Marbot yang Merindukan Pemudik : Syabaharza

Marbot yang Merindukan Pemudik

Oleh: Syabaharza

Satu tahun yang lalu, terakhir kali masjid itu dipakai untuk salat berjamaah, itu pun bukan orang asli kampung itu. Jamaah yang salat pada waktu itu adalah musafir yang kebetulan singgah. Musafir itu berhenti untuk salat tatkala mereka dalam perjalanan untuk mudik ke kampung halaman. Hari ini tepat setahun wajah marbot masjid itu tersenyum karena akhirnya ada yang berjamaah untuk salat. Hari ini tepat dengan suasana yang sama, subuh pada hari puasa pertama. Dengan datangnya bulan ramadan tahun ini, sang marbot kembali berharap ada kegiatan salat berjamaah di masjid yang diurusnya itu.

*****

Jarum jam dinding menunjukkan pukul 04.30. Jam dinding klasik di sebuah masjid itu terus melaksanakan tugasnya. Berputar sesuai dengan jalurnya. Walaupun dinginnya pagi itu sangat luar biasa, namun tidak menyurutkan semangat jam dinding itu. Udara dingin terasa begitu perkasa menguasai keadaan pagi itu.
Sang marbot baru saja selesai makan sahur untuk puasa esok hari. Sepiring nasi dengan lauk ikan asin dan sebuah kerupuk besar sudah cukup untuk mengganjal perutnya sampai waktu berbuka nanti. Selesai membereskan peralatan sahurnya, Sang marbot bergegas menuju kamar mandi masjid untuk bersiap-siap melakukan tugasnya. Tugas mulia yang sudah hampir satu tahun dilaksanakannya. Ia berharap ada sesuatu yang baru pada puasa pertamanya.

Sang marbot tinggal di belakang masjid tempat ia selalu mengumandangkan azan. Dengan modal suara yang indah, selama lima kali sehari semalam ia melantunkan kalimat-kalimat yang mengagungkan nama Tuhannya itu. Dan dengan modal suara itu juga ia berhasil meyakinkan pengurus yayasan masjid untuk bisa menjadi marbot. Ia melamar menjadi marbot masjid karena ia adalah seorang perantau yang mengadu nasib demi untuk keluarganya yang jauh di sana. Sehingga selain sebagai marbot yang merupakan pekerjaan tetapnya, Sang marbot juga bekerja serabutan pada siang hari.

Sebagai reward untuk sang marbot, pengurus yayasan memberikan tempat tinggal di belakang masjid. Tempat tinggal yang sebetulnya adalah kantor yayasan masjid tersebut, berukuran 3×3 meter. Tempat tinggal yang sebetulnya tidak layak untuk dinamakan rumah. Tidak ada reward lain yang diberikan oleh pihak yayasan, Sang marbot tidak menerima honor untuk tugasnya, hanya diberikan sembako bagi keperluan sehari-harinya. Walau demikian, Sang marbot tetap bersyukur, karena kebijakan yayasan yang menerimanya sebagai marbot jelas sangat membantu kehidupannya.

Tugasnya sebagai marbot adalah menjaga kebersihan masjid dan tentunya menjaga azan tetap berkumandang ketika waktu salat tiba. Di luar tugasnya itu pengurus yayasan memberikan keleluasan untuk Sang Marbot bekerja.

*****

Sang marbot sudah siap di depan microphone bertali yang sudah terhubung dengan amplifier. Pakaian sederhana membungkus tubuhnya. Baju muslim warna hijau lengan panjang berpadu dengan sarung warna senada. Kopiah hitam sudah ajeg berada di kepalanya. Walau sederhana tapi pakaian itu tampak rapi dan bersih, dan yang paling penting pakaian itu dapat menahan dinginnya udara subuh. Sang marbot sudah bersiap untuk menunjukkan suara merdunya melantunkan kalimat-kalimat yang mengagungkan penguasa alam semesta.

Allahu Akbar Allahu Akbar…..Allahu Akbar Allahu Akbar…….

Sayup-sayup suara Sang marbot terdengar memecah keheningan suasana pagi subuh. Suara itu begitu gesit dan perkasa menembus dinding-dinding rumah warga yang baru saja melaksanakan sahur pertama mereka. Suara itu begitu berani melewati daerah-daerah yang dianggap angker oleh sebagian orang. Suara itu seakan tidak memperdulikan ketenangan istirahat pasangan pengantin baru. Suara itu bukan hanya sekedar panggilan biasa, tapi suara itu merupakan ajakan kepada seluruh orang untuk menuju kebahagian.

Assholatu Khoirum Minannaum….

Kalimat yang satu ini semakin mempertegas ajakan untuk segera meninggalkan mimpi-mimpi dan mewujudkannya dalam kehidupan nyata.

*****

Sang marbot sudah selesai melaksanakan tugas pertamanya subuh itu. Kini kekhawatiran kembali merasuki hatinya. Ia takut kejadian selama ini akan terulang kembali. Kebiasaan yang selalu dijumpainya. Ketakutan bahwa ia akan menjadi pemain tunggal selalu menghantuinya. Karena selama ia bertugas menjadi marbot, khusus waktu subuh ia selalu mengerjakan semuanya. Mulai dari memukul bedug, memasang pengeras suara, mengumandangkan azan, sampai kepada ikomah dan imam semua dilakukan sendiri. Setiap subuh selalu begitu, tidak pernah ada yang datang ke masjid untuk salat berjamaah.

