Kalau diibaratkan dengan umur manusia maka umur 97 tahun itu termasuk uzur. Badan sudah lemas, lesu, lunglai, layu, loyo bahkan sudah pikun. Namun berbeda dengan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) sekarang, justru pada saat sekarang Perti yang berumur 97 tahun pada 05 Mei 2025 kembali segar bagaikan anak muda yang segar bugar, kreatif, cerdas dan dinamis. Hal ini disebabkan Perti telah ishlah pada tahun 2016, setelah bergelut dengan fenomena politik yang membuat Perti tersadai dipanggung pergulatan.
Tahun 2016 adalah tonggak sejarah yang ingin membangkitkan batang terendam, jamaah Perti bersatu padu, bangun setelah terlelalap selama puluhan tahun.Kini baru sadar bahwa Perti yang lahir pada 05 Mei 1928 di Candung bukanlah ormas Islam kaleng-kaleng. Perti yang banyak melahirkan ulama terkenal di Nusantara ini tetap konsisten dalam mempertahankan ahlussunnah waljama’ah, dengan berlandaskan i’tikad imam al-Asyari dan imam al-Maturidi, dengan bermazhab imam Syafi’i serta mengamalkan tasauf yang berpedoman pada ajaran imam Junaid al-Baghdadi dan imam al-Ghazali.
Dan yang lebih khasnya lagi Perti yang dibidani oleh Syekh Sulaiman arrasuli yang belajar di Makkah, dimana salah satu gurunya adalah Syech Ahmad Chatib al Minangkabawi, justru lahir dari Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI). Dari MTI inilah merupakan cikal bakal lahirnya Perti yang merupakan Ormas Islam terbesar pada masanya bersama NU dan Muhammaddiyah.
Kini para tokoh-tokoh Perti bangkit serentak dan berazam untuk membawa Perti yang Cemerlang,Gemilang dan Terbilang. Cemerlang secara umum berarti bersinar atau bercahaya sangat terang atau dapat juga berarti cerdas, indah atau bagus sekali. Sehingga Perti yang Cemerlang bagaimana kita mengembalikan Perti sebagai Ormas Islam yang terang benderang, bercahaya, menjadi rujukan ummat dalam melahirkan ulama yang tangguh demi untuk mencerdaskan ummat yang bertaqwa serta sebagai benteng dan pagar negara kesatuan Republik Indonesia.
Sedangkan makna Gemilang adalah suatu kondisi yang terang, gemerlap, berkilau, mengagumkan dan terpandang dalam 3 pilar yakni: agama, ekonomi dan pendidikan, menuju kejayaan dan kemasyhuran dengan memperhatiakan kesetaraan dan keadilan gender. Sehingga Perti yang Gemilang bermakna Perti dapat sebagai ormas Islam yang besar, disegani, bermanfaat terhadap pembangunan agama serta mampu memajukan perekonomian bangsa serta mampu memajukan pendidikan yang berkarakter demi untuk mencerdaskan ummat yang berakhlakul karimah.
Sedangkan makna Terbilang adalah dapat dihitung,termasuk dalam hitungan atau dianggap sebagai sesuatu yang penting. Dalam kiasan Melayu disebut bukan seperti timun bungkuk, artinya ada tapi tidak dihitung orang. Dalam istilah bahasa Cina disebut cincailah, karena timun bungkuk maka digratiskan untuk pembeli. Perti bukan mentimun bungkuk tapi Perti sebagai ormas Islam yang terbilang karena diperhitungkan, tidak dianggap sebelah mata. MTl dan Pondok Pesantrennya mengajarkan kitab-kitab klasik, disebut kitab kuning atau kitab turash. Ini merupakan kekhasan sekolah-sekolah Perti, sehingga ulama-ulama jebolan MTI atau Pondok Pesantren Perti tidak diragukan lagi kealimannya, mampu mempertahankan kemurnian ajaran Islam.
Disamping itu yang membuat Perti fresh kembali adalah dengan telah berkomitmennya ulama kondang yang mendunia yaitu Syech Prof Abdul Somad, Lc, D.E.S.A, Ph.D (UAS) meneraju Lembaga Penyelenggaraan Pendidikan Perti Nasional (LP3N). Semua jamaah Perti tersentak dan berikrar dengan melahirkan Bai’at Nurul Azhar ketika diselenggarakannya Seminar Internasional dan Muzakarah Pendidikan Perti di Pekanbaru pada 22 s.d. 24 April 2025. Sehingga lahirlah One Kurikulum Pendidikan Perti. Sehingga akan terwujud pendidikan Perti yang istiqomah dan adaptif. Istiqomah bermakna mempertahan kemurnian kitab kuning. Sementara adaptif bermakna dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman dan teknologi. Dengan diamanahkannya UAS sebagai Direktur LP3N maka kejayaan Perti kedepan semakin nyata.
Namun diusia 97 ini ada yang membuat kita prihatin yakni belum juga Inyiak Canding dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Sementara teman seperjuannya sudah menjadi Pahlawan Nasional, yaitu KH Hasyim Asyari sebagai pendiri NU dan KH Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah. Kinilah saatnya Perti bersatu dan bangkit memperjuangkan Inyiak Candung sebagai Pahlawan Nasional. Hilangkan ego sukuisme, kelompokisme, familiesme. Bersatu kita bisa.
Kesuksesan itu akan terwujud jika kita bisa memadukan antara ikhtiar dan doa. Manjadda wajada (Siapa yang bersungguh-sungguh, akan mendapatkannya).
Semoga ya Rabb….