Sebagai manusia kita semua pasti mengalami yang namanya rasa duka dan bahagia? Tapi berapa banyak rasa duka dan bahagia dapat memicu rasa pertaubatan kita. Rasa duka karena kegagalan, karena kezaliman orang lain, karena takdir yang memisahkan, karena sakit yang menyempitkan hidup, bahkan maut yang memisahkan. Demikian pula rasa bahagia yang selalu menyelimuti setiap manusia sedikit banyak, lama atau sebentar pasti pernah mengalami pula seperti mendapatkan jodoh (pasangan hidup), anak, rezeki lain berupa materi yang tak disangka-sangka dan yang lainnya.
Di dunia ini banyak peristiwa duka dan kesedihan yang selalu menggulirkan air mata jika kita mengimbasnya kembali. Bagian kehidupan yang menjadi sisi kedukaan dan kesedihan mendalam bagi jiwa. Kita boleh menangis ketika mengingatnya kembali. Kita mungkin merasakan kepedihan dalam hati saat menghadirkan memori tentangnya. Tapi sayangnya kesedihan, kedukaan, kepedihan itu tak membuat kita lebih baik menjalani hidup setelahnya.
Kesedihan tinggallah kesedihan, kedukaan hanya sesaat. Kepedihan tak berapa lama, kemudian kita kembali hanyut dan terombang ambing dalam rutinitas dan kesibukan yang terus menerus menyita waktu hidup kita. Seharusnya ragam peristiwa itu adalah cermin menasehati langkah kita. Seharusnya kesedihan, kedukaan itu adalah pengingat agar kita lebih berhati-hati dan lebih memilih jalan untuk lebih dekat dengan Allah SWT. Selalu dekat, tidak pernah menjauh, apalagi mencari jalan yang lain. Nauzubillah.
Lalu apa artinya penggalan kisah itu diberikan Allah SWT dalam hidup kita? Bukankah Rasulullah SAW mengingatkan kita, bahwa musibah itu sejatinya bila disikapi dengan benar akan bisa membawa kita pada derajat yang lebih baik dari sebelumnya. Bukankah segala penderitaan yang dialami seorang mukmin itu akan membersihkan dirinya dari dosa. Dan ketika kedukaan dan penderitaan itu datang terasa berat dan bertubi-tubi, praktis akan banyak dosa dan kesalahan yang terkikis dari tubuh kita, hingga jiwa kita semua bisa menjadi bersih karenanya.
Setiap orang memiliki memorinya sendiri-sendiri tentang hidup. Tak semua orang menganggap penderitaan yang dialami seseorang itu berat, seberat apa yang dirasakan oleh orang yang menderita. Tak semua orang juga sepakat bahwa apa yang dialami seseorang itu memang penderitaan dan kesedihan. Karena tak jarang orang menganggap penderitaan itu biasa dan ringan, tapi sebenarnya terasa begitu menggelayut dalam jiwa. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang menganggap penderitaan seseorang itu berat, tapi sebenarnya ringan dipikul oleh orang yang mengalaminya. Apa musibah yang pernah kita alami dalam hidup kita hingga sekarang? Apakah ada musibah yang paling berat yang kita rasakan dibanding berbagai kondisi sulit yang kita lewati itu? Lalu apa reaksi kita dan langkah kita setelah mengalaminya? Apakah benar musibah yang kita alami itu mencuci kesalahan dan lebih mampu mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Hanya diri kita masing-masinglah yang tahu dan mampu menjawabnya.
Pada zaman Rasululullah SAW dan para sahabatnya hadir menerangi dan menebar cahaya tauhid di muka bumi ini, mereka juga bersedih, berduka, menyesali sesuatu yang telah terjadi. Tetapi mereka sama-sama mengerti bahwa kesedihan, kedukaan, penyesalan terhadap sesuatu yang sudah lewat, substansinya adalah bagaimana mereka bisa mengambil pelajaran untuk kebaikan selanjutnya. Karena Allah SWT secara tegas telah menjelaskan dalam Surat Al-Hasyr (59) ayat 2 yang artinya “….. maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan”.
