Menjadi Pembaca Sejati: Catatan Jimmy Frismandana Kudo

Mengawali tulisan ini, penulis ingin mengutip perkataan dari filsuf Prancis bernama Rene Descartes yang mengatakan, “The reading of all good books is like a conversation with the finest minds of past centuries.” Terjemahannya yaitu ‘Membaca semua buku bagus seperti sebuah percakapan dengan berbagai pemikiran terbaik di abad-abad sebelumnya.’ Kalimat dari Rene Descartes ini sangat bagus bagi kita semua terutama generasi muda Indonesia untuk menjadi pembaca sejati dengan beragam cara sebagai generasi penerus bangsa dan negara Indonesia.

Peradaban dunia dari berbagai dimensi ruang dan waktu selalu dekat dengan buku-buku. Dari berbagai cerita sejarah tentang peradaban-peradaban dunia ini dapat ditarik berbagai hal yang menarik. Satu di antaranya adalah penghargaan terhadap buku-buku yang mewarnai perjalanan peradaban-peradaban sejarah. Buku-buku kuno bersejarah ini menjadi salah satu elemen penting untuk menjadi faktor yang membuat peradaban tersebut menjadi berkembang pesat.

Dari berbagai buku kuno bersejarah ini maka generasi berikutnya dari berbagai benua, bangsa, dan negara dapat mengetahui berdirinya suatu peradaban hingga menjadi maju peradaban tersebut. Bahkan, sampai peradaban tersebut menjadi mundur atau hancur karena berbagai faktor penyebabnya agar menjadi pelajaran penting karena sejarah dapat dilihat dari berbagai sisi seperti dari berbagai arah mata angin berhembus.

Selama ini, penulis pribadi telah menemui berbagai orang yang mempunyai hobi luar biasa sebagai pembaca sejati. Mereka ini, para pembaca sejati yang berasal dari berbagai latar belakang telah menunjukkan dengan sangat baik kesukaan mereka terhadap dunia literasi yaitu membaca dan menulis. Kombinasi dua hal ini mampu menghasilkan orang-orang dengan karakter cerdas dan bersahaja yang membuat para pembaca sejati ini selalu menjadi ingatan dan kenangan yang kuat berkat keluasan ilmu dan kedalaman hati yang mereka miliki.

Para pembaca sejati ini selalu mempunyai keinginan kuat dan semangat berkobar untuk selalu mendapatkan nutrisi bagi pikiran mereka berupa buku-buku dan sejenisnya. Baik buku-buku baru maupun buku-buku lama termasuk buku-buku langka sekalipun. Hal ini dapat dilihat dari cara mereka memburu buku-buku yang diinginkan dengan beragam cara. Ketika buku-buku yang mereka inginkan telah didapatkan maka mereka segera melahapnya dengan nikmat dan memikat sebagai suatu cara untuk menambah wawasan pengetahuan dan mengisi kegembiraan batin.

Sorot mata para pembaca sejati ini ketika membaca buku menjadi suatu tatapan unik sekaligus menawan untuk membaca setiap kata dan kalimat yang ada di dalamnya sehingga fokus dan konsentrasi menjadi akrab dengan para pembaca sejati ini untuk menyelesaikan buku yang dibacanya. Mengapa? Karena masih banyak berbagai buku dengan segala keunikannya yang belum mereka baca alias buku-buku lain menunggu untuk dilahap dan dicerna dengan cara yang menyenangkan dan menggembirakan serta mengagumkan.

Para pembaca sejati ini, dari observasi penulis yang didapatkan dari berbagai pengalaman literasi kehidupan, dapat dilihat bahwa ketika buku yang mereka baca, halaman demi halaman buku diperlakukan dengan baik sekali seperti seorang kekasih yang mencintai dengan tulus, satu-satunya orang yang ia cintai sepanjang masa dari hati yang paling dalam. Keberadaan para pembaca sejati ini dirindukan karena memberikan penerang bagi orang-orang di sekitarnya dan di manapun mereka berada. Sungguh suatu hal yang sangat melegenda dari para pembaca sejati yang ceria sekaligus bersahaja ini.

Dari para pembaca sejati ini, buku-buku dan berbagai bahan bacaan lainnya, dijadikan sebagai teman setia alias sahabat. Persis seperti yang dikatakan Ernest Hemingway, penulis terkenal asal Amerika Serikat yang mengatakan, “There is no friend as loyal as book.” Terjemahan bebasnya yaitu, ‘Tidak ada teman yang setianya seperti buku.’ Kesetiaan buku selalu mendampingi dalam berbagai keadaan dengan jiwa-jiwa para pembaca sejati.

Mengakhiri tulisan ini, penulis ingin mengutip perkataan Pramoedya Ananta Toer, sastrawan produktif negeri bahari, Indonesia. Pramoedya Ananta Toer mengatakan, “Membaca membuatmu bijak, menulis membuatmu dikenang.” Dari berbagai bahan bacaan yang telah dihayati, kita semua menjadi bijak menghadapi dinamika dan romantika kehidupan. Dari berbagai tulisan yang kita ukir, kita semua dikenang melalui kedalaman tulisan yang membuka wawasan dan menjadi inspirasi literasi untuk berbagai kalangan masyarakat Indonesia yang majemuk ini. Jadilah pembaca sejati yang selalu dan selamanya rendah hati!

Jimmy Frismandana Kudo, Guru PPKN SMA Darma Yudha Pekanbaru, frismandana@yahoo.co.id

Comments (0)
Add Comment