Pantun: Catatan Shafwan Hadi Umry

The principal thing wich needs to be heeded is to listen attentively to the indigenous. Melayunesee when they are reciting a quatrain and indetifying their selves in front of other villagers. The Melayunesse culture is heard in a pantun. “Hari ini merendang jagung/Hari esok merendang serai/Hari ini kita berkampung/Hari esok kita bercerai.” Today we prepare corn he rendang, tomorrow we prepare serai (citronella grass) Today we get together tomorrow we may separate)

Orang Melayu di Nusantara ini amat terbuka dan tidak lagi terikat pada factor geneologis, tetapi dipersatukan oleh faktor kultural yang sama yakni kesamaan beragama Islam , berbahasa Melayu dan bradat istaiadat Melayu. Pantun sebagai seni bertutur dipercakapkan di ruang komunikasi untuk mengucapkan dirinya di tengah masyarakat.

Buku “Serumpun Pantun Melayu” (edisi 2023, Penerbit Amerta Media) dapat kiranya memuaskan selera budaya Anda untuk menikmati pantun Melayu yang dikutip dari berbagai kantong-kantong budaya Melayu Asia Tenggara. Selamat membaca!

(Shafwan Hadi Umry/Ketua Satupena Sumatra Utara)

Comments (0)
Add Comment