Mozaik : Dari Sate Martawi Ke Nusakambangan

Dari Sate Martawi  Ke Nusakambangan

Masih dalam suasana lebaran; ketupat, ayam opor, rendang, jenang, wajik, dan lainnya tentu selalu menghias meja makan atau  ruang tamu. Lebaran kali ini sesuai anjuran pemerintah, lebaran cukup di rumah saja sebagai antisipasi dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Jadi, semua panganan dimakan di rumah oleh keluarga masing-masing.

Saya jadi terkenang dengan sebuah momen unik ketika berkunjung ke kota Cilacap, sebuah kota yang tidak begitu besar yang terletak di Jawa Tengah bagian selatan dan satu-satunya kota milik provinsi Jawa Tengah yang diawali dengan sebutan “Ci” yang selama ini identik dengan Jawa Barat.  Ada Ciomas, Cicadas, Ciamis, Cianjur, Ciheudung, Cibeureum sampai  Cimahi. Tentu juga ada ubi jalar yang sangat manis rasanya ubi Cilembu namanya. Kalau demikian adanya, bagaimana dengan kampung kelahiran saya “Citaman Jernih?”

Hari itu saya naik travel  mini bus dari Yogya menuju Cilacap. Jarak Yogya – Cilacap sebenaranya tidak begitu jauh, hampir 180  kilometer, tetapi ditempuh dengan 4 jam perjalanan. Biasanya sopir bus akan berhenti di rest area untuk istrahat sebenar dan penumpang bisa juga menikmati makanan yang ada di rest area. Perjalanan Yogya – Cilacap menempuh jalur selatan  yang kendaraannya tidak seramai jalur Pantura. Oleh karena saya duduk di depan, saya coba berbincang ringan dengan Pak Sopir yang menurut saya sudah cukup pengalaman berada di balik stir mobil. Dari beberapa pertanyaan saya,  Pak Sopir menawarkan kepada saya “sate ayam martawi”. Ya, sate martawi sangat terkenal, begitu kira-kira sebutnya.

Apanya yang luar biasa dari sate ayam martawi? Informasi Pak Sopir bahwa sate ayam martawi sudah ada sejak zaman revolusi. Wow! Sontak saya jadi kaget! Bukankah zaman revolusi berkisar tahun 1940an? Artinya, usaha sate ayam maratwi sekarang tentu yang menjalani generasi anak atau cucu.

Benar saja, sore hari itu juga setelah tiba di Cilacap, saya langsung mencari lokasi sate ayam martawi. Lokasinya mudah didapat, berada di dekat pertigaan antara jalan S. Parman  dan Semeru. Tempat jualannya sederhana layaknya warung-warung di pulau Jawa; tersedia beberapa meja dan kursi, di atas meja juga ada kaleng-kaleng berisi kerupuk tentu juga ada air putih masak dan beberapa gelas. Menurut saya warung sate ayam martawi memang sederhana, tidak layaknya warung-warung pastfood masa kini. Suasana rumah makan “kejawaannya” dapat dinikmati.

Ternyata sate ayam martawi mirip dengan sate ayam orang Madura; daging ayam dibakar, kuah kacang plus kecap manis, dan lontong bleh ditambahkan cabe atau saus penyedap.  Semuanya sama, hanya satu saja yang membedakan; sate ayam martawi tusuknya dua (double). Setiap potong daging ayam diusuk dengan dua lidi, artinya ukuran dagingnya lebih besar. Saya jadi penasaran juga, bagaimana ini kalau dilakukan hal yang sama pada sate padang yang ukuran dagingnya tipis-tipis? Jadi, jangan heran kalau selesai makan sate ayam martawi, piring dipenuhi lidi tusukan sate. Informasi yang saya dapat, sate ayam martawi  dirintis oleh  Mbah Martawi   sejak zaman revolusi. Nama Martawi diambil dari nama perintis pertamanya. Ya, sate ayam martawi maknyus rasanya.

