Gelombang Sajak Pesisir Mariati Atkah: oleh Amelia Priscillawati

Judul                : Selama Laut Masih Bergelombang
Pengarang    : Mariati Atkah
Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2020

“Karena kata tak cukup buat berkata” (Toto Sudarto Bachtiar)

Mariati Atkah seorang penulis asli Barru Sulawesi Selatan menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Selama Laut Masih Bergelombang pada tahun 2020. Buku puisi yang memuat 50 puisi ini terdiri dari dua bagian yaitu gelombang satu dan gelombang dua. Adapun tema yang di usung penulis sebagian besar berkaitan erat dengan pesisir. Pada ulasan kali ini saya akan membahas dua sajak pesisir Mariati Atkah. Apakah sajak pesisir Mariati Atkah hanya mampu merangkum keindahan laut melalui pilihan diksi and ornamen bunyi? Apakah sajak pesisir Mariati Atkah hanya mampu memotret cantiknya langit senja di daerah pesisir timur?

Sajak pesisir, Gelombang dan Luka

Sejarah sajak pesisir tentu tidak lepas dari perkembangan sastra maritim. Dimulai dari penyebaran agama Islam di daerah pelabuhan yang menggunakan mantra, sajak pesisir terus berkembang menjadi alat penyebaran agama Islam dari Jawa Utara hingga Sulawesi Tenggara. Sastra lisan yang telah dilakukan pun masih membekas dalam komunitas masyarakat pesisir. Uniawati dalam artikel yang berjudul Kedudukan Sastra Pesisir yang di terbitkan di Kendari Pos 2009 mengatakan dongeng tentang Putri Salma dan tenggelamnya Putri Sultan Johor masih tergiang dalam komunitas masyarakat pesisir demikian juga puisi dan syair. Puisi pun terus berkembang menjadi sajak yang sudah tidak terikat oleh beberapa aturan seperti jumlah kata dan bentuk bunyi.

Puisi kontemporer yang bertemakan pesisir atau dapat disebut sajak pesisir, sebenarnya sudah mendapat tempat di hati penyair dan pembaca sejak pujangga baru. HB Jassin dalam buku Pujangga Baru Prosa dan Puisi mengelompokan puisi Sutan Takdir Alisjahbana yang berjudul Menuju Laut pada angkatan pujangga baru. Keindahan alam di pesisir memang patut menjadi salah satu ornamen manis untuk dijadikan tema sajak pesisir tapi tidak halnya dengan Mariati Atkah. Kali ini sajak Mariati Atkah tampil dengan suatu kritik sosial yang seriangkali menjadi bagian dari lupa pada kehidupan masyarakat. Goenawan Muhammad dalam buku Puisi dan Anti puisi mendeskripsikan lupa sebagai sesuatu yang tersembunyi dalam lirik. Sesuatu yang tersembunyi juga bisa berarti ingin ditemukan. Demikian juga Mariati Atkah ingin para pembaca menemukan kritik sosial pada kata gelombang dan luka. Berikut kutipan puisi Mariati Atkah yang berjudul Selama Laut Masih Bergelombang:

1/
Seorang lelaki terkuat pun akan tumbang
saat kesepian menyerang
lengan terentanng lengang
Tanpa ada seorang berpegang

Siapa memilki aku?Raungnya bisu
pada moke di gelas bambu
Tenggak.Tenggak.Tenggak
hingga segala yang ia ingat
tergulung pahit tuak

Yang bergelombang itu
Bukan hanya laut

Pada puisi ini Mariati Atkah menyebutkan kata gelombang sebanyak tiga kali yaitu pada judul ,bait pertama dan bait kedua. Kata gelombang dalam puisi ini berkaitan dengan ombak. Definisi ombak sendiri menurut Wikipedia adalah gelombang dalam. Pada bidang meteorologi, hal ini termasuk fenomena alam di mana gelombang menjalar pada lapisan antar muka antara udara yang hangat dan dingin. Salah satu faktor penyebab adanya ombak adalah angin dan pasang surut laut yang terjadi akibat gaya tarik bulan dan matahari.

Kata Gelombang dalam puisi Mariati Atkah dapat diinterpertasikan menjadi suatu kritik sosial pada kehidupan masyarakat pesisir khususnya nelayan yang menjadi tokoh utama dalam puisi Mariati Atkah ini. Isu-isu kelautan yang terjadi di pesisir timur menjadi topik yang disembunyikan penyair dalam lirik. Isu-isu kelautan seperti kemiskinann kehidupan nelayan dan destructive fishing yang merusak ekositem tentunya seharusnya mendapat perhatian yang khusus dikarenakan belum mendapatkan solusi yang tepat.

