“Menjaga Api Persatuan, Merawat Warisan Leluhur di Bumi Lancang Kuning” Sebuah Renungan pada Hari Ulang Tahun ke-34 Ikatan Keluarga Nasution (IKANAS), Provinsi Riau: oleh Brigjen TNI (Purn), Edy Afrizal Natar Nasution, (Sutan Mangaraja Gompar Parlindungan).

Tiga puluh empat tahun sudah IKANAS Riau berdiri, mengukuhkan diri sebagai tenda besar tempat berteduh. Berhimpun dan berkontribusinya keturunan Marga Nasution di tanah Melayu Riau.

Namun, perayaan hari jadi IKANAS Riau kali ini, bukanlah sekedar seremonial angka-angka biasa yang di kemas dalam bentuk “Family Gathering“. Momentum HUT ke-34 ini adalah sebuah panggilan jiwa untuk memutar kembali memori kolektif kita ke sekitar abad ke-14.

Kita diundang untuk merenung kembali sebuah tapak sejarah yang agung dan otentik: Fakta sejarah yang membuktikan bahwa, sebagian keturunan Marga Nasution telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Melayu Riau sejak ratusan tahun yang lalu.

Mari kita bayangkan kembali masa lalu yang penuh air mata dan peluh itu. Di wilayah Tapanuli, dari tujuh bersaudara anak Sibaroar, (leluhur asal marga Nasution), yang merupakan keturunan langsung dari Boru Namora Suri Andung Jati (Sutan Perempuan), empat diantaranya, yakni anak nomor 1, (Sutan Iskandar), nomor 3 (Sutan Katimbang Dilangit), nomor 4, (Sutan Batara Guru), dan nomor 5, (Sutan Diatas Langit), tetap hidup dan berkembang di tanah asalnya, Tapanuli.

Namun, takdir sejarah berkata lain, disaat perang saudara berkecamuk di kerajaan Padang Galugur. Ketika ego kekuasaan membutakan mata persaudaraan, Suri Andung Jati tidak memilih untuk membalas dengan pedang. Sang Ratu memilih jalan mengalah demi keselamatan yang lebih besar.

Demi menyelamatkan masa depan keturunannya, beliau memboyong dua anak keturunan Sibaroar menuju ke arah Timur.

Langkah kaki Sang Sutan Perempuan, menembus lebatnya belantara Tapanuli hingga menembus bumi Melayu Lancang Kuning bukanlah bentuk pelarian dari ketakutan, melainkan sebuah jihad cinta seorang ibu demi menyelamatkan peradaban dan darah keturunan marga Nasution agar tidak punah ditelan perang.

Perjalanan suci ini menorehkan fakta sejarah yang abadi sejak tahun 1400-an, dimana ketika itu, anak nomor 2 (Suri Lindung Bulan), telah menjadi permaisuri Raja Tambusai, yaitu, Tuanku Syah Alam.

Sementara, dua anak terkecilnya yaitu, anak nomor 6 (Raja Solut, 14 tahun), dan anak nomor 7 (Raja Namora Gompar, 9 tahun), di bawa langsung oleh neneknya (Sutan Perempuan), hingga akhirnya menetap dan menjadi penduduk Kaiti, Rokan Hulu, Riau, hingga saat ini.

Di Kaiti, di atas tanah tempat pondasi kehidupan baru, Suri Andung Jati mengakhiri tugas dunianya, sebelum beliau menghilang (moksa) untuk selamanya, dan meninggalkan jejak kaki magisnya di Bagas Rarangan, Suri Andung Jati mengumpulkan Raja Solut, Raja Namora Gompar, serta seluruh pengikut setianya.

Di hadapan keluarga besar yang berkumpul, Sang Sutan Perempuan menitipkan sebuah wasiat abadi yang terus bergema melintasi ruang dan waktu.

Anak cucuku, darah dagingku…. perang telah kita tinggalkan di belakang, dan tanah baru ini telah menyambut kita dengan damai. Esok hari kalian tidak akan lagi melihat rupa kasarku. Namun, ingatlah pesan terakhirku ini,

Pertama: Pelihara dan rawatlah anak-anakmu (Raja Solut dan Raja Namora Gompar), jaga garis keturunan kita agar tumbuh menjadi pohon yang rimbun, yang akhirnya menancap kuat pada adat, dan daunnya menaungi sesama”.

Kedua: Junjung tinggi persatuan dan persaudaraan, jangan pernah biarkan api pertikaian yang menghancurkan rumah kita di Padang Galugur kembali berkobar di tanah rantau ini. Hiduplah dalam kegotongroyongan, se-iya sekata, se-ayun selangkah.

Ketiga: Hormati tempat tanahmu berpijak, bersatulah dengan masyarakat lokal disini, seumpama air dan susu. Rawatlah norma adat dan budaya leluhurmu agar tidak terkikis oleh zaman, tetapi jadilah warga yang setia memakmurkan bumi baru tempatmu mencari kehidupan ini.”

Wasiat luhur itu, kini telah berusia ratusan tahun. Raja Solut dan Raja Namora Gompar, telah tiada, namun darah, semangat dan pesan mereka mengalir deras di dalam nadi setiap anak keturunan Nasution, termasuk pengurus dan anggota IKANAS Riau hingga hari ini, tentunya.

Kenyataan bahwa keturunan nomor 2, 6 dan 7 dari anak Sibaroar ini telah menyatu dengan bumi Melayu Riau sejak abad ke-14, adalah bukti historis yang kuat: Marga Nasution di Riau bukanlah orang asing. Melainkan saudara kandung se-tanah air yang ikut mendirikan pilar-pilar peradaban di daerah Melayu ini.

Di usia IKANAS Riau yang ke-34, renungan ini mengetuk pintu hati kita masing-masing, dalam bentuk sebuah pertanyaan, “apakah kita sudah menjaga pesan Suri Andung Jati?”

Di tengah era modern yang penuh egoisme dan individualisme, IKANAS Riau harus menjadi penjelma dari impian Sang Ratu. Wadah yang merekatkan yang retak, mengumpulkan yang berserak, dan yang senantiasa mengedepankan semangat persatuan di atas segala perbedaan kepentingan kelompok.

Selamat Hari Ulang Tahun ke-34 IKANAS Riau,” mari kita jadikan peringatan ini sebagai momentum untuk memperkokoh pohon kekeluargaan Marga Nasution di Bumi Lancang Kuning.

Teruslah melangkah dengan tegak, menjaga warisan adat, menghormati budaya Melayu Riau. Dan merawat api persaudaraan yang telah dinyalakan dengan air mata pengorbanan oleh Sang Leluhur, Boru Namora Suri Andung Jati. Horas !

Pekanbaru, Sabtu 16 Agustus 2026.

Comments (0)
Add Comment