Keesokannya saya menjadwalkan ke Pulau Nusa Kambangan. JIka kita mendengar kata Nusa Kambangan, pikiran kita terasosiasi  pada Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Selain itu aura mistis juga menyelimuti pulau ini; vegetasinya lebat dan dipenuhi hewan liar. Satu hal yang perlu dicatat adalah akses menuju Nusa Kambangan amat sangat terbatas. Memang, sejak tahun 1975, Pulau Nusa Kambangan dibuka untuk umum tetapi itu untuk Nusa Kambangan bagian Timur. Bagian Baratnya masih terbatas karena adanya Lapas yang menampung ribuan narapida dari berbagai golongan kejahatan. Jadi untuk hal ini pemerintah membatasi dan hanya ada orang-orang tertentu yang diberi izin dapat memasuki wilayah Barat. Tapi hari itu saya sedikit beruntung karena dibolehkan untuk sampai pada Lapas Kelas I Batu.

Di bagian Timur Nusa Kambangan kita pun dibatasi jam kunjungan sampai pukul 17.00 waktu setempat.  Untuk mencapai Pulau Nusa Kambangan kita bisa menumpang kapal kecil  bermesin tempel yang ramai berseliwuren di pinggir Pantai Teluk Penyu.

Mas Agus, pemandu saya dengan membawa serta seekor anjingnya mencoba menghibur saya dengan menelusuri Pantai Karang Bolong. Benar saja, di situ memang ada sebuah karang yang tengahnya bolong. Bolongannya pun cukup besar dan kita boleh berfoto atau mencoba menerobos bolongan karang. Tapi selalu saja ada hal mistis lain yang disebut Mas Agus, kita tidak boleh menaiki karang bolong karena dikhawatirkan kualat, begitulah kira-kira ungkapnya. Bahkan dia menceritakan ada orang yang mencoba untuk tidak percaya dan tidak lama kemudian mengalami musibah. Untuk  waktu itu saya pun tidak mempunyai kepentingan untuk menaikinya dan saya cukup  asyik  menikmati deburan ombang dan tamparan angin laut ke wajah saya yang lumayan kencang.

Kemudian saya dibawa ke Kalipat Beach (Pantai Kalipat) yang memiliki pasir rada kasar dan garis pantai lumayan panjang. Sepulangnya, Mas Agus membawa saya ke sebuah lokasi yang berada di tengah semak belukar. Di situ saya temui sebuah benteng pertahanan bekas peninggalan Belanda. Benteng Karang Bolong namanya. Pemberian nama ini barangkali ada hubungannya dengan letaknya yang tidak begitu jauh dari pantai yang ada karang bolongnya. Tapi sayang, ada saja ulah tangan-tangan jahil yang  menuliskan kalimat-kalimat tidak produktif di dinding bangunan benteng.  Tidak banyak benda unik kita jumpai di sini, hanya bangunan benteng  layaknya sebuah benteng pertahanan militer.

Tapi Mas Agus memberikan sebuah cerita mitos pada saya, bahwa konon ceritanya ada hubungan  antara Benteng Pertahanan Karang Bolong dengan Benteng Pendem yang terletak di Pantai Teluk Penyu persisnya di jalan Benteng Cilacap. Kata Mas Agus, ada terowongan yang menghubungkan kedua benteng tersebut. Tetapi setelah saya tanya dimana pintunya, ia hanya mengungkapkan kalau itu cerita mulut ke mulut masyarakat sekitar.

Sampai di sini saya hanya terdiam.  Setelah berpuas dengan berkeliling sebagian besar wilayah Nusa Kambangan, sore itu saya kembali ke Pantai Teluk Penyu ditemani ombak yang mulai besar.  Sungguh, dalam hati saya merasa khawatir karena sewaktu berangkat ke Pulau Nusa Kambangan ombak tidak sebesar namun saat menuju pulang ombaknya cukup besar dan membuat saya sedikit khawatir.*

Selamat Lebaran. Mohon maaf lahir batin.

mozaik
Comments (2)
Add Comment
  • Warung Sate Ayam Mas Rizal - Sate Ayam Madura Mas Rizal - Makassar, Sulawesi Selatan

    […] Menurut saya warung sate ayam martawi memang sederhana, tidak layaknya warung-warung pastfood masa kini. Suasana rumah makan “kejawaannya” dapat dinikmati. Ternyata sate ayam martawi mirip dengan sate ayam orang Madura; daging ayam dibakar, kuah kacang plus kecap manis, dan lontong bleh ditambahkan cabe atau saus penyedap. Semuanya sama … Baca selengkapnya… […]

  • Wahid

    Mantap ada Citaman jernih nya