Puisi-puisi Yehezkiel Sihombing

Penghujung Helai

Di tepi sore,
sinar emas hangat terpancar halus dari mata nan sayu.
Abad terkikis oleh langkah, seirama kerut keriput kulit.

Angin membawa bisik waktu, gugurkan rindu yang layu.
Helai demi helai, usia menulis sajak di dahi nan sendu.
Tegak nan agung kini ringkuk membungkuk malu.

Tapak nan kian jauh kini tertumpu tumit lunglai.
Jagat kusuma berlalu terus lari meski tersesat, kian kesumat toreh tragedi.
Terengah dalam panjang nafas hela.

Di balik penghujung helai, hikayat menjadi bingkai
akan kisah nan usang di tanah kian gersang.
Terus berjuang mundur berpantang,
laksana musang terus mengerang walau badai julang.

Aceh, 30 April 2026

Sobat Buruh

Tanah rantau jauh kau dekat, sembari dekat dikau melaknat.
Sumringah terukir raut bibir mungilmu berdesis,
namun badanmu tertindih lukaku. Kaulah sobatku.

Tatkala celaku kupangku nista, kau junjung panji lawan moksa.
Bila anugerah terpungut tipis, bibirmu sindir: “Hanya beruntung.”
Siang merayap, umur terlahap mesin, doa disaku.
Kemeja lusuh tampung peluh harap dapurmu mengepul syahdu.

Di balik helm retak, nanar mata beringas meledek seru.
Sang sobat tak kenal malu, luruh dihadang moksa ditantang.
Keringatmu tinta penaku, leluconmu aksaraku.

Sayup doa sayap terbentang, terukir asa genggam nirwana.

Aceh, 4 Mei 2026.

 

Comments (0)
Add Comment