Dalam buku puisi dan antipuisi Goenawan juga menyebutkan bahasa puisis bukan hanya sebagai ornamen. Bukan pula ia hanya ciri khas atau kelainan seorang penyair tetapi ia adalah sebuah respon dari kebutuhan agar tiap wacana mempunyai cukup punya ruang. cukup ruang untuk dibahas, didiskusikan sehingga menemukan solusi. Demikian juga Mariati Atkah sebagai seorang penyair yang telah mengikuti Makassar International Writers Festival (MIWF) 2013. Sajak juga mampu menampung kritik dan aspirasi agar menjadi suatu perhatian untuk menemukan solusi yang tepat.

Selain kata gelombang Mariati Atkah juga menggunakan kata luka. Berikat kutipan bait terakhir dari puisi Selama Laut Masih Bergelombang:

Selama laut masih bergelombang
dan moke masih terus dituang
mendampingi kunyahan sirih pinang
gelas–gelas akan tetap menengadah
mengharap jatuhnya tetes-tetes baru
melunasi luka-luka

Penyair yang pernah menjadi story teller di program Weaving Stories yang bekerja sama dengan Rumata’s Art Space dengan British Counsils November 2019 ini menyebutkan kata luka sebanyak dua kali sebagai repitisi di bait terakhir. Repitisi yang dilakukan seorang penyair Makassar ini tentu bukan hanya sekedar menyamakan bunyi. Ada arti tersirat pada kata luka di puisi Selama Laut Masih Bergelombang. Secara harafiah, luka berarti cedera yang merusak jaringan tubuh baik pada permukaan kulit, selaput lendir, maupun organ dalam. Tentu luka yang dimaksud dalam puisi Maiati Atkah bukan hanya sekadar luka pada permukaan kulit tetapi luka yang disebabkan kata gelomabng yang sudah di sebutkan di paragraf sebelumnya.

Sapardi dalam buku Sastra: Teori dan Implementasi karya Dra. Sriwahyuningtyas, M.Hum. dan Drs. Wijaya Heru Santoso, M.Pd mengatakan sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium, bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antara masyarakat, masyarakat dengan orang seorang, antar manusia, antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. yang sering menjadi bahan sastra adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat. Demikain juga penyair Mariati Atkah yang berusaha menampilkan, mengingatkan menilai bahkan mengkritisi kehidupan masyarakat pesisir teruatama pesisisr timur Indonesia yang masih hidup dalam kemiskianan dengan salam yang hampir rusak disebabkan oleh destructive fishing.

Kemiskinan, kehidupan yang tak menentu kerusakan alam tentu menimbulkan luka. Puisi Mariati Atkah Selama Laut Masih Bergelombang bukan hanya menyajikankan kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat pesisir timur seperti moke dan sirih pinang tetapi jauh lebih dalam lagi mengenai luka manusia dan luka alam.

Lirik dan Fragmen

Puisi berjudul Kuin untuk El karya Mariati Atkah dapat dikatergorikan sebagai puisi lirik karena mengungkapakan perasaan, emosi dan suasana batin individual penyair secara langsung. Meskipun pada puisi Kuin Untuk El tidak terdapat kata aku, penyair secara gamblang menceritakan pengalaman pribadinya selama hidup di Mabapura. berikut kutipan puisi Kuin Untuk El :

/1/
hidup di Mabapura, selalu dapat kaunikmati
senja warna kesumba, lezat kuah papeda
dan kesat serat pinang
saat berjaga malam malam:
bernda-benda dari sebuah persinggahan

/2/
hidup di Mabapura, kau menjelma cahaya
malam dari langit Jawa sebagaimana nama
yang kaupikul ke mana-mana
menjerat lelaki Halmahera:
berdua menjadi ikan dalam jala

Puisi lirik di atas mengandung ode atau sanjungan, Penulis berusaha mendeskripsikan apa saja yang membahagiakan dan pengalaman hidup di Mabapura. Dalam puisi ini Mariati Atkah juga menghadirkan fragmen dalam puisinya. Menurut Goenawan Muhammad dalam buku Puisi dan Antipuisi fragmen adalah potongan-potongan pendek pengalaman, pengamatan dan pemikiran yang tak cukup memberi kesempatan buat argumentasi yang jauh dan dalam. Meskipun pendek bukan berarti tanpa makna. Justru melalui fragmen ini pembaca diajak menemukan pengalaman baru dari diksi yang di suguhkan. Memang diksi yang digunakan sudah seringkali dijumpai pembaca pada karya puisi lainnya tetapi pembaca menemukan diksi secara pribadi disinilah proses penemuan pengalaman yang baru atau bisa juga tafsir dan interpertasi yang baru. Dari puisi ini menunjukan fragmen adalah cara penulis bernegoisasi dengan pembaca untuk menemukan pengalaman baru melalui kata. Dua kata kerja menemui dan menemukan meski berasal dari kata dasar yang sama yaitu temu, mempunyai arti yang berbeda. Menemui berarti subjek secara pasif bertemu dengan objek. Kata kerja menemukan berarti subjek bergerak secara aktif menuju ke ke dalam arti kata. Dengan kata lain fragmen-fragmen yang disuguhkan dalam puisi Kuin Untuk El ini mampu membuat pembaca mempunyai pengalamn baru dengan imajinasi mereka maupun interepertasi dan tafsir.