Padahal sudah berulang kali Sang marbot mensosialisasikan kepada masyarakat untuk berjamaah di masjid ketika salat subuh. Penyampaiannya dilaksanakan melalui pengurus yayasan sampai melalui pengurus desa, namun selalu mengalami kebuntuan. Berbagai alasan disampaikan masyarakat. Ada yang berasalan rumahnya jauh dari masjid, ada yang mengatakan tidak memiliki alat transportasi sampai kepada alasan istrinya tidak mau ditinggalkan sendirian. Begitulah realitanya selama ini, sehingga terkadang membuat Sang Marbot frustasi dan hal itu terkadang membuatnya ingin menyerah saja lalu pergi dari masjid yang dibuat seperti bangunan bersejarah saja. Kemungkinan juga letak geografis masjid yang jauh dari pemukiman menjadi salah satu sebab sepinya jamaah yang datang.

Paranoid sang marbot terhadap partisipasi warga untuk salat subuh semakin menguat, setelah untuk ke sekian kalinya ia tidak melihat gelagat orang yang datang pagi itu. Bahkan sampai ia selesai salat sunah pun belum juga ada yang datang. Sang marbot yang sudah pasrah, berusaha berdamai dengan keadaan. Sang marbot mulai membentangkan sajadah di mihrab imam. Ia harus rela menjadi pemain tunggal lagi. Namun dalam hati ia masih berharap ada musafir yang lewat seperti tahun lalu untuk sekedar ikut salat berjamaah.
Allahu Akbar..

Kalimat takbir itu keluar dari mulut sang marbot dengan penuh kekhusukan. Sambil mengangkat kedua tangannya pikiran Sang marbot masih terpecah. Ia masih belum yakin bahwa untuk kesekian kalinya ia harus salat subuh sendirian di masjid yang megah ini. Ternyata kebesaran masjid ini tidak bisa membuat hati warganya terketuk untuk mengunjunginya, minimal setiap salat lima waktu.

Waladholliiin….
Kalimat terakhir surat alfaihah itu pun keluar dari mulut sang marbot.
Aamiin………

Demi mendengar jawaban dari belakang itu, membuat sang marbot terkejut bukan main. Perasaan dalam hatinya berkecamuk. Namun ia tetap berusaha menjaga agar salatnya tidak batal. Di dalam perjuangannya menjaga kekhusukan ibadah, ia bertanya dalam hati, siapa yang berada di belakangnya sekarang. Bukankah tadi tidak ada satupun orang menjadi jamaah ketika ia memulai salat. Apakah mereka adalah para malaikat yang diutus untuk ikut berjamaah atau mungkin mereka iblis yang sengaja hendak mengganggu bahkan menakuti.

Di tengah rasa penasarannya, sang marbot tetap melanjutkan salatnya sampai paripurna. Begitu selesai salam, ia langsung menoleh ke belakang. Rasa terkejut bercampur haru bertakhta di hatinya. Hampir saja bulir air mata jatuh, tapi ia tahan. Saking terharunya ia berucap syukur. Pemandangan yang selama ini diimpikan sang marbot, subuh itu terwujud. Tiga orang hadir ke masjid untuk menjadi jamaahnya. Ketiga orang itu masih asing baginya.

Ternyata yang menjadi penolongnya kembali para musafir. Musafir seperti tahun lalu menjadi penolong salat berjamaahnya. Ternyata ketiga musafir itu hadir tepat ketika sang marbot memulai salat subuh tadi. Mereka tersenyum menyambut mimik muka sang marbot yang sumringah. Ke-exicited-an sang marbot tidak bisa disembunyikan lagi. Ia bagaikan mendapat durian runtuh.

“terima kasih, bapak-bapak!”

Sang marbot sungguh tidak bisa berkata apa-apa selain perkataan itu.

“mohon maaf pak, tadi kami tidak sempat meminta izin, kami hendak mudik ke seberang”

Salah seorang musafir memberikan alasan kepada sang marbot mengapa mereka ikut berjamaah subuh itu. Kedua temannya yang lain menganggukkan kepala sambil tetap tersenyum.

*****

Namun tiba-tiba sang marbot dikejutkan oleh suara benda asing yang jatuh ke seng masjid, suara itu tidak terlalu kuat namun sudah cukup untuk membangunkan sang marbot dari mimpinya. Suara itu sontak saja membuat sang marbot tersadar dari tidurnya. Ia baru sadar bahwa kegiatan salat berjamaahnya tadi hanya mimpi belaka. Ia baru sadar bahwa ia tadi tertidur setelah selesai salat subuh.

Sambil bangkit dari tempatnya tertidur, sang marbot membuka handphone di tangannya dan tanpa sengaja ia membaca berita sebuah musibah. Dalam berita itu disebutkan bahwa telah terjadi tanah longsor di jalur mudik beberapa minggu yang lalu dan imbasnya sebagian jalan tidak bisa dilalui oleh pemudik, akibatnya pemerintah mengarahkan pemudik untuk melalu jalan alternatif. Yang lebih menyedihkan kemungkinan musibah itu baru bisa di atasi setelah lebaran selesai.

Kesedihan kembali menyerang sang marbot. Bukan hanya ia sedih terhadap musibah yang terjadi, namun ia sedih karena jalan depan masjid yang dirawatnya termasuk jalur yang tidak akan dilewati pemudik, karena terkena imbas musibah tersebut. Artinya ia akan terus memendam kerinduan terhadap para pemudik yang biasa salat berjamaah ketika mereka mudik.

*****

BIONARASI PENULIS
Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang tinggal di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di syamsulpemulutan81@gmail.com

BIODATA PENULIS
Nama : Syamsul Bahri
Jabatan : Kepala MTs Al-Hidayah Toboali
Alamat : Desa Keposang Kec. Toboali Kab. Bangka Selatan Prov. Babel
No. WA : 085269381201
Email : syamsulpemulutan81@gmail.com
No. Rekening : 15509000672, Sumselbabel, Syamsul Bahri

Comments (0)
Add Comment