Penyair Palestina dan Pasukan Komando: Catatan Shafwan Hadi Umry

Penyair menyuarakan kata-kata sebagai alat ungkap yang paling tangguh yang nilainya sama dengan dua puluh pasukan komando” (Moshe Dayan)

Pengarang sebagai kaum intelektual harus melibatkan dirinya dalam masyarakat. Barangkali baru Serreslah yang memulai penentangan arus pendapat di atas ketika beliau mengajak kaum intelektual untuk kembali ke “menara gading”. Michael Serres seorang filsuf Perancis merupakan figur yang menarik perhatian dewasa ini. Meski ia mengimbau kaum intelektual kembali ke menara gadingnya yang luput dari masyarakat ramai, tapi ia tidak mengecam keterlibatan intelektual dalam momen yang diperlukan untuk menunjukkan partisipasinya secara aktif.

Pergulatan penyair dengan masyarakatnya tidak ditentukan dalam gelanggang perang ketika kalah dan menang sering ditentukan. Namun pertarungan yang sesungguhnya dilakukan di tempat lain. Suatu dunia yang lapar dan dingin serta penderitaan dan kemasgulan. Seni, pada hakikatnya mempersoalkan siapa yang benar dan salah dan bukan meributkan siapa yang menang dan kalah. Inilah agaknya yang dimaksud Serres bahwa menara gading tersebut adalah suatu tempat yang dingin, lapar, dan sunyi. Suatu dunia yang mandiri dari keterlibatan persaingan politik dan kekuasaan. Dalam melakukan perantauan di berbagai dimensi kemanusiaan itu, penyair atau pengarang dapat melihat dengan lensanya yang tajam tentang segala kebohongan dan kekerasan para penguasa.

Salah satu jalan yang dapat diperbuat penyair adalah menunjukkan partisipasinya dalam menjuarakan kata-kata sebagai alat ungkap yang paling tangguh yang “nilainya sama dengan duapuluh pasukan komando” seperti dikatakan Moshe payan tentang puisi penyair Palestina Fadwa Tuqan (Horison, 1982). Penyair Palestina ini telah menulis di bawah tanah tentang kekejaman kaum zionis Israel. Hujan bom dan artileri di Libanon yang menempatkan Israel sebagai satu-satunya pemerintah yang memperoleh mendali dalam melanggar keputusan-keputusan PBB.

Refleksi solidaritas sejarah telah tumbuh dimana-mana. Kemanusiaan pun tampil dalam dimensi yang kaya tentang humanisme universal. Sajak-sajak Palestina telah berbicara dari Jagat yang terbakar dan merupakan sumbu yang menyala di segenap penjuru dunia. Mitos tentang “Barat dan Timur” dalam analisis Rudyad Kippling ternyata tinggal nostalgia. Sabab “Barat dan Timur” dalam analsis Kippling ternyata tinggal nostalgia. Sebab “Barat dan Timur” sudah tidak ada. Yang ada hanya sebuah dunia yang bersatu di sebuah lembah dingin dengan bencana masih tergantung di atasnya.

Seperti sajak Ali Achmad Sai’d penyair Palestina yang mendendangkan tentang “Barat dan Timur”.

Ada sesuatu yang membentang sepanjang jalan kuburan sejarah
Sesuatu yang diperindah selain terpelihara
Memikul anaknya yang diracuni minyak
Dengan seorang pedagang berbisa menyanyi lagu mengerikan
Di situ Timur serupa bocah

Yang mengemis dan berteriak minta tolong
Dengan barat sebagai tuannya yang tak pernah bersalah
Peta telah berubah
Seluruh dunia adalah pijaran api
Dan dalam abunya
Timur dan Barat berkumpul
Satu dalam liang kuburan (Terj. Abdul Hadi WM).

Penyair-penyair Palestina dengan semangat solidaritas telah menggugat bentuk-bentuk kezaliman dan penindasan. Dengarlah madah Al Jayusi tentang “ratapan para syuhada”.

Kutahu mereka meninggal “demi tanah air yang mungkin hidup”
Tanah air kami, bumi si terbunuh, satu medan direndam darah
Kutahu kemerdekaan itu merah, dan inilah nilainya

Ingatlah,
Duhai sungai kekayaan yang melimpah subur
Kau, duhai bumi zamrud dan mutiara,
Ruang lombong piruz mengalir di palung
Dan mutiara sínar bulan mandi dalam kedinginan malam
Kau duhai timbunan masurai kuning
Kau, duhai air terjun berlian di cahaya pagi

Dan ingatlah,
Sungai darah sungai paling berharga
Mengalir dari urat darah anak-anakmu generasi pengorbanan
(Terj. Rizi S.S).

Penyair Jibra Ibrahim Jahra secara berhasil telah menampilkan sajak visual yang menggambarkan penjagalan zonis sebagai prototype seorang Frankenstein yang menciptakan momok kemanusiaan;

Mereka lunyah-lunyah padang kembang di lereng
Perbaikan disekitar sini, mereka ledukkan rumah
Demi rumah sebelum sempat berbenah
Di antara batu berseruk potongan jenazah, di depan kami
Terbuka gulungan padang pasir dan lembah yang mengeliat
Kelaparan, dan bayang-bayang biru yang berantakan jadi
serpihan duri merah
Terbungkuk sepanjang onggokan jenazah
Yang terlantar jadi makanan tengah hari burung elang dan gagak
(terj. Taufiq Ismail).

Barangkali seorang Enstein terlanjur menciptakan kreativitas intelektual yang agung dan sekaligus menjadi pemurung. Para pemilik bom atom itu kini tidak lagi untuk memberantas dan memerangi kuman sebagai musuh manusia. Mereka saling membinasakan sesamanya. Dengan nada masgul Enstein berkata, “Dalam peperangan ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjagal. Mengapa ilmu yang amat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit sekali kepada kita?” (1983: 35) Namun, suara Einstein itu kini tenggelam dalam ledakan bom penderitaan.

Palestina tetap dibakar peperangan dan kekejaman yang berkepanjangan. Tak ada yang harus ditempuh para pejuang dan penyair Palestina selain berkelahi terus-menerus dengan hidup yang semakin acuh tak acuh dengan keadilan dan perdamaian. Seperti yang ditulis penyair Al-Qassem;

Jika kau / padamkan mataku / Jahit bibirku / maki nafasku / Belenggu dukaku / Palsukan uangku / Cabut senyum anakku / Diriku tembok seribu / Pakukan mataku disitu / jika begitu / kita bakal berkeluai / sehabis-habis / kelahi.
Demikianlah mereka terus berkelahi sampai saat ini.

Comments (0)
Add Comment