Berhadapan dengan sejumlah teks pada karya sastra kita berhadapan dengan ayat-ayat atau tanda kebesaran Tuhan. Kita dapat membaca alam dan sekaligus mencoba membaca lingkungan alam yang mungkin telah tak berdaya menghadapi kerasukan manusia terhadap alam terutama hutan.
Dalam Undang-Undang Lingkungan Hidup (No. 23, 1997) mengisyaratkan bahwa (1) setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat; (2) setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan hidup; dan (3) setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sebaliknya, di samping memiliki hak, setiap orang juga mempunyai tanggung jawab, yaitu (1) memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulang pencemaran dan perusakan lingkungan hidup serta (2) memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan hidup dari usaha dan atau kegiatan seseorang.
Kita dapat menunjuk ikhwal Kalimantan yang setiap saat pohon-pohonnya bertumbangan karena HPH setelah dibagi-bagi kepada kaum pemodal yang uangnya dipinjam dari bank Negara (Abd. Rozak, 2007). Berikut ini kita akan menurunkan sejumlah sajak penyair yang peduli terhadap kelestarian hutan.
Penyair Sapardi Djoko Damono membaca kenyataan tentang perusakan hutan dan mewujudkannya dalam teks sastra sebagai hal yang mencerdaskan untuk memelihara ekosistem hutan Nusantara.
Tentang Pohon, 1
Pohon, yang tak pernah ingin
Mengembara yang setia membasuh
Butir demi butir udara telah jatuh cinta kepada angin,
Yang rumahnya di angkasa yang kepak sayapnya selalu
Penuh burung gereja
1998
Tentang Pohon, 2
Seandainya pohon bisa terbang atau berlari
la takkan menderita karena kapak atau gergaji (Jalaluddin Rumi: 604-672 H)
Seandainya pohon itu kita relakan saja
Dalam upacara korban kapak dan
Gergaji
Di teduh rimbun mana pula kita
Telah menjelma manusia kembali
1998
Tentang Pohon, 3
Gergaji tak pernah berjanji kepada angin
Untuk mengembalikan pohon untuk burung
1998
Pada teks sajak Sapardi terbaca kutipan dari Jalaluddin Rumi yang mengilhami kelahiran sajak Sapardi. Pengutipan itu memunculkan suatu kenyataan budaya untuk melihat kenyataan alam.
Apa arti pohon bagi mahluk hidup terutama bagi manusia. Pohon tak pernah ingin mengembara dan setia membasuh butir demi butir udara. Paparan puitis ini menunjukkan fungsi pohon yang kehadirannya perlu untuk kehidupan manusia. Kita memahami bahwa pohon membuat lingkungan menjadi sehat.
Akar-akar pohon yang berada di kedalaman tanah dapat menyimpan air, menahan air untuk tetap berada di dalam tanah Pohon itu ‘jatuh cinta kepada angin dan angin itu sendiri ‘kepak sayapnya selalu penuh burung gereja’ juga menunjukkan manfaat pohon bagi kehidupan di bumi.
Pada sajak ke-2 terbaca situasi lain dengan pohon dalam bentuk andaian. Seperti kata Rumi, seandainya pohon bisa terbang atau berlari, ia takkan menderita karena kapak atag gergaji kapak dan gergaji adalah ‘musuh’ kapak dan gergaji dapat juga berkembang menjadi lambang perusak pohon itu yang dalam teknologi modern alat itu dapat memusnahkan pohonan dalam tempo yang singkat.
Dengan mengutip kata-kata Jalaluddin Rumi, Sapardi mempertanyakan nasib kita sebagai manusia seandainya “pohon itu kita relakan saja / dalam upacara korban kapak dan gergaji merelakan pohon dalam “upacara korban kapak dan gergaji mengandung arti secara kasar adalah melakukan penebangar pohon yang dalam skala besar menimbulkan penggundulan hutan.
Penyair ketiga dalam pembicaraan ini yakni Rusli A Malem, (1991:23):
Jangan berikan kepadaku kapak buat
Menetak beri aku air atau sesuatu yang mengalir……..
Siapa mengapak hutan jadi gurun
Beri aku sepantun hening………..
Pada sajak Sapardi maupun Jalaluddin Rumi serta Rusli A. Malem di atas kita telah menyaksikan illegal loging dimana-mana di tanah air setelah legal logging menggundulkan hutan Kalimantan dan Papua, dengan menerima kenyataan “Gergaji tak pernah berjanji / kepada angin / untuk mengembalikan pohon kepada burung.” “Maka benarlah kata sang penyair” di teduh rimbun mana pula kita / bisa menjelma manusia kembali?”
Sang penyair mampu membaca alam dan ini termasuk Sastra yang mencerdaskan. “Membaca yang mencerdaskan”, demikian kata Abd. Rozak adalah “membaca yang dapat membuka mata batin kita kepada hal ikhwal yang mendekatkan kita pada nilai-nilai kehidupan.”
Pada sajak terakhir “Burung Hitam” Karya WS Rendra menawarkan keindahan sajak sebagai pembayangan yang maha elok tercermin dalam alam lingkungan yang hanyut dalam getaran estetik sang penyair (1997: 27).
Burung hitam manis dari hatiku
Betapa cekatan dan rindu sepi syahdu
Burung hitam adalah buah pepohonan
Burung hitam di dada adalah bebungaan
la minum pada kali yang disayang.
la tidur di daunan yang bergoyang
Demikian beberapa sajak yang memiliki aplikasi sastra dan memberi sesuatu misi dan pesan yang mencerdaskan buat masyarakat dan negaranya.