Puisi Cevi Whiesa Manunggaling Hurip

SUARA HARI INI


Hari ini semakin sulit kutemukan dirimu

Kau sibuk terombang-ambing ini dan itu

Orang-orang bak ikan di kolam kekeringan

Hari ini baik atau jahat terkesan sama

Sekalipun mati jenazahnya tetap dicurigai

Sebagian menghindar, segelintir dilema

Hari ini bab mati pun sangat sulit

Hilang harapan ingin pergi secara wajar

Perpisahan adalah ihwal mahal harganya

Hari ini kita adalah sebatang pohon penyejuk

Yang tiba-tiba saja terseret lahar panas

Dari letusan gunung api yang murka

Semua sengsara tak tau harus berbuat apa

Ingin pergi pun tak bisa, pasrah terisolasi

Hanya kelabakan antara hidup atau mati

Mengapa kita harus selalu menjadi korban

Dari lahirnya kebijaksanaan-kebijaksanaan

Dari hembus angin kentut peraturan-peraturan

Zaman yang telah terkubur waktu

Masa lalu yang dianggap kemunduran

Naik ke permukaan menjadi kerinduan

Banyak yang mengantri untuk kembali

Setelah dulu dipaksa hilang dalam ingatan

Kini diimpi-impikan dengan segudang harap

Kembali merasakan di mana setiap detak-detik

Waktu adalah kehidupan bebas tanpa jajahan

Tangan peraturan-peraturan membingungkan

Atau pun semacam pelebur rasa kemanusiaan

Jenazah, orang sakit, atau bersin harus dibiarkan

Aku ingin berjumpa denganmu, keramaian

2021

***

DI SEPANJANG JALAN MALAM

Di sepanjang jalan malam berderet kuburan dahaga

Para penggali kubur berparas cantik dan rupawan

Mereka tak tau dan tak ingin tau perihal negeri

Hanya mengurus persoalan esok dan lusa saja

Di sepanjang jalan malam pemungut kehidupan

Sesekali melintas bersama anaknya yang dekil

Terselip di antara kardus-kardus dan botol plastik

Harapan di kemudian hari perutnya tetap kenyang

Di sepanjang jalan malam kloneng beca berbunyi

Sebatang rokok, wajah lesu, dan sebungkus nasi

Bukti perjalanan hari, berjihad tanpa kenal letih

Menempuh jalanan asa dan persimpangan mimpi

Di sepanjang malam aku kalut oleh kehidupan

Saat kurasakan embun tak selembut dahulu

Sepanjang kumelangkah elegi setia membuntuti

Akhirnya aku terpasung; menuju rumah-Mu liku

2021

***

LUKISAN HARI

Di dalam dada, aksara tumbuh memanjang

Bak jalan menuju rumahmu; berbatu dan liku

Seperti garis kanvas yang dicoretkan hari kemarin

Setelah membaca surat kabar penutupan ini dan itu

Keluarga menjadi musuh di medan perang

Senyum tetangga setara tusukan pisau tajam

Papan iklan jalanan menjadi jeruji di lapas neraka

Oksigen menjelma gas beracun mematikan

2021

***

Cevi Whiesa Manunggaling Hurip lahir dan tinggal di Tasikmalaya. Puisinya dimuat di berbagai media online. Kumpulan puisi pertamanya berjudul Setia Ialah Farhatun terbit tahun 2020 (langgam pustaka). Selain menulis, aktif sebagai dalang wayang golek, penyiar di Radio Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, aktif di beberapa sanggar seni, organisasi, dan taman baca masyarakat.

puisisastra
Comments (0)
Add Comment