Mengapa Harus Berkata Kotor
Oleh: Suseno*
Ada sebagian orang yang sangat suka dan gemar berkata kotor. Bila terjadi peristiwa kecil saja sontak ia lantas mencarut (berkata kotor). Kalau bertemu dengan teman ia secara tidak sadar berkata kotor yang rasanya tidak enak untuk didengar. Mengapa ia tidak mengucapkan salam ketika berjumpa sesama teman? Mengapa harus mengucapkan perkataan yang tidak pantas dan tidak berguna ketika menghadapi suatu keadaan. Mengapa harus mencarut jika menghadapi suatu kejadian kecil yang mengagetkan. Apakah orang seperti itu kehabisan perbendaharaan kata atau kosakata untuk berucap? Hanya orang yang bersangkutanlah yang dapat menjawab sederet pertanyaan di atas.
Dari kacamata iman, orang yang berkata kotor itu adalah mereka yang masih lemah imannya, atau setidak-tidaknya ia tidak dapat secara baik mengimplementasikan imannya dalam tata krama bertutur kata. Sabda Nabi Muhammad SAW “Barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhirat, maka hendaklah mengucapkan kata-kata yang baik atau diam tanpa berkata-kata” (HR. Bukhari Nomor 6018 dan Muslim Nomor 47). Orang yang beriman tutur katanya mestilah bermanfaat, sehingga ia menjadi amat saleh. Masih periwayat yang sama Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan “Tutur kata yang baik itu adalah sedekah” (HR. Bukhari Nomor 2989 dan Muslim Nomor 1009). Bagi orang yang beriman, sikap diam lebih baik daripada bertutur kata yang tidak bermanfaat. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah (2) Ayat 263 yang artinya “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya, Maha Penyantun”.
Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda “Seorang mukmin bukanlah orang yang asal menuduh, mudah mengucapkan sumpah serapah, gemar berkata mesum, dan kotor lisannya”. Usamah bin Zaid menuturkan Rasulullah SAW bersabda “Allah SWT tidak menyukai hambaNya yang suka berkata kotor dan membiasakan diri dengan ucapan-ucapan kotor” Di hadis lain Jabir bin Samurah menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya ucapan kotor atau kebiasaan berkata kotor bukan termasuk ajaran Islam sama sekali. Manusia yang terbaik keislamannya adalah yang terbaik perilakunya (akhlaknya)”.
Imam Al-Ghazali menjelaskan “Perkataan kotor yaitu ungkapan tentang perkara yang menjijikkan dengan bahasa vulgar. Umumnya terjadi dalam ungkapan tentang hubungan suami istri dan kaitan-kaitannya. Kalangan mereka yang biasa dan gemar berkata kotor dan rusak moralnya, dengan biasa mengungkapkan hal itu secara terang-terangan, sementara kalangan orang baik-baik merasa sungkan, sehingga mereka memakai simbol-simbol tersamar yang mungkin dipahami oleh pendengarnya”. Misalnya “hubungan suami istri” diistilahkan dengan “sentuhan” (lams), “buang air kecil dan besar” diistilahkan dengan “membuang hajat” (qadha’ul hajah), “istri” diistilahkan dengan “keluarga” (ahl), dan masih banyak lagi. Mereka juga tidak berterus terang dalam menamai berbagai jenis penyakit yang membuat malu pengidapnya. Misalnya penyakit kurap, borok, ambeien, ayan, dan lain-lain. Alangkah baiknya jenis-jenis penyakit tersebut disebut dengan menggunakan bahasa samaran. Dengan demikian seorang muslim selalu terjaga kebersihan lisannya, kejernihan ucapannya, dan kesucian hatinya.
Akhirnya kesimpulan yang dapat penulis petik bahwa berkata-kata kotor maupun mendengarnya merupakan sesuatu yang sangat menjijikkan. Banyak orang yang menjadi malu bila ada orang lain di sampingnya berkata kotor ataupun berbicara yang tidak senonoh dan vulgar (porno). Semestinya hal ini harus disadari sepenuhnya oleh semua pihak, sehingga kita jangan terlalu murah mengobral kekotoran tutur kata kita. Berkata kotor pada hakikatnya tidak menunjukkan ketinggian budi pekerti, melainkan mencerminkan kerendahan akhlak dan kelemahan kepribadian (tidak berkarakter). Kita jangan bangga bila berani berkata kotor dan tidak pantas. Semestinya justru kita sadar bahwa sekali kita berkata kotor dan tidak bermanfaat sedikitpun di hadapan orang lain, maka pada waktu itu orang akan semakin tahu bahwa kita bukanlah orang yang terdidik. Semoga kita semua tidak termasuk golongan orang-orang yang gemar berkata kotor. Wallahua’lam bish-shawab.
*Guru MTsN 1 Bengkalis & Alumni Program Magister PAI-IAIN Datuk Laksemana Bengkalis