Adab Hidup Berkaum: oleh Musa Ismail

Bismillah,

Tamadun Melayu tumbuh dan berkembang bukan semata-mata karena kehebatan kerajaan, luasnya wilayah perdagangan, atau tingginya ilmu pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga karena kuatnya ikatan kehidupan berkaum dalam masyarakatnya. Bagi orang Melayu, manusia ibarat sebatang pohon yang tumbuh di tengah hutan. Pohon yang berdiri sendiri mudah tumbang dipukul angin, tetapi pohon yang hidup dalam rimba saling berpaut akar dan saling melindungi. Begitulah kehidupan berkaum. Manusia menemukan kekuatannya melalui kebersamaan.

Dalam pandangan Melayu, kehidupan bukanlah perjalanan seorang diri. Sejak lahir hingga kembali ke hadirat Ilahi, seseorang berada dalam lingkaran keluarga, jiran, sahabat, masyarakat, dan kaum kerabat. Oleh sebab itu, hidup berkaum menjadi salah satu asas penting dalam pembentukan tamadun Melayu yang beradab, harmonis, dan bermarwah. Secara sederhana, hidup berkaum dapat diartikan sebagai kehidupan bersama yang dibangun atas dasar persaudaraan, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap sesama. Dalam masyarakat Melayu, kaum tidak hanya merujuk kepada hubungan darah, tetapi juga mencakup hubungan sosial yang terjalin dalam lingkungan kampung, suku, dan masyarakat.

Orang Melayu memandang kehidupan sebagai sebuah perahu yang berlayar di lautan luas. Perahu tidak mungkin digerakkan oleh satu orang pendayung. Ia memerlukan banyak tangan, banyak tenaga, dan kesepakatan arah. Jika seorang mendayung ke kiri dan yang lain ke kanan, perahu akan berputar tanpa tujuan. Namun, apabila semua bergerak seirama, perahu akan sampai ke pelabuhan dengan selamat.

Falsafah inilah yang melahirkan nilai kebersamaan yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Melayu. Kepentingan bersama sering kali didahulukan daripada kepentingan pribadi. Keberhasilan seseorang dipandang sebagai kebanggaan bersama. Sementara kesulitan seseorang dianggap sebagai beban yang perlu dipikul bersama-sama. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.

Dalam tamadun Melayu, kehidupan berkaum tidak berlangsung tanpa aturan. Adat berfungsi sebagai tiang yang menegakkan rumah kehidupan masyarakat. Adat mengatur hubungan antara individu dengan keluarga, masyarakat, pemimpin, bahkan dengan alam sekitarnya.

Orang Melayu mengatakan: “Adat hidup memegang amanah, adat berkaum memegang marwah.” Ungkapan ini mengandung makna bahwa kehidupan bersama hanya dapat berlangsung baik apabila setiap orang memahami batas-batas perilaku yang patut dan tidak patut dilakukan. Melalui adat, masyarakat diajarkan bagaimana menghormati orang tua, menghargai tetangga, menyambut tamu, menyelesaikan perselisihan, dan menjaga kehormatan bersama. Adat menjadi pagar yang menghalangi masyarakat daripada perpecahan dan kekacauan.

Ciri utama kehidupan berkaum dalam tamadun Melayu adalah musyawarah. Dalam menyelesaikan persoalan bersama, masyarakat Melayu lebih mengutamakan perundingan daripada pertikaian. Pepatah Melayu menyebutkan, ”Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat.” Pepatah ini menggambarkan bahwa kesepakatan adalah hasil dari kebersamaan. Sebagaimana air yang mengalir mengikuti pembuluhnya, demikian pula masyarakat akan berjalan baik apabila memiliki mufakat yang disepakati bersama. Musyawarah bukan sekadar proses mencari keputusan, tetapi juga sarana mempererat persaudaraan. Dalam musyawarah, setiap orang diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat, sementara keputusan yang diambil menjadi tanggung jawab bersama.

