Membaca Literasi Sastra Anak: Catatan Shafwan Hadi Umry

Sastra anak adalah awal pengenalan literasi edukatif yang membuat sang anak mengenal dan menyimpan pesan kearifan dalam dirinya lembaga dunia UNESCO, sastra anak sangat mempengaruhi minat baca dan perkembangan kognitif anak. Dengan kata lain sastra anak adalah investasi jangka panjang bagi generasi mendatang dan kreasi budaya yang harus dijaga.

Tulisan budayawan Melayu Tenas Effendy dalam buku nya yang terkenal Tunjuk ajar Melayu (1994) memaparkan sekaligus menjabarkan pembelajaran yang ;engkap tentang pesan kemanusiaan dan ketuhanan terhadap anak.Ini membuktikan literasi tentang anak tidak pernah lekang dalam ingatan anak ketika bermula dituangkan sejak anak berkenalan dengan dunia literasi (dongeng, hikayat, cerita dan puisi) yang terbacanya sejak ia memulai belajar di bangku sekolah.

Sejumlah literasi anak membangun sifat malu dan waspada dalam hidup tercermin dalam pribahasa, ”Tahu dilihat cermin orang, Tahu didengar gunjing orang” tulisan karya Tenas Effendy menampilkan pesan kearifan budaya kepada anak menggunakan kekuatan literasi dalam sejumlah slogan budayanya yang kontekstual pada setiap zaman.

Penulisan narasi sastra anak menggunakan tunjur ajar sastra memaparkan kepada anak tentang kehidupan manusia yang hidup secara universal.

Norma Sosial Sastra Anak

Norma adalah adalah aturan yang mengatur standar perilaku yang normal dan dapat diterima dalam peistiwa berkomunikasi dengan orang lain. Norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat pada hakekatnya dapat dibedakan atas dua jenis, yakni norma deskriptif (descriptive norm) dan norma injunktif (injunctive norm).
Norma deskriptif menurut pendapat Robert B. Cialdini adalah merujuk kepada perbuatan umum. Norma jenis menggambarkan apa yang selalu dilakukan orang banyak.

Berbagai perilaku itu memotivasi seseorang dengan cara memberikan bukti tentang apa yang dianggap oleh sebagian besar masyarakat sebagai perbuatan yang efektif pada waktu tertentu. Dengan mencatat apa yang dilakukan orang banyak kemudian meniru perbuatan mereka, berarti seseorang telah memilih perilaku yang benar.
Kemudian Cialdini menjelaskan bahwa norma injunktif dapat dimaknai sebagai aturan yang merujuk pada harapan besar bersama dalam suatu masyarakat mengenai perbuatan tertentu yang diharapkan untuk disepakati dan dilakukan.

Norma injunktif merefleksikan apa yang disetujui atau tidak disetujui oleh sebagian besar masyarakat. Andaikata kedua jenis norma ini diposisikan bersama maka dapat dinyatakan bahwa norma deskriptif sebagai norma “merupakan”, sedangkan norma injuktif sebagai norma ”seharusnya”.

Norma-norma masyarakat Melayu dalam sastra anak ini dibatasi pada nilai dan arti ‘budaya malu’ yang mensyaratkan dua hal yakni apa yang seharusnya dilakukan dan kedua apa yang seharusnya dilarang/dipantangkan.
Untuk ‘pantang larang’ yang berkaitan dengan budaya malu bagi masyarakat Melayu ditemukan beberapa ungkapan pantang yang ditanamkan terhadap anak sejak ia duduk di bangku kelas 5 dan 6 sekolah dasar dan lanjutan/SM dan SMA sederajad.

(Apa tanda Melayu jati
Islam melekat di dalam hati
Apa tanda Melayu bermarwah
Hidup mati Bersama Allah
Adat hidup bersaudara
Tolong-menolong rasa-merasa
Apa tanda Melayu berakal
Di dalam, Islam ia beramal

Adat hidup sakit dan senang bela-membela

Besar cakap kerja tak lelap
Besar cakap, kerja menyelap
Besar cakap hati berkurap
Buruk orang jangan dicari

Larangan di atas menegaskan bahwa berbicara tak tentu arah memang mengasyikkan. Namun, perilaku seperti itu tidak produktif dan akan mendatangkan kerugian (kemudaratan).
Kesantunan Melayu dalam menjaga malu terhadap orang lain secara lengkap diungkapkan dalam ungkapan dbawah ini.

Santun berbicara, berkira-kira
Santun bercakap, ingat mengingat
Santun berkata, berbudi bahasa
Santun bertutur berlidah teratur
Santun berbahasa tersusun kata

Tanda orang membalas budi,
ia tak mau upat dan puji
Tanda orang tidak beradat,
membalas budi sambal mengumpat

Tahu elak dengan dalihnya
Tahu salah dengan kilahnya
tahu malu memalukan
tahu menjaga aib terdedah’

Demikian Selayang pandang tentang sastra Anak dalam literasi tunjuk ajar Melayu yang kini telah menjadi warisan tekstual bangsa Melayu yang seharusnya patut disimpan di UNESCO sebagai warisan tak benda dalam khazanah sastra dunia.***

*Penulis Ketua Satupena Sumatra Utara

Comments (0)
Add Comment