Pengabdian Kiki Untuk Indonesia: Resensi Jimmy Frismandana Kudo

Judul : Hingga Salvo Terakhir: Bakti Prajurit TNI
Penulis : Kiki Syahnakri
Cetakan : Pertama, April 2025
Tebal : xx + 332 halaman
ISBN : 978-623-523-493-9
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta

Masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke mampunyai caranya masing-masing untuk berbakti kepada bangsa dan negara sebagai tanggung jawab untuk meneruskan kemerdekaan Indonesia yang telah didapatkan para pahlawan dengan penuh pengorbanan dan ketulusan. Masyarakat Indonesia sesuai dengan latar belakang, kemampuan, dan keahlian masing-masing dapat berbakti kepada nusa dan bangsa termasuk pengabdian sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang menjaga kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Indonesia mempunyai banyak tokoh militer dari berbagai angkatan yang berjuang dan mengabdi untuk Ibu Pertiwi. Dari tokoh-tokoh militer ini, kita semua khususnya generasi muda Indonesia dapat mengambil pelajaran penting dan teladan untuk selalu mencintai Indonesia dalam ikatan kuat Bhinneka Tunggal Ika. Salah satu tokoh militer yang menulis buku sebagai autobiografi adalah Kiki Syahnakri dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Kiki menulis autobiografi yang bagus sekali sebagai memori sejarah untuk dapat diketahui oleh masyarakat luas Indonesia.

Dalam pengantar penulis dalam buku ini (halaman x), Kiki berusaha untuk memasukkan nilai-nilai keindonesiaan, sejarah perjuangan bangsa, pengetahuan baik umum maupun keprajuritan, kepemimpinan, serta “keteladanan” para senior TNI dan juga para bawahan. Kisah hidup Kiki sebagai prajurit TNI dapat menjadi bacaan yang menarik dan yang paling penting referensi sejarah khususnya sejarah bidang militer melalui tokoh-tokoh militer yang mengabdikan diri sebagai tentara untuk negeri tercinta, Indonesia.

Mengenai Timor Timur yang pernah menjadi bagian dari Indonesia, Kiki menulis (halaman x – xi), “Buku ini juga memuat cerita (khususnya tentang yang terjadi di Timor Timur / Timtim) yang berbeda dengan cerita yang ketika itu berkembang dalam pemberitaan di dalam dan di luar negeri yang sangat merugikan Indonesia, khususnya TNI. Dimaksudkan agar cerita yang diungkap dalam buku ini dapat menjadi pembanding, atau dapat meluruskannya. Ada beberapa pengulangan kisah dari buku saya terdahulu Timor Timur The Untold Story. Hal itu dimaksudkan sebagai afirmasi, untuk menegaskan kembali bahwa dalam kasus Timor Timur, Indonesia telah menjadi korban dari konspirasi internasional, baik ketika memasukinya tahun 1975 maupun ketika meninggalkannya tahun 1999.” Bagi mereka yang menaruh perhatian sejarah pada Timor Timur maka buku ini layak dijadikan salah satu referensi sejarah untuk mengkaji lebih dalam mengenai Timor Timur.

Kiki menulis buku ini dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti oleh mereka yang membacanya. Buku ini terdiri dari enam bab yang masing-masing bab mempunyai cerita sejarah yang dapat menjadi pengalaman berharga dan hikmah penting dalam usaha dan upaya untuk selalu mencintai Indonesia dengan cara kita masing-masing sebagai masyarakat dari negara maritim yang indah dan luas ini.

Peran orang tua sangat krusial dalam membentuk karakter anak. Hal ini seperti ditulis (halaman 15) oleh Kiki, “Ketika saya kecil belum ada televisi, radio pun tidak ada karena di kampung saya belum ada listrik, radio transistor baru dimiliki keluarga saat saya sudah di SMP awal tahun 1960-an. Jadi, kejiwaan saya, termasuk rasa kebangsaan atau nasionalisme dan patriotisme, dibina dan tumbuh lewat dongeng pengantar tidur yang biasa diceritakan oleh orang tua, terutama ayah saya. Dongeng ayah yang dirasakan berhasil menyentuh nurani, menggugah jiwa, dan masih bersemayam dalam ingatan hingga sekarang antara lain cerita tentang kepahlawanan Untung Surapati dan Wolter Mongisidi.” Suatu kisah yang sangat layak untuk dijadikan panutan dan dijalankan sebagai orang tua bagi anak-anaknya tercinta.

Kiki juga menaruh perhatian pada generasi muda Indonesia. Generasi saat ini, dekat dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Media sosial bertebaran dari berbagai jenis aplikasi. Mengenai hal ini, Kiki menulis (halaman 20), “Dalam suasana hiruk pikuknya anak-anak kita melakukan kegiatan dengan menggunakan berbagai aplikasi media sosial, peran dongeng orang tua masih sangat penting dalam upaya membentuk karakter anak. Maka, hendaknya para orang tua yang memiliki anak balita atau dalam usia sekolah taman kanak-kanak dan sekolah dasar harus meluangkan waktu untuk berkomunikasi langsung atau mendongeng, di samping mengontrol muatan media sosial yang sedang ditonton oleh anak.” Pandangan Kiki ini sungguh patut untuk dijadikan renungan bersama dalam era media sosial ini agar kita semua termasuk anak-anak, bijak dan cerdas dalam menggunakan media sosial.

