SASTRA adalah tumpukan tradisi masa lalu dan kini. Manusia Indonesia tidak terlepas dari tradisi, baik persamaan, penentangan bahkan persambungannya. Dalam sastra para penulis telah mempersembahkan fantasi dan pikirannya, kegirangan dan kesedihannya serta menyusun sekaliannya dengan kebebasan yang menjelmakan kepribadian.
Tumpukan tradisi masa lalu sebagai sebuah warisan memiliki nilai baru bagi kita sesudah diberi interpretasi sesuai dengan konteks kekinian. Contoh tersebut lebih jelas terlihat ketika Goenawan Mohamad mulai mempertanyakan perasaan-perasaan Si Malin Kundang sekaligus pembelaannya sebagaimana yang ditulisnya. “Dan kisah turun-temurun inipun berkata, bahwa dewa-dewa telah memihak sang ibu. Ini berarti bahwa semua soal berakhir dengan beres: bagaimanapun, setiap pendurhaka harus celaka, Tak seorang pun patut memaafkan Si Malin Kundang. Kita tak pernah merasa perlu memahami perasaan-perasaannya“. [1972:9]
Konfrontasi mitos yang dilakukan Goenawan Mohamad adalah konfrontasi manusia modern yang ingin memungkiri segalanya. Sebagaimana konfrontasi mitos yang dilakukan Wisran Hadi ( sastrawan asal Minangkabau) dalam drama Puti Bungsu atau tentang dongeng Sangkuriang. Benarkah mitos merupakan bagian masa lalu yang selesai seperti disindir oleh Goenawan ‘semua soal berakhir dengan beres’.
Mitos hanya bagian masa lampau yang tidak menjadi mitos lagi dengan timbulnya mitos baru. Umar Yunus seorang pakar sastra asal Minang yang menetap di Kuala Lumpur masa akhir hidupnya , secara bijak telah merumuskan dengan cukup jitu betapa kontradiksinya kisah Malin Kundang yang diceritakan melupakan ibunya, pada hal anak itu selalu mencari ibunya. Hanya setelah perjumpaan, ibu itu telah berbeda dari apa yang ditanggapinya ketika mula mencari dulu.
Kehadiran Malin ditolak. Sebagaimana halnya Wisran Hadi mencoba berpikir terbalik dari mitos Sangkuriang tentang wanita yang cantik dan muda sehingga patut menjadi istri meskipun kehadirannya diterima Sangkuriang akhirnya menerima bencana.
Mitos sebagai sebuah cerita memiliki tempat tertentu. Kehadiran mereka lebih banyak dalam pikiran kita sendiri daripada dalam bentuk yang kongkret, Kita hidup dalam mitos yang senantiasa bertukar dengan mitos yang lain.
Mitos Malin Kundang yang dipentaskan dalam tradisi masa lampau berlanjut dalam tradisi manusia modern. Dalam puisi Sitor Situmorang betapa diceritakan seorang anak yang kembali ke kampung halaman tetapi sebenarnya ia tidak pernah kembali. Penyair dengan nada masgul bercerita dalam puisinya :
Si anak hilang kini kembali Tak seorang dikenalnya lagi Berapa kali panen sudah Apa saja telah terjadi
Selesai makan ketika senja Ibu menghampir ingin disapa Anak memandang ibu bertanya ingin tahu dingin Eropa.
Anak diam mengenang lupa Dingin Eropa musim kotanya Ibu diam berhenti berkata Tiada sesal hanya gembira.
Malam tiba ibu tertidur Bapa lama sudah mendengkur Di pantai pasir berdesir gelombang Tahu si anak tiada pulang
[Si Anak Hilang]
Kebahagiaan orang tua yang menantikan kepulangan sibiran tulang tapi anak sendiri tahu bahwa yang pulang hanya jasadnya, hatinya tidak, ia tetap si anak hilang. Ini membuktikan hakikat perkembangan zaman yang di kuasai teknologi Barat [Eropa] suatu kondisi sine quanon, sesuatu yang memang terjadi. Kita tidak hidup lagi dalam tradisi tapi kita telah menjadi orang lain.
Periodisasi zaman dan perubahan sosial mengakibatkan nilai-nilai tidak hanya terbagi atas hitam-putih’. Dulu orang memiliki sikap bahwa pendirian adalah suatu pendirian dan sekarang orang dapat mengatakan tidak memiliki pendirian juga satu pendirian. Periode ‘hitam-putih‘ telah berakhir secara spektakuler.
Syahdan, demikianlah hakikat kemerdekaan. Perkembangan sejarah masyarakat kita menunjukkan bahwa kemerdekaan itu sesuatu yang harus diperjuangkan. Kemerdekaan berbeda pendapat dan menerima pendapat, mempertanyakan dan meragukan sebagaimana dalam dunia kaum cendekiawan selalu siap dengan resiko.
Oleh karena dampak kemerdekaan itu melahirkan kejutan dan mitos pemberontakan. Sebagaimana Chairil Anwar berkata, “hancurkan lagi apa yang dapat kau perbuat/hilang sonder pusaka sonder kerabat“.
Hal ini membuktikan bahwa tradisi mempunyai penentangannya dengan zaman yang tidak lagi dikuasai tradisi. Chairil seakan-akan mengisaratkan budaya romantis seperti yang disebut oleh Soedjatmoko perlu ditinggalkan. Ketakutan seorang murid untuk menyatakan ‘tidak’ ketika guru menyatakan ‘ya‘ adalah contoh betapa mahalnya kemerdekaan itu. Sebagaimana halnya Umar Yunus menegaskan “murid yang baik ialah murid yang mau mengakui kesalahan guru“. Dalam suasana semacam itu tidak jarang terjadi ketegangan, namun ketegangan itu suatu hal yang wajar dalam kemerdekaan berpikir wawasan modern.
Kemerdekaan dan mitos pemberontakan adalah sebuah frasa yang menarik di kalangan para penulis dan penyair. Namun sekali ia bersikap tegar untuk mendukungnya maka bahayapun selalu menunggu di depannya. Dalam pengembaraan itu ia memiliki kegelisahan modern rasa amarah dan rasa bersalah. Ia menjadi manusia mobil seperti dikatakan Iwan Simatupang , selalu ada dalam perjalanan, antara datang dan pergi.
Sampai hari ini berapa banyak sastrawan. negarawan dan cendekiawan telah meninggalkan panggung sejarah manusia dengan mewariskan sejumlah pemikıran yang perlu diuji, dikecam, dipuji bahkan diragukan. Sebagaimana sastra adalah tumpukan tradisi yang memiliki persamaan, pertentangan dan persambungan-nya dengan zaman kini.
Medan, Medio Juni 2026
*Penulis adalah Ketua Satupena Sumatra Utara