Kehidupan berkaum dalam tamadun Melayu tidak dapat dipisahkan dari budaya gotong royong. Gotong royong merupakan manifestasi nyata dari semangat kebersamaan yang hidup dalam masyarakat. Bangsa Melayu mengibaratkan kehidupan seperti anyaman tikar pandan. Sehelai daun pandan tidak mampu menjadi tikar yang kuat. Namun apabila banyak helai dianyam bersama, terciptalah tikar yang kokoh dan bermanfaat. Demikian pula kehidupan masyarakat. Setiap individu memiliki peran masing-masing yang apabila disatukan akan menghasilkan kekuatan sosial yang besar. Semangat ini tampak dalam tradisi mendirikan rumah, membersihkan kampung, membantu keluarga yang berduka, hingga pelaksanaan berbagai kegiatan adat. Melalui gotong royong, masyarakat belajar tentang solidaritas, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam kehidupan berkaum, adab memiliki kedudukan yang sangat penting. Orang Melayu percaya bahwa ilmu tanpa adab ibarat pelita tanpa minyak, ada bentuknya tetapi tidak memberi cahaya. Adab mengajarkan manusia untuk menghormati yang tua, menyayangi yang muda, menjaga tutur kata, serta bertenggang rasa terhadap sesama. Dalam pergaulan sehari-hari, masyarakat Melayu menempatkan kesantunan sebagai ukuran utama kemuliaan seseorang. Oleh sebab itu lahirlah ungkapan,”Tanda orang berbangsa, tahu menjaga adab dan bahasa.” Adab bukan sekadar aturan sopan santun, melainkan fondasi moral yang menjaga keharmonisan kehidupan bersama.

Perkembangan teknologi dan media digital membawa perubahan besar dalam pola kehidupan masyarakat. Komunikasi yang dahulu berlangsung secara langsung kini banyak berpindah ke ruang virtual. Hubungan yang dahulu dibangun melalui pertemuan kini sering digantikan oleh pesan singkat dan media sosial. Fenomena ini menghadirkan tantangan baru bagi kehidupan berkaum. Semangat gotong royong mulai berkurang, musyawarah semakin jarang dilakukan, dan hubungan sosial menjadi lebih renggang. Tidak sedikit pula yang terjebak dalam sikap individualistis sehingga melupakan lingkungan sekitarnya.

Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai kehidupan berkaum. Teknologi hendaknya menjadi jembatan yang mempererat persaudaraan, bukan tembok yang memisahkan manusia dari komunitasnya.

Hidup berkaum merupakan mutiara kebijaksanaan yang diwariskan oleh tamadun Melayu dari generasi ke generasi. Melalui kehidupan berkaum, masyarakat belajar tentang kebersamaan, tanggung jawab, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama. Dalam pandangan Melayu, manusia ibarat sebatang bambu di tepi sungai. Sebatang bambu mudah patah diterpa badai, tetapi rumpun bambu yang tumbuh bersama akan tetap tegak meskipun dihantam angin kencang. Begitulah hakikat hidup berkaum. Kekuatan tidak lahir dari kehebatan individu semata, melainkan dari kebersamaan yang dipelihara dengan adab, musyawarah, dan gotong royong. Selama nilai-nilai tersebut terus dijaga, tamadun Melayu akan tetap berdiri kukuh seperti pohon besar yang akarnya menghunjam ke bumi dan dahannya menaungi generasi yang datang kemudian.***

Alhamdulillah.

Bengkalis, Jumat,12 Zulhijah1447 H / 12 Juni 2026.

Musa Ismail adalah penulis, PNS di Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis, dan pengajar di IAIN Datuk Laksamana Bengkalis. Karyanya antara lain kumpulan cerpen “Sebuah Kesaksian” (2002), esai sastra-budaya “Membela Marwah Melayu” (2007), novel “Tangisan Batang Pudu” (2008), kumpulan cerpen “Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut” (2009), kumpulan cerpen “Hikayat Kampung Asap” (2010), novel “Lautan Rindu” (2010), kumpulan cerpen “Surga yang Terkunci” (2015), dan novel ”Demi Masa” (2017). Pernah meraih Anugerah Sagang kategori buku pilihan (2010) dan peraih Anugerah Pemangku Prestasi Seni Disbudpar Provinsi Riau (2012). Kumpulan puisi perdananya bertajuk Tak Malu Kita Jadi Melayu (TareBooks, 2019). Pada 2019 juga, terbit bukunya berjudul Guru Hebat (Tarebooks). Pada 2020, terbit buku esainya yang berjudul Perjalanan Kelekatu ke Republik Jangkrik (Tarebooks, 2020), novel Sumbang (dotplus, 2020), novel Salah Langkah (Deepublish, 2022), dan kumpulan cerpen Ramadan (Salmah Publishing,2022). Karya-karyanya terangkum dalam beragam antologi. Dia masih terus belajar menulis.

 

Comments (0)
Add Comment