Selama baktinya sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, Kiki belajar banyak dari orang-orang selama berada dalam lingkungan militer. Hal ini ditulis Kiki dengan begitu mengalir dari halaman 77 hingga halaman 87. Kiki berbagi tentang keteladanan dari para senior dan mantan anak buah yang ia temui selama bertugas di daerah operasi Timor Timur. Cerita yang dituangkan mengisahkan tentang nasionalisme, kepemimpinan, dan kemanusiaan yang selalu diingat dalam tiap langkah sejarah sebagai seorang prajurit.

Mengenai perang gerilya, Kiki menulis (halaman 122), “Secara filosofis ‘perang gerilya’ adalah perangnya rakyat, gerilyawan dengan rakyat ibarat ikan dengan air, mereka tidak akan bisa hidup tanpa dukungan rakyat. Maka, prinsip perang gerilya adalah “perang memperebutkan hati dan pikiran rakyat”. Oleh karenanya, perang gerilya harus bersifat ‘konstruktif’, yaitu membangun kesejahteraan, pendidikan, kesehatan serta semua aspek kehidupan rakyat. Sama sekali tidak boleh menyakiti hati rakyat. Berbeda dengan perang terbuka yang bersifat ‘destruktif’ dengan prinsip hancurkan kekuatan militer, ekonomi, politik musuh.”

Pada bagian bab empat, Menapaki Puncak Karier, mulai dari halaman 146 sampai dengan halaman 221, terdiri dari delapan sub bab. Di sini, Kiki menulis berbagai dinamika dan kiprahnya sebagai tentara yang berjuang dalam berbagai penempatan dan posisi jabatan yang dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua bahwa berbagai daya dan upaya yang kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari maka jadikanlah sebagai cara untuk selalu berbuat yang terbaik bagi kelangsungan bangsa dan negara Indonesia tercinta ini.

Setelah purnatugas, Kiki melakukan berbagai aktivitas dan kegiatan. Dalam dunia literasi, Kiki dikenal aktif menulis yang berkaitan dengan dunia militer. Mengenai hal ini Kiki menulis (halaman 239), “Ternyata kegiatan menulis artikel dan menjadi pembicara dalam seminar, menjadi tantangan yang berkelanjutan hingga kini. Sering kali setelah jadi pembicara di satu tempat, kemudian ada permintaan dari peserta seminar atau bahkan narasumber lain untuk jadi pembicara dalam seminar yang akan diselenggarakannya. Namun demikian, saya suka untuk menghadapinya, karena menjadi suatu tantangan yang membuat saya terpaksa harus banyak belajar, membaca, mencari referensi, sehingga manfaatnya sangat besar bagi saya pribadi, bisa menambah pengetahuan, wawasan, dan memperluas jaringan.”

Dalam kehidupan yang telah dijalani, Kiki menulis (halaman 281), “Dalam konteks ini saya mengamalkan prinsip hidup ‘belajar adalah proses tanpa akhir, never ending process’. ‘Hari ini harus lebih baik daripada kemarin, besok harus lebih baik dari hari ini’. Prinsip hidup lain yang saya amalkan sejak muda adalah pepatah ayah saya bahwa: harus lebih banyak mendengar daripada bicara, dengan demikian kita akan banyak menyerap pelajaran. Sebaliknya, banyak bicara mengandung risiko keseleo lidah. Selain itu, orang lain menjadi tahu siapa kita (baik atau buruknya). Kalau kita memiliki hal yang baik, biarkan orang lain yang bercerita, jangan sekali-kali menceritakan kebaikan atau kelebihan diri sendiri, karena hal itu merupakan bagian dari kesombongan.” Suatu prinsip hidup dari Kiki yang patut kita renungkan bersama dalam menjalani dan menghayati kehidupan agar berguna bagi kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh berbagai kalangan masyarakat Indonesia khususnya para orang tua dan generasi muda Indonesia. Dari buku ini kita mendapatkan berbagai kisah yang penuh dinamika dan romantika sejarah dalam dunia militer, bisa kita dijadikan motivasi dan pelajaran penting dalam menatap masa depan Indonesia berdasarkan berbagai kapasitas dan berbagai keunikan yang kita miliki untuk selalu memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara Indonesia. Teruslah berjuang dan berbakti bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga salvo terakhir! Salam perjuangan dan salam merdeka!

Jimmy Frismandana Kudo
Guru PPKN SMA Darma Yudha, Pekanbaru
frismandana@yahoo.co.id

 

 

 

Comments (0)
Add Comment