Pada umumnya manusia hidup dalam kuasa bahasa metafora. Sebagian kata mengambil rujukan biologis hewan sebagai penanda sifat yang dilekatkan kepada manusia. Timbullah kata ‘Si Jonkek itu buaya darat, jangan percaya padanya!” Sebagian sifat buaya yang diam, tersembunyi, telaten dan tekun sebagai upaya mencari mangsanya. “Si Diah itu ular, jangan dekat kali padanya!” Sebagian sifat ular, licin, lunak, dan menggemaskan ada pada Diah. Namun, pada sifat lain ia berbisa, beracun dan mematikan.
Pada drama “hikayat Sabai nan Aluih” (M. Rasyid, 1928) ada dikisahkan metafora kecantikan tentang tubuh manusia dalam hal ini keindahan seorang perempuan. Metafora feminisme ini menjadi gosip dan lama kelamaan menjadi mitos kecantikan. Misalnya matanya ibarat bintang timur, pipinya bak pauh dilayang, keningnya kiliran taji, alis seperti semut beriring, telinga bak telepok layu, hidung medasun tunggal, dan dagunya ibarat lebah bergantung. Betis bagai perut padi bunting, lengan bagai lilin dituang dan jalan bagai si ganjur lalai lebih banyak mundur daripada maju. (Entah jalan lenggang macam apa pula ini).
Mitos Melayu
Mitos dibangun dan dibentuk bukan melalui penyelidikan, tapi melalui anggapan berdasarkan observasi kasar yang digeneralisasikan. Oleh karenanya mitos lebih banyak hidup dalam masyarakat (Yunus, 1981). Mitos hidup dalam gosip. Kemudian ia mungkin dibuktikan dalam kenyataan. Mitos tentang korupsi pada mulanya hanya sebuah pergunjingan akibat iri terhadap kekuasaan. Namun, ia telah dibuktikan dengan tindakan nyata, ada yang ditangkap dan didakwa karena telah melakukan korupsi.
Mitos juga suatu anggapan yang berkembang pada suatu zaman. Mitos ibu tiri membuat orang membenci ibu tiri. Padahal tidak setiap ibu tiri kejam. Pemikiran ini dilakukan lagi secara intens tatkala produser piringan hitam menebarkan lagu anak tiri yang menjadi hits tahun 1960-an di Indonesia. lagu itu menasehati sang ibu tiri agar menyayangi tapi tetap saja memojokkan posisi ibu tiri. Masih tahun 60-an sampai tahun 70-an, mitos kecantikan masih terpaut kepada wanita “hitam manis”.
Dalam pantun si hitam manis yang disenandungkan Mus Mulyadi terdengar lirik-lirik tentang paras/wajah ibarat hitam-hitam setampuk manggis, meski hitam dipandang manis. Ibarat burung merpati, walaupun hitam menarik hati. ibarat gula jawa, walaupun hitam manis rupanya. Begitulah, kita berhadapan dengan suatu mitos yang tertanam dalam benak seseorang tanpa mempersoalkan benar atau tidak benar baik dan buruknya.
“Sebuah mitos,” demikian kata Umar Yunus dapat dilawan dengan dua cara, yakni: (a) mengadakan mitos baru (b) membuktikan bahwa sesuatu mitos itu tidak benar adanya. Pendapat Umar Yunus memang memperkuat kebenaran itu .
Pada iklan kecantikan (abad ke 21) justru yang cantik itu adalah “orang yang berkulit putih“. Bukan orang berkulit hitam. Mitos kecantikan kontemporer adalah wanita yang berkulit “kuning langsat“, putih seperti pada diri Tamara Blazinsky, Angelia Jones, Demi More termasuk para bintang sinteron Jakarta yang memoles kecantikan sebagai paras yang putih dan kuning. Kalaupun ada yang berparas hitam-manis harus dipoles dengan kekuatan kosmetik yang membuat wajahnya cantik dan bukan “hitam manis“.
Dalam sastra tradisi, kita lebih banyak berhadapan dengan mitos. Misalnya mitos kepahlawanan, raja yang sakti, putri cantik yang bisa mengubah sejarah, mengubah pantai, dan gunung dan mengubah laut menjadi legenda dan hikayat.
Dari mitos kecantikan ini meningkat menjadi kontestasi semacam adu kecantikan di kalangan kaum perempuan. Kuasa feminisme ini memunculkan tubuh bukan hanya sebagai fisikal semata tetapi juga sebagai pesan. Tubuh sebagai sosok bisa diatur dan diperintah dan diperindah.
