Sekarang mau naik daun belum sampai-sampai. Banyak yang perlu dipelajari, bentuk pohon, sifat pohon, dasar dahan, cabang ranting, struktur kulit, warna daun dan tak mungkin pula semua disebut, nanti tidak jadi puisi.
Daun-daun di sini umumnya hijau, sedikit yang Varigata. Gradasinya pun tergantung bauran genetika induk batang membentuk corak daun dengan alaminya.
Asupan gizi masing-masing akar juga berpengaruh, tergantung tanah yang diserap. Mulai dari genangan lembah sampai ke dataran tinggi, kadar asin, payau, manis, pahit, tawar dan segala rasa yang pernah ada sampai rasa baru yang bakal ada.
Oh ya, ada yang tertinggal. Kadar asam pada tanah yang memungkinkan punca bertautnya antara asam sulfat dan asam folat juga mengantarkan aneka problem pada daun yang suatu saat akan gugur sesuai adaptasi lingkungan.
Adat pakai part melandasi dasar pohon yang menjadikan daun sebagai dasi, lambang lumbung pangan yang pernah diasup menyokong tunas-tunas baru yang kelak tumbuh mewarisi golongan.
Terbentuklah bercak, corak hijau keputih-putihan, hijau kemerah-merahan, hijau kekuning-kuningan, hijau kebiru-biruan, hijau ke seluruh warna yang pernah ditangkap mata. Ada yang putih bersih dan banyak corak juga, tapi tidak termasuk ke dalam trah tumbuh-tumbuhan sekalipun menyandang proses pertumbuhan. Tanya saja pada cendawan yang menjamur.
Varian Varigata pakai part dalam mutasi genetik, dari tidak berwarna hingga bangga dengan warna tak terhingga.
Penelitian masih berlanjut untuk menemukan alasan valid mengenai asam sulfat dan asam folat mempengaruhi corak daun.
Ada part-part tertentu yang bakal dilalui menjemput proses yang penuh progres.
Naik daun tidak mudah, butuh energi dan insting di lingkungan yang marak ditumbuhi pohon-pohon seragam, kata bayi capung yang kian pelik paduan suara.
Pekanbaru, 26 Desember 2023