik harta, keputusan adat yang besar tetap harus dikonsultasikan dengan mamak (saudara laki-laki ibu). Dinamika hubungan antara perempuan Minang, suami (yang berstatus “tamu” di rumah gadang istri), dan mamak sering kali penuh dengan kompromi yang halus.
Perempuan Minang bukanlah sosok yang submisif atau lemah. Namun, mereka juga bukan pemberontak tanpa arah. Ketangguhan mereka justru muncul dari kesadaran akan kehormatan diri, kekuatan ekonomi yang mereka miliki, dan kepatuhan yang anggun terhadap nilai-nilai agama serta adat (“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah“).
Dalam “Singkarak” representasi perempuan Minang dapat dilihat dalam tokoh-tokoh perempuan berikut:
Mak Leha dalam “Rumah Lumut”.
Perempuan dalam “Perempuan Bawang”
Mak Rasai dalam “Kucing Tua”
Soka dalam “Mungkin Malaikat Asyik Berzapin” dan karakter perempuan lainnya.
Catatan
Ada catatan menarik dari “Singkarak” dengan menjadikan hewan-hewan sebagai penggerak cerita (babi, anjing, sapi, ikan, orang utan). Dapat dilanjutkan menjadi kajian khusus.
Ada satu cerpen “Cinta Sepasang Malam” yang berbeda sendiri di antara 25 cerpen yang lain, keluar dari konteks lokalitas Sumatera Barat. Penulis tentunya punya alasan tersendiri.
Akan lebih baik cerpen disusun menurut urut tahun ditulis. Urutan ini akan memberikan sensasi tersendiri dalam menikmati perjalanan pengkaryaan Ragdi F. Daye dalam berprosa.