Orang yang memiliki pandangan, melihat masa lalu untuk membaca sejarah, mengambil nasehat, membekali diri dengan pengalaman yang lalu, berhati-hati untuk tidak terjebak dalam kasus yang sama di kemudian hari. Mungkin mereka bersedih, berduka, dan menyesal. Kesedihan, luka, dan sakit di masa lalu menjadi modal untuk bisa menjadi lebih kuat menghadapi beragam situasi yang akan datang. Kuat menghadapi rongrongan hati untuk terjerumus dalam maksiat. Kuat menghadapi desakan lingkungan yang begitu luar biasa mendorong-dorong untuk jatuh ke lembah dosa. Kuat mengontrol diri untuk tidak terpeleset jatuh dalam bisikan syaitan yang ingin menjauhkan dari Allah SWT. Sebab jika kesedihan terhadap peristiwa lalu berdiri sendiri, tanpa kemampuan mengambil pelajaran darinya, maka kesedihan akan berdampak negatif dan berbahaya. Dale Breckenridge Carnegie (1888-1955), seorang pakar motivator berkebangsaan Amerika Serikat dalam bukunya How to Win Friends and Influence People mengatakan “Kita dapat melakukan sesuatu untuk mengubah akibat dari apa yang terjadi 180 detik yang lalu, tetapi kita tidak mungkin dapat merubah peristiwa yang sudah terjadi”.
Jadikan duka kita, sesal kita, terhadap semua yang tidak berkenan dan tidak seiring dengan kemauan, sebagai sarana untuk lebih dekat kepada Allah SWT, meskipun tidak mudah. Tidak akan ada manfaat kedukaan atas musibah bila kita tidak menjadikannya pelajaran berharga yang bisa menambah ketundukan kita pada Allah SWT. Tidak akan ada gunanya penyesalan atas kesalahan bila tidak membawa taubat dan kembali kepada taat. Tidak akan pernah ada manfaat bila kesedihan atas beragam peristiwa hidup hanya sebatas kesedihan, tapi tidak menjadikan jiwa yang lebih kuat menghadapi masalah yang tak pernah selesai. Orang optimis menurut ahli hikmah adalah orang yang tidak melihat adanya cahaya, tapi ia berusaha mencarinya sampai ia mendapatkannya. Sedangkan orang yang putus asa adalah orang yang melihat cahaya tapi ia tak percaya bahwa ia telah melihat cahaya.
Percayalah bahwa kegelapan takkan pernah ada tanpa didampingi cahaya. Mohonlah pertolongan hanya kepada Allah SWT dan jangan pernah menyerah lemah. Jika anda ditimpa sesuatu keburukan, jangan pernah katakan seandainya aku lakukan itu, niscaya aku akan begini dan begini. Tapi katakanlah “Allah SWT telah mentakdirkan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan. Karena sesungguhnya kata “Seandainya” itu membuka campur tangan syaitan”. Demikian wasiat Rasulullah SAW (HR. Imam Abu Dawud pada Pembahasan Mengenai Adab, Hadist Nomor 106). Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Insan (76) Ayat 30 yang artinya “Dan engkau tidak mampu menempuh jalan itu, kecuali apabila dikehendaki Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT adalah Zat yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Dengan cara seperti ini maka kita bisa menjadikan segala kedukaan sebagai jembatan ke arah kebahagiaan. Meskipun duka dan bahagia hakikatnya Allah SWT hadirkan silih berganti sebagai ujian kepada hamba-hambaNya dalam mengharungi kehidupan di alam fana ini. Kapan duka dan bahagia akan hadir pada kita hanya Allah SWT saja yang Maha Mengetahui. Sebagai hamba Allah SWT yang beriman kita wajib meyakini ianya adalah sebuah ketentuan (qadha’) dan takdir (qadar) Allah SWT yang wajib kita imani. Wallahua’lam bi al-Shawab.
*Pendidik di MTsN 1 Bengkalis