Memahami Teks dan Konteks dalam Bermedia Sosial, Seberapa Literat Kita?
Dalam teori Ilmu Komunikasi, komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari seorang komunikator kepada komunikan menggunakan media yang pada akhirnya menimbulkan efek dan pengaruh. Di era digital, peran media menjadi sangat berpengaruh terhadap proses komunikasi. Pernah melihat orang saling menghujat di media sosial? Ternyata salah satu penyebabnya karena komunikasi yang tidak efektif. Rendahnya kemampuan memahami teks dan konteks dalam komunikasi.
Seberapa literat kita? Saya ingin menguraikan dari hal yang sederhana saja, bagaimana kita memahami teks dan konteks dalam komunikasi.
Teks dan Konteks Sebagai Definisi
Kridalaksana dalam Kamus Linguistik Edisi Keempat (2011) menyebutkan definisi teks sebagai suatu ujaran hasil dari tindak tutur yang bisa berupa kalimat, kata, atau yang lainnya dalam satuan bahasa yang lengkap dan sifatnya abstrak.
Sedangkan konteks ia definisikan sebagai aspek lingkungan fisik atau sosial yang terkait dengan teks yang muncul. Selain itu, konteks juga bisa diartikan sebagai sebab yang melatarbelakangi sebuah dialog. Sebuah paragraf atau wacana masih saling terkait, maka unsur-unsurnya harus dipahami bersama.
Dalam dunia literasi, subyek pertama yang harus dipelajari adalah teks itu sendiri. Memahami teks yang berangkat dari konteks. Menafsirkan teks haruslah dikaitkan dengan konteks sebab keduanya satu kesatuan yang utuh.
Proses memahami teks dan konteks ini adalah bagian dari langkah awal seorang dalam menyerap informasi. Sebelum berikutnya melakukan analisa, membandingkan, hingga menciptakan sebuah produk literasi.
Media Sosial dan Latahnya Kita Meninggalkan Konteks
Beberapa hari yang lalu seseorang mengirimkan pesan kepada saya tentang seorang penulis yang membuat postingan di statusnya mengomentari teks sebuah flyer kegiatan literasi tanpa mengaitkannya dengan konteks yang sebenarnya.
Akibatnya postingan tersebut pun meraih ratusan ‘like’ dan puluhan komentar dari pengikut si penulis. Semua menyetujui komentar sepihak si penulis sebagai sebuah teks. Si penulis hanya mengutip teks tanpa mengaitkan dengan konteks, dan para komentator pun mengomentari apa yang tertulis. Kalimat-kalimat bernada negatif pun muncul. Istilahnya gibah online nasional, tanpa adanya klarifikasi dengan pihak si penyelenggara acara.
Demikianlah kebiasaan kita dalam bermedsos. Bahkan seorang pegiat literasi pun latah meninggalkan makna teks dan konteks.
Kasus teks dan konteks ini menjadi yang paling sering terjadi di media sosial. Seorang tokoh mengatakan A dalam video atau berita, lalu dipotong sedemikian rupa oleh warganet, maka ramailah komentar-komentar negatif yang muncul. Masyarakat kita didominasi emosi sehingga lupa mengaitkan teks dan konteks. Jika itu terjadi pada masyarakat biasa, wajarlah bisa dimaklumi, tetapi jika itu terjadi pada yang katanya pegiat dan penggiat literasi, sebenarnya apa yang terjadi dalam dunia literasi kita? Mereka yang mengaku penggiat saja tidak bisa literat memahami teks dan konteks apalagi masyarakat umum.
Antitesis Dramaturgi
Teori komunikasi dramaturgi milik Erving Goffman (1956) yang menyatakan panggung kehidupan seseorang sebagai front stage dan back stage nyatanya semakin mengalami kritikan di media sosial hari ini. Demi sesuatu yang viral, yang paling utama, yang terdepan, ngetop, banyak like, banyak komen, dan lainnya, orang rela melakukan apa saja. Termasuk melupakan teks yang didasarkan konteks. Melupakan adab dan mendahulukan pendekatan emosi dalam memahami sesuatu.
Sudah saatnya kita menilai sesuatu lebih bijaksana. Apakah kita benar-benar literat dengan sesuatu atau tidak bisa diukur dari cara kita menyikapi dan memandang sesuatu. Kepintaran saja tidak cukup dalam bermedia sosial tanpa kita memiliki sikap yang bijak. Bersikap adil dalam menyebarkan informasi sebab media sebagai bagian dari proses komunikasi akan menentukan efek. Jangan sampai efek media sosial yang buruk ternyata berasal dari tangan pegiat-pegiat literasinya. Semoga kita tidak.
(Nafi’ah al-Ma’rab adalah nama pena dari Sugiarti. Ia adalah penggiat literasi di Forum Lingkar Pena sekaligus mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Riau).