Pada hari yang bersejarah ini
Aku ingin menulis surat buatmu, sang guru
yang selama ini telah memberikan cahaya
pada ribuan anak negeri
ketika nyanyian kegelapan masih saja berbunyi
dan senandung kemiskinan masih terdengar di sanasini
akupun ingin mengajukan pertanyaan pada sang guru
masih jauhkan pelayaran ini hingga ke pelabuhan tujuan ?
sementara dengan usia, kita tidak bisa berkompromi
usia memang sebuah rahasia dari sang empunya
dan kita pun hanya berharap agar tetap berada di jalannya
jalan yang lurus seperti yang telah dilalui oleh banyak para guru
aku mencatat kehadiranmu yang menyertai adanya negeri ini
negeri Riau negeri yang penuh peradaban dan keilmuan
negeri penuh kejayaan
penuh kekayaan
negeri yang sampai kini
masih juga menyimpan seribu satu masalah kehidupan
dan kini sang guru berada di sebuah negeri
yang kemerdekaannya telah mencapai usia 80 tahun
yang seharusnya negeri ini telah dapat berdiri sendiri
yang seharusnya kekayaan alamnya untuk rakyatnya sendiri
yang seharusnya yang kaya tidak menipu kaum papa
yang seharusnya sang lurah tidak bermain mata dengan pengusaha
aku tulis surat ini, ketika sang guru sedang merenung di kilometer 70
aku ingat ketika sang guru, menuliskan kembali sebuah kata-kata mutiara
kata-kata mutiara yang disabdakan oleh sejumlah orang patut negeri ini
pada sebuah kelas, di depan puluhan mahasiswa
“kalaulah kalian tidak bersedia berkeringat dalam membaca buku
Maka bersiaplah kalian akan menderita dan berkeringat
selepas kalian keluar dari sekolah ini ”
kata-kata mutiara itu telah Sang Guru teriakkan sejak tahun-tahun 1980-an
ketika sang guru berumur belum mencapai 30 tahunan
sebuah usia manusia yang penuh gelora
gelora untuk mencapai kemajuan dan kegemilangan
akupun masih ingat
ketika Sang Guru bersedia untuk memberikan sambutan perpisahan
dengan mengutip sebuah puisi
puisi yang ditulis oleh penyair besar Taufiq Ismail
judulnya Kupu-kupu di Dalam Buku
satu bait puisi itu bunyinya begini
Ketika aku duduk di sebuah kantin, di sebuah gazebo kampus, di masjid yang berada ditengah-tengah kompleks pendidikan, di perpustakaan yang rak-rak bukunya sangat panjang, menyimpan ratusan ribu buku, kulihat anak-anak muda dan dosen-dosennya juga, sibuk membaca buku dan menuliskan catatan…….. dan dan dan AKU BERTANYA DI NEGERI MANA GERANGAN AKU SEKARANG ?
Sang guru kulihat terdiam
Karena puisi yang ia bacakan itu terlalu menyindir
Menyindir kemana-mana
Adakah kita semua yang ada disini merasakan hal ini ?
Baiklah sang guru
Mendekati 50 tahun
Ya mendekati setengah abad perjalananmu di dunia pendidikan
Tugas dan pengabdianmu telah sempurna
Bahkan telah melebihi dari yang seharusnya
Semuanya telah dicacat dengan tinta emas
Tak seorangpun yang meragukannya
Dari jauh, doa murid-muridmu juga yang akan mengiringimu
Demi kesehatan dan keihklasanmu
Dan dari doa-doa mereka itulah
yang insya Allah tak kan pernah berhenti mengalir
Amien
Pekanbaru, Januari 2026
*) kutipan puisi Taufiq Ismail ini telah dilakukan sedikit perubahan untuk menyesuaikan dengan situasi terkini.
**) Husnu Abadi adalah dosen Fakultas Hukum UIR sejak 1986. Menulis sejumlah kumpulan puisi antara lain Lautan Kabut (1998), Lautan Melaka (2002), Lautan Zikir (2004), Lautan Taj Mahal (2021), Lautan Rempang (2024). Penerima Sagang Award (2015), Makrifat Marjani Award (APHTN, 2022) dan Badan Bahasa Award (2025).