Sesuai dengan ruang lokalitas tubuh bisa diberdayakan, diperebutkan. Penjelasan yang konkret ia bisa diatur dalam berbagai kepentingan perawatan, tangan, kaki, wajah, rambut, ukuran tubuh, ukuran payu dara, ukuran gigi dan betis tumit. Dalam pantun Melayu tertulis, Ada rasa berisi pandan/Hendak mengayam tikar sembahyang/Tujuh surga di dalam badan/Di situ tempat berkasih sayang.
Metafora feminisme yang merujuk kepada metafora kaum perempuan ini memiliki kuasa bahasa dan mereka diperebutkan dalam makna selera (syahwat) dan juga makna simbolik. Tubuh manusia menjadi pesan yang menantang lingkungan dan lingkar berkebudayaan metropolitan. Pusat-pusat toko dan plaza dipenuhi iklan-iklan kecantikan, alat-alat kosmetika, fashion show, tas mewah yang keren dan mahal. Mereka diperebutkan dalam arti harfiah bahkan dibisniskan dalam dalam dunia kosmetik dan kontestan ratu kecantikan.
Ratu kecantikan sejati itu terdapat pada riwayat Cleopatra ratu Mesir kuno. Dia naik takhta pada usia 17 tahun dan meninggal pada usia 39 tahun. Dia berbicara dalam sembilan bahasa. Dia mengetahui bahasa Mesir Kuno dan telah belajar membaca hieroglif, sebuah kasus unik di dinastinya. Selain itu, dia tahu bahasa Yunani dan bahasa kelahirannya, Ibrani, Medos, Trog.
Dengan pengetahuan ini, buku apa pun di dunia terbuka untuknya. Selain bahasa, ia mempelajari geografi, sejarah, astronomi, diplomasi internasional, matematika, alkimia, kedokteran, zoologi, ekonomi dan disiplin ilmu lainnya. Dia mencoba mengakses semua pengetahuan pada masanya.
Cleopatra menghabiskan banyak waktunya di semacam laboratorium kuno. Menulis beberapa karya yang berhubungan dengan herbal dan kosmetik. Sayangnya, semua bukunya tentang kecantikan musnah terbakar. Bisnis kesehatan dan kosmetik seperti skincare, pelembut wajah, pengaturan alis dan penggantian lensa mata yang cemerlang bukan menjadi rahasia bagi kaum wanita di masa posmodernisme dan kosmopolitan ini. Metafora feminisme tidak hanya melanda tingkat orang dewasa akan tetapi juga anak-anak balita (anak-anak perempuan) yang amg sudah bermain dengan alat-alat kosmetika yang khusus diciptakan untuk mereka. Dengan begitu metafora feminisme menawarkan tubuh dalam dunia salon, budaya salon yang terbelah atas pesan narsistis.
Makna Narsistis
Narsistik memiliki beberapa makna, antara lain:
1. Kepribadian yang terlalu mencintai diri sendiri, memiliki rasa superioritas, dan membutuhkan pujian dan pengakuan dari orang lain.
2. Seseorang yang memiliki kecenderungan untuk memuja diri sendiri, memiliki rasa ego yang besar, dan sulit untuk menerima kritik atau umpan balik.
3. Gangguan kepribadian yang ditandai dengan pola perilaku yang egosentris, manipulatif, dan eksotik serta kurang memiliki empati terhadap orang lain.
Budaya narsistik yang dipoles dengan alat-alat kosmetika kecantikan cenderung kurang memiliki empati atau kesadaran akan perasaan orang lain. Bahkan menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan pribadi.
Penutup
Dalam meredam sikap narsistis bagi manusia terutama kaum perempuan. Agama Islam telah menyampaikan pesan-pesan tentang pentingnya membungkus tubuh yang indah itu dengan kerudung dan jilbab dengan menyisakan wajah dan kedua telapak tangan .
Oleh karena sopan-santun itu juga termasuk bahasa tubuh. Ia perlu dibungkus dengan rapi dan santun. Termasuk Muslimah yang fasionable. Sebagaimana penyair Muthanabi berpuisi bahwa kebanyakan wanita-wanita cantik itu menutupi tubuhnya dengan jilbab yang indah. Tujuannya bukan sekedar mempercantik diri mereka saja akan tetapi menghindarkan tatapan yang nakal dari mata lelaki. Wallahu alam bisawab!
Penulis dosen, tinggal di Medan