Fragmen juga berhubungan dengan tindakan dan hasil dari tindakan. Dalam pusis berjudul Kuin Untuk El penulis Mariati Atkah selain mengambarkan kegiatan sehari hari yang berhubungan dengan makanan lokal pada bait keempat penulis berusaha mengagambarkan peneriamaan takdir dalam hidup. Berikut kutipan bait keempat pada puisi Kuin Untuk El:

/4/
segala ingin segala angan bersahutan
sebagai ombak kapada karang
berusaha saling meniadakan
namun tak ada kekuatan untuk menyingkirkan
apa yang telah datang an tak mau pulang

Pada bait ini penulis menggunakan majas personifikasi ombak dan karang. karang yang tampaknya hanya diam seolah tidak melakukan apa-apa sedangkan ombak selalu datang dengan kekuatan yang berbeda-beda sesuai dengan pasang surutnya air laut. Karang digambarkan sebagai manusia yang hanya dapat menerima takdir dan kesempatan. Yang tidak mampu menolak apa yang datang dan pergi dalam hidup. tetapi tetap teguh dan kuat dalam pendiriannya. Fragmen bukan hanya berkaitan dengan sesautu yang bergerak tetapi sesuatu yang diam pun dapat dikatakan sebagai sebuah fragmen karna mendatangkan peristiwa. Diam adalah tindakan tindakan pasti mendatangkan sebuah peristiwa. Meski fragmen hanya gamabaran secuil peristiwa bukanlah yang detail fragmen memberikan kesempatan kepada para pembaca untuk sejenak berpikir dan menginterpretasi makna puisi.

Dari sekian banyak kelebihan dari buku puisi Selama Laut Masih Bergelombang tentu ada beberapa catatan yang bisa menjadi bahan pertimbangan untuk buku ini menjadi lebih baik di cetaklkan berikutnya, yaitu: adanya terjemahan yang lebih lengkap dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia, tampilan hard cover yang lebih menawan dan juga ukuran font huruf yang lebih pas untuk dibaca. Pada akhirnya saya mengutip kalimat dari Goenawan Muhammad bahwa kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca sebuah kebahagiaan. kebahagiaan yang tentunya mendatangkan kehidupan yang lebih baik. Selamat membaca.

Referensi

Atkah, Mariati. Selama Laut Masih Bergelombang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2020.
Mohammad Goenawan, Puisi dan Antipuisi. Jakarta: PT Grafitti, 2011.
Wahyuningtyas, Sri dan Santosa, Heru Wijaya. SASTRA:Teori dan Implementasi. Surakarta: Yama Pustaka, 2011.
Jassin, H.B. Pujangga Baru Prosa Dan Puisi. Jakarta: CV Haji Masagung.1987

Amelia Priscillawati lahir di Malang, 12 September 1982. Menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul Catatan-Catatan Perjalanan tahun 2025 oleh Penerbit Hyang Pustaka. Resensinya pernah dimuat dalam Tirastime.com berjudul Sajak Hibrida Goenawan Mohammad tahun 2024 dan Imaji Biblikal Dalam Tanda Kurban Yang dinamakakan cinta yang di muat di Buletin Aletheia Ledalero tahun 2026. Puisinya ikut serta dalam beberapa antologi puisi bersama salah satunya buku antologi puisi bersama Langkah Onak tahun 2025 yang diterbikan olah Hyang Pustaka. Berdomisisli di Kota Batu Jawa Timur bersama suami dan kedua putrinya. Lulusan magister pendidikan Universitas Islam Malang ini berprofesi sebagai guru di SMP Imanuel Batu dan tentor Bahasa Inggris di Bimbel Vektor Batu juga translator dan proof reader di Mitra Translator.
Nomor hp/wa 089510202287
IG: amel_mariono
FB :Amelia Priskilawati

Comments (0